TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Berangkat dari kegelisahan akan kerusakan lingkungan di Kabupaten Wonosobo, berupa longsor dan banjir, serta hutan yang seharusnya menjadi penyangga justru semakin gundul, mendorong
Reboisasi ini merupakan puncak kegiatan penanaman yang telah dilakukan Jatubu di sejumlah titik lokasi di wilayah Wonosobo.
Ketua Jatubu, Mantep Abdul Ghoni, menegaskan bahwa gerakan tersebut lahir dari kegelisahan melihat kondisi hutan Wonosobo yang semakin mengkhawatirkan.
“Hutan sudah gundul, pinus jadi kentang, malah ada beberapa lahan yang sudah jadi hak milik,” katanya.
Ia menyebut, longsor yang terjadi di sejumlah wilayah bukan lagi kejadian biasa, melainkan peringatan serius dari alam.
“Yang hari ini bisa lihat sama-sama bagaimana Gunung Kembang longsor 14 hektare. Kemarin Patakbanteng longsor 1,5 hektare. Itu kan alarm. Alarm dari alam,” ujarnya.
Baca juga: Resmi Bergabung, Ibrahim Sanjaya Ikut TC PSIS Semarang di Yogyakarta
Menurutnya, banjir dan longsor yang terjadi di Menjer hingga luapan Sungai Wangan Aji menjadi bukti bahwa kerusakan lingkungan sudah menimbulkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Apakah kita menunggu sampai ada bencana, kita baru bisa disebut kritis,” tegas Mantep.
Melalui penanaman bibit, Jatubu memilih berkontribusi secara langsung meski dimulai dari langkah kecil.
“Kami berkontribusi sekecil apa pun tapi nyata,” katanya.
Uniknya, kegiatan ini juga melibatkan ratusan pelajar dari tingkat SD hingga SMP.
Mantep menyebut, keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting dalam membangun budaya menanam sejak dini.
“Ini yang kita tanamkan ke anak-anak kita bahwa menanam itu sebenarnya kewajiban kita menjaga alam,” ucapnya.
Sekitar 300-400 siswa ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Salah satunya Ainun Salwa Qonita, siswi sekolah dasar yang mengaku baru pertama kali menanam pohon.
“Iya ikut menanam. Seru belum pernah menanam si kalau di rumah. Senang semoga cepat tumbuh besar,” ungkapnya.
Baca juga: Tidak Menyangka Persak Kebumen Tembus Semifinal, Bersiap Hadapi PSIR
Sementara itu, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo, Kristiyugo, menyatakan pemerintah daerah menyambut baik inisiatif Jatubu dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya.
“Persoalan di atas sudah sangat kritis, sehingga pemkab menyambut baik dari Jatubu untuk berkolaborasi bersama,” ujarnya.
Ia mengakui, persoalan kerusakan hutan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Pemkab tidak cukup kuat menyelesaikan persoalan di sana,” katanya.
Menurut Kristiyugo, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mencegah bencana yang lebih besar di masa depan.
“Mumpung sekarang tidak ada kejadian fatal, kami sambut baik kolaborasi ini,” tandasnya. (ima)