TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU- Siapa sangka, sebuah gerakan besar yang kini menjadi percontohan di tingkat kabupaten bermula dari layar kecil Handphone pintar. Taman Baca Masyarakat atau TBM Cerdas Ceria di RT 5 Desa Kuala Lapang, Malinau Kalimantan Utara telah membuktikan kepedulian seorang warga mampu mengubah wajah pendidikan di tengah keterbatasan.
Didirikan sejak 2020 lalu, dari seorang Tenaga Pendidik, Uring I'ing. Sudah 6 tahun berlalu, gerakan literasi tersebut masih bertahan hingga kini. Awalnya dari tekad kuat penggerak literasi, kini dimotori gerakan kolektif lewat pendanaan swadaya masyarakat.
Maret tahun 2020 menjadi catatan kelam saat pandemi melumpuhkan sekolah-sekolah di Kabupaten Malinau. Gang-gang ditutup, patroli diperketat, dan anak-anak terjebak dalam kebosanan yang tidak terarah.
Di tengah situasi sulit itu, Uring I'ing merasa tergerak melihat anak-anak yang berlarian tanpa tujuan, bahkan ramai gejala kesuntukan anak karena kehilangan dunia bermainnya.
Baca juga: TBM PADU Sebatik Jadi Inspirasi Nasional, Jawab Tantangan Literasi, Iklim dan Anak Tidak Sekolah
Berbekal niat tulus, Dia memanggil anak-anak ke rumahnya. Tanpa tumpukan buku yang mewah, Dia hanya menggunakan ponsel pribadinya untuk membacakan cerita secara digital.
Antusiasme anak-anak ternyata luar biasa, mereka yang rindu ke sekolah berbondong-bondong datang untuk mendengarkan kisahnya. Jumlah anak yang datang terus bertambah hingga rumah kecilnya tak lagi mampu menampung.
Karena protokol jaga jarak tetap harus dipatuhi, Uring memutar otak. Dia meminjam LCD sekolah dan memproyeksikannya di luar rumah agar anak-anak bisa melihat gambar cerita dengan lebih jelas.
Menariknya, saat itu dia bahkan belum mengenal apa itu Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
"Dalam bayangan saya, Taman Baca itu harus taman yang indah. Saya tidak membayangkan suatu perkumpulan yang membuat anak-anak senang," ungkapnya mengenang masa-masa awal perjuangan tersebut.
Ketulusannya akhirnya mengetuk hati warga RT 5. Lewat Musrenbang RT, masyarakat mengusulkan anggaran khusus untuk menghidupkan kegiatan ini.
Baca juga: Tiga TBM di Malinau Kalimantan Utara Naik Status Jadi Perpustakaan Desa, Diberi Bantuan Pelatihan
Uring bercerita, kepedulian warga adalah sebab mengapa 6 tahun berlalu gerakan literasi di gang sempit tersebut masih bertahan.
Suatu waktu, Uring dan penggerak literasi di TBM tak ada yang hadir dalam Musrenbang, karena satu kesibukan dan lain hal.
Padahal momen ini adalah saat genting agar anggaran bisa dialokasikan. Dia awalnya mengira anggaran dukungan anggaran yang sebelumnya diperoleh Rp 10 juta dari dana RT 5 Kuala Lapang akan terhenti.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Warga yang sudah merasakan dampak positifnya justru mengusulkan agar anggaran dinaikkan dari Rp10 juta menjadi Rp15 juta.
"Dana inilah yang kemudian digunakan untuk melengkapi rak buku, mainan, hingga memberikan makanan tambahan bergizi seperti bubur kacang hijau dan buah-buahan untuk anak-anak," ungkapnya.
Kini, TBM yang diresmikan pada Desember 2021 ini tidak lagi sekadar tempat membaca. TBM Cerdas Ceria telah dipercaya menjadi lokasi piloting pendidikan perubahan iklim di Malinau.
Perjalanan dari sebuah Handphone pribadi menjadi pusat edukasi lingkungan ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan hati.
Puncak dari perjuangan panjang ini ditandai dengan kunjungan kerja Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Hafidz Muksin pada Kamis, 5 Februari 2026.
Rombongan kementerian hadir langsung ke TBM Cerdas Ceria untuk melihat implementasi program sinergi TBM dengan pelayanan sekolah.
Kunjungan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap praktik baik kerja sama antara pengurus RT dan sekolah dalam mengelola TBM melalui dana RT, sekaligus meninjau langsung peran TBM sebagai garda terdepan literasi di tingkat desa.
(*)
Penulis: Mohammad Supri