SURYA.co.id – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah mantan Menteri Luar Negeri dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Pertemuan ini menarik perhatian karena melibatkan tokoh-tokoh diplomasi yang pernah memainkan peran penting dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Salah satu sosok yang hadir adalah Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri periode 2009–2014.
Dikutip SURYA.co.id dari pantauan Tribunnews, Marty terlihat memasuki kompleks Istana melalui pintu pilar di Jalan Veteran, Jakarta Pusat, sekitar pukul 14.18 WIB.
Ia mengenakan batik lengan panjang, tampil sederhana namun berwibawa.
Kedatangan Marty menjadi sorotan tersendiri.
Di tengah deretan kendaraan modern yang digunakan para mantan pejabat lain, Marty justru datang dengan mobil klasik Mercedes-Benz Tiger tahun 1980 berwarna cokelat, berpelat nomor B 1233 SES.
Pilihan kendaraan lawas itu langsung menarik perhatian awak media yang meliput di lokasi.
Saat ditanya soal agenda pertemuan, Marty menegaskan bahwa kehadirannya semata-mata untuk memenuhi undangan dari Presiden Prabowo Subianto.
"Saya tidak tahu sama dengan anda Anda. Saya hanya memenuhi undangan," ujar Marty.
Marty tidak memberikan jawaban pasti ketika ditanya apakah pertemuan tersebut akan membahas rencana keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP).
Ia memilih bersikap hati-hati dan menyatakan akan mengikuti dinamika pembahasan yang berlangsung dalam pertemuan tersebut.
"Saya akan mengikuti perkembangan yang ada," katanya.
Meski demikian, Marty mengungkapkan bahwa dirinya telah memiliki pandangan pribadi terkait rencana Indonesia bergabung dengan organisasi yang disebut-sebut merupakan inisiatif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Namun, ia menegaskan tidak ingin terburu-buru menyampaikan sikap sebelum mendengar penjelasan resmi dari pemerintah.
"Saya ada pandangan sendiri, tapi saya ingin mendengar lagi pandangan dan penjelasan nanti di dalam," katanya.
Dilansir dari Wikipedia, Dr. (H.C.) Rd. Mohammad Marty Muliana Natalegawa, B.Sc., M.Phil., Ph.D. lahir 22 Maret 1963.
Ia adalah seorang diplomat asal Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia di Kabinet Indonesia Bersatu II pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono sejak 20 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014.
Sebelumnya, ia merupakan Duta Besar Indonesia untuk Britania dan Irlandia dari 2005 sampai 2007.
Marty telah mengenal dunia internasional sejak umur 9 tahun.
Keluarganya menyekolahkan dia ke Singapura setelah lulus dari SD Kris di Jakarta pada 1974.
Di Singapura, Marty bersekolah di Singapore International School (1974).[butuh rujukan] Namun, kemudian pindah ke sekolah asrama setingkat SMP Ellesmere College dan Concord College, Inggris pada tahun 1981.
Marty meneruskan sekolahnya pada tingkat SMP hingga master di Inggris.[3] Ia menyelesaikan kuliah dan meraih gelar BSc, Honours, di bidang hubungan internasional di London School of Economics and Political Science, University of London tahun 1984.[butuh rujukan] Kemudian Ia meraih Master of Philosophy in International Relations, Corpus Christi College, Cambridge University tahun 1985.
Gelar doktor ia dapatkan di luar Inggris.[5] Marty meraih gelar Doctor on Philosophy in International Relations dari Australian National University, Australia pada 1993.
Pada Juli 2013, Marty bersama Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, dianugerahi gelar doktor honoris causa dalam bidang hubungan internasional oleh Universitas Macquarie, Sydney, Australia.
Marty mengawali kariernya di departemen luar negeri (Kementrian Luar Negeri) pada 1986.
Marty menjadi Staf Badan Litbang Departemen Luar Negeri pada 1986–1990.
Karier Marty terus menanjak sejak awal 2000, tepatnya ketika ia ditunjuk sebagai juru bicara Departemen Luar Negeri periode 2002–2005.
Pada periode selanjutnya (11 November 2005–5 September 2007), Marty dilantik menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Inggris Raya dan Republik Irlandia, menggantikan Juwono Sudarsono yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Selanjutnya, Marty menjabat sebagai Duta Besar RI untuk PBB (5 September 2007–22 Oktober 2009).[10] Pada November, Marty sukses berkiprah di dunia internasional dengan menjadi salah satu orang Indonesia yang pernah menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB.[3]
Pada 22 Oktober 2009, Marty dilantik menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II.
Ia merupakan Menteri Luar negeri RI yang ke-17, menggantikan Dr. Nur Hassan Wirajuda.
Marty pernah menjabat sebagai kepala delegasi negara untuk sejumlah konferensi internasional, internaliansi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Gerakan Non-Blok, Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan ASEAN.
Ia pun pernah menjadi delegasi Indonesia untuk Dewan Keamanan PBB dan dialog trilateral di Timor Timur serta Direktur Jenderal untuk Kerja sama ASEAN (2003–2005).[1]
Pada April 2015, ia dipilih menjadi anggota panel tingkat tinggi PBB dalam 'Respons Global Terhadap Krisis Kesehatan'. Tim panel itu terdiri dari enam orang dan diketuai oleh Presiden Republik Tanzania Jakaya Mrisho Kikwete.
Marty dilahirkan di Bandung, Jawa barat, ia adalah anak termuda dari pasangan Sonson Natalegawa dan Siti Komariyah Natalegawa.
Meskipun ia dilahirkan di Bandung, tetapi ia tidak menghabiskan masa kecil di Bandung, Ayahnya saat itu bekerja sebagai karyawan Bank Indonesia, mendapat tugas ke Tokyo, Jepang. Ia pun ikut ke sana hingga tiga tahun dan setelah bertugas di Jepang, ia menetap di Jakarta.
Dari pernikahannya dengan Sranya Bamrungphong (dari Thailand), dia dikaruniai tiga orang anak, yakni Raden Siti Annisa Nadia Natalegawa, Raden Mohammad Anantha Prasetya Natalegawa, dan Raden Mohammad Andreyka Ariif Natalegawa.