Renungan Harian Kristen 6 Februari 2026 - Puas Menikmati Kehidupan
Bacaan ayat: Lukas 2:29 (TB) "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,.. "
Oleh Pdt Feri Nugroho
Jika hidup fokus pada kebutuhan, rasanya tidak akan ada habisnya. Padahal kebutuhan primer itu hanya sandang, pangan dan papan: pakaian, makanan dan tempat tinggal.
Masalahnya, meskipun dalam lemari telah penuh pakaian, namun masih saja membeli pakaian yang viral hari ini.
Meja telah penuh makanan, masih saja ingin jajan diluar, ke restoran yang mahal. Bahkan rumahpun tidak cukup jika hanya menjadi tempat tinggal.
Rumah telah menjadi lambang harga diri, prestasi dan kebanggaan apabila ada rekan yang bertandang. Padahal apa yang dibanggakan pada akhirnya akan ditinggalkan.
Ketika dipanggil Tuhan, pakaian yang ditinggalkan, sering menjadi kain lap di lantai; atau dijual dengan harga murah, atau terikut tertimbun di makam.
Makanan semewah apapun harus berakhir di jamban dan rumah semegah apapun, tiba-tiba menjadi rumah tua tak berpenghuni ketika pemiliknya telah tiada. Ironis bukan?
Sebuah pernyataan iman yang dahsyat ketika Simeon berkata, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,"
Hanya sekilas saja kita dapat merasakan iman yang dalam pada pilihan katanya. Memang tidak ada keterangan bahwa ia orang kaya atau terpandang.
Meskipun demikian kita dapat menduga ia ialah seorang yang setia. Tentu bukan pertama kali ia menjumpai bayi yang dibawa ke Bait Allah.
Bisa saja ia kecewa berulangkali ketika bayi yang dibawa ke Bait Allah ternyata bukan Mesias yang dijanjikan. Tentu diperlukan kepekaan iman untuk yakin bahwa apa yang dinyatakan kepadanya, bahwa ia akan melihat Mesias adalah benar adanya.
Menimbang bahwa pengharapan akan Mesias pun telah diajarkan lintas generasi, rasanya kemungkinannya kecil jika ia akan jumpa dengan Mesias.
Namun ia tekun dan setiap berpengharapan. Ia fokus pada karya Allah yang hendak dinyatakan dalam kehidupannya.
Dari Simeon kita belajar tentang menemukan apa yang paling penting dan mendasar dalam kehidupan. Benar bahwa kebutuhan primer perlu dipenuhi.
Namun ada yang lebih mendasar dan lebih penting dari itu yaitu menemukan karya Allah dinyatakan kepada kehidupan kita.
Simeon fokus pada karya Allah. Ia meletakan pengharapan penuh pada Allah. Ia tekun dan kepekaan untuk menemukan karya Allah tersebut. Hingga rasa puaspun mengalir deras.
Cukuplah menatang bayi tersebut, dan ia telah melakukan apa yang menjadi bagiannya. Ia puas dengan kehidupan yang telah dijalani.
Bagaimana dengan kita? Belajarlah puas dalam menjalani kehidupan. Amin.
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang