TRIBUNNEWSMAKER.COM - Latar belakang bocah SMP di Kalimantan Barat nekat bom sekolah hingga timbulkan korban luka berat.
Seorang siswa SMP nekat meledakkan sekolahnya di SMPN 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Ledakan tersebut terjadi pada Selasa (3/2/2026) hingga sebabkan para pelajar dan guru berlarian menyelamatkan diri.
Peristiwa ledakan terjadi sesaat setelah jam istirahat berakhir.
"Kejadiannya pas baru masuk setelah istirahat. Tiba-tiba terdengar suara ledakan," kata seorang pelajar kelas 9E dikutip dari Tribun Pontianak.
Baca juga: Immanuel Ebenezer Sebut Purbaya Terancam Kasus, Reaksi Menkeu Mengejutkan: Gaji Gue Gede di Sini
Ledakan tersebut membuat seorang siswa mengalami luka di bagian kaki akibat serpihan benda tajam.
Ternyata ledakan itu berasal dari bom molotov rakitan.
Pelaku peledakan, salah satu siswa di sekolah tersebut akhirnya ditangkap aparat kepolisian tak lama setelah kejadian.
"Benar, terduga pelaku sudah kami amankan. Saat ini masih dalam proses pendalaman oleh anggota," ujar Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade.
Densus 88 Antiteror Polri mengatakan siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat yang diduga melempar molotov tergabung dalam komunitas True Crime Community (TCC).
Komunitas TCC tersebut berisi soal paham atau ideologi kekerasan ekstrem yang banyak menyasar kepada anak-anak di Indonesia.
"Yang bersangkutan tertarik dengan konten-konten kekerasan dan juga tergabung dalam komunitas True Crime Community," kata Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).
Mayndra mengatakan dari hasil penggeledahan, ditemukan sejumlah barang bukti berbahaya berupa lima gas portabel yang dilekatkan petasan, paku dan pisau.
"Serta enam buah botol berisi bahan bakar minyak dan sumbu kain (bom molotov). Serta satu bilah pisau," jelasnya.
Pihaknya telah memberikan pendampingan terhadap Polda Kalimantan Barat dalam pengungkapan kasus tersebut mulai dari pemetaan pelaku hingga alat bukti.
Kepala SMP Negeri 3 Sungai Raya, Lily menjelaskan pelaku pelempar bom rakitan merupakan pelajar yang baik di lingkungan sekolah.
"Anak didik kami yang melakukan aksi itu sebenarnya kesehariannya bagus, bergaul dengan temannya itu juga ceria," kata Lily, Rabu (4/2/2026).
Lily mengaku tak merasa curiga sedikit pun kepada pelajar itu.
"Tidak ada hal-hal mencurigakan. Dia seperti anak-anak yang lain," ungkapnya.
Pelajar itu juga selalu mengikuti proses belajar mengajar seperti biasanya.
"Belajar, bercanda dengan temannya itu biasa aja, tidak ada yang aneh-aneh. Kita juga tidak tahu kenapa ini terjadi," pungkasnya.
Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terkait kasus ini.
"Pendalaman masih kita lakukan. Kita juga masih menunggu hasil laboratorium," katanya, Rabu.
Polisi juga berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk mengenai masalah psikologi terduga pelaku.
Sebelumnya, Kapolda Kalbar Irjen Pol Pipit Rismanto mengungkap terduga pelaku masih di bawah umur.
"Peristiwa ini adalah yang kedua, dan anak tersebut sebelumnya memang sudah dalam pemantauan. Saat ini kegiatannya sudah kembali normal, namun kami bersama Densus dan BNPT masih menggali akar masalahnya," ujar Irjen Pol Pipit saat ditemui di sekitar Polsek Sungai Raya.
Dari hasil pendalaman sementara, ia mengungkapkan ditemukan adanya dugaan persoalan dalam lingkungan keluarga.
Kondisi kakek dan ayah anak tersebut yang sedang sakit diduga memberikan tekanan psikologis.
"Ini menjadi perhatian kita bersama, baik pemerintah, kepolisian, KPAI, sekolah, maupun Dinas Pendidikan. Ada keterkaitan antara kondisi keluarga dan psikologis anak yang perlu didalami lebih lanjut agar kejadian serupa tidak terulang," jelasnya.
Ia menambahkan, secara umum aktivitas sekolah berjalan normal, namun pendalaman tetap dilakukan terhadap aktivitas anak baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Penanganan akan difokuskan pada pembinaan, mengingat yang bersangkutan masih di bawah umur.
"Penegakan hukum adalah ultimum remedium. Yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan akar masalah dan melihat apakah anak ini masih bisa dibina," katanya.
(Tribunnewsmaker.com/Tribunnews.com)