Jualan Bunga Tabur di Pinggir Jalan Lawu Karanganyar, Pasutri Ini Bisa Kuliahkan Anak hingga Sarjana
February 05, 2026 06:27 PM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak pelaku usaha kecil, pasangan suami istri asal Dusun Papahan RT 08, RW 05, Desa Papahan, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, justru mampu bertahan bahkan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dari hasil berjualan bunga tabur di pinggir Jalan Lawu.

Pasangan tersebut adalah Sarwono (61) dan Tjahjadi Widyawati (55) atau akrab disapa Ipung.

Selama bertahun-tahun, mereka mengandalkan lapak sederhana bernama “Sekar Jaya” sebagai sumber penghidupan keluarga.

Saat ditemui TribunSolo.com, Sarwono yang merupakan pensiunan pengawas SPBU mengungkapkan, sebelum menekuni usaha bunga tabur, mereka sempat membuka warung makan kecil di pinggir jalan pada 2010.

“Saat itu kami buka warung kecil dulu, karena saat itu lahan di depan rumah saya jadi rebutan buat jualan bunga, namun tahun 2019 saya putuskan untuk buka lapak bunga tabur juga,” kata Sarwono, Kamis (5/2/2025).

LARIS MANIS - Tjahjadi Widyawati (55) alias Ipung, saat menata dagangannya yakni bunga tabur di lapaknya di Tasikmadu, Karanganyar, Kamis (5/2/2026). Meski permintaan meningkat, Ipung menghadapi kenyataan bahwa harga bunga dari pemasok juga naik dua kali lipat.
LARIS MANIS - Tjahjadi Widyawati (55) alias Ipung, saat menata dagangannya yakni bunga tabur di lapaknya di Tasikmadu, Karanganyar, Kamis (5/2/2026). Meski permintaan meningkat, Ipung menghadapi kenyataan bahwa harga bunga dari pemasok juga naik dua kali lipat. (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

Selama beberapa waktu, warung makan dan lapak bunga berjalan bersamaan.

Namun pada 2020, mereka memutuskan fokus pada penjualan bunga tabur setelah usaha warung makan dinilai tidak mampu menutup modal.

“Saya tutup warung saya tidak bisa nutup modal untuk jualan makanan dan kami fokuskan untuk lanjutkan jual bunga tabur di sini,” kata dia.

Sejak saat itu, Sarwono dan Ipung berjualan bunga tabur bersama setiap hari.

Beraktivitas Sejak Subuh

Mereka mulai beraktivitas sejak subuh sekitar pukul 04.00 WIB hingga menjelang Maghrib pukul 18.00 WIB.

Bahkan setelah lapak tutup, mereka masih melayani pembeli pada malam hari jika stok bunga masih tersedia.

Setiap pagi hingga siang, pasangan ini duduk di lapak sederhana di pinggir Jalan Lawu.

Baca juga: Di Balik Laris Manisnya Bunga Tabur di Karanganyar : Harga Bunga dari Pemasok Capai Rp400 Ribu/Kg

Bunga tabur yang mereka jual berasal dari Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, serta Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Bunga-bunga tersebut ditata di atas tampah bambu dan dalam keranjang plastik berisi mawar merah agar menarik perhatian pengguna jalan.

"Bunga-bunga ini saya ambil dari Bandungan Kabupaten Semarang sama Cepogo Boyolali, para pembeli beli mulai Rp 5 ribu sampai Rp 600 ribu," kata dia.

Panen saat Tradisi Nyadran

Sarwono mengungkapkan, pada hari biasa pembeli cenderung sepi, kecuali saat ada warga yang berduka.

Namun saat tradisi nyadran tiba, jumlah pembeli bisa meningkat hingga 25 orang per hari.

Puncak penjualan biasanya terjadi pada malam Jumat Kliwon, ketika pembeli bisa mencapai hampir 200 orang.

Dari hasil berjualan bunga tabur itulah, Sarwono dan Ipung mampu membiayai pendidikan kedua anak mereka hingga perguruan tinggi.

Baca juga: Nyadran Bawa Berkah, Penjual Bunga Tabur di Karanganyar Laris Manis, Setiap Hari Layani 25 Pembeli

Anak pertama mereka, Elia Rahayu Andryawati (28), kini bekerja di Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI di Kota Semarang.

Sementara anak kedua, Gideon Permadi (23), tengah menempuh pendidikan Sosiologi di Universitas Terbuka.

"Alhamdulillah, dengan jualan ini, kami bisa menyekolahkan dua anak kami hingga ada anak kami yang kerja di kementerian kesehatan di Semarang," kata dia.

Lapak sederhana di pinggir jalan itu pun menjadi saksi perjuangan pasangan ini dalam menghidupi keluarga sekaligus mengantarkan anak-anak mereka meraih pendidikan tinggi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.