TRIBUNNEWSMAKER.COM - Tragedi meninggalnya siswa sekolah dasar berinisial YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, dinilai sebagai luka mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia.
Peristiwa ini menyita perhatian publik karena berkaitan langsung dengan persoalan akses pendidikan dasar.
YBR diduga mengakhiri hidup lantaran tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolahnya, yakni buku dan pulpen.
Hal tersebut tersirat dari secarik kertas bertuliskan tangan yang ditemukan aparat kepolisian.
Bocah tersebut ditemukan meninggal dunia di sebuah kebun tak jauh dari pondok bambu tempat ia tinggal bersama neneknya.
Lokasi kejadian berada di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, pada Kamis (29/1/2026).
Polres Ngada kemudian melakukan pendalaman terhadap latar belakang peristiwa tersebut.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa keputusan tragis YBR dipicu oleh lebih dari satu faktor.
Polisi menyimpulkan adanya penumpukan tekanan yang dialami korban dalam kesehariannya.
Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino menyebut keterbatasan ekonomi keluarga menjadi salah satu pemicu utama.
Kondisi tersebut berdampak pada ketidakmampuan korban memenuhi kebutuhan alat tulis sekolah.
“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” kata Andrey, Kamis (5/2/2026), dilansir POS-KUPANG.com.
Baca juga: Bocah SD di NTT Akhiri Hidup, Atalia Praratya Sebut Prihatin Saja Tak Cukup, Singgung Sekolah Rakyat
Ia menegaskan bahwa penyebab kejadian tidak berdiri pada satu persoalan saja.
“Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” lanjutnya.
Lebih jauh, Andrey mengungkap adanya peristiwa lain yang terjadi sebelum tragedi itu.
Pada malam sebelum kejadian, orang tua YBR diketahui sempat menasihatinya agar tidak bermain hujan.
Nasihat tersebut bertujuan agar YBR tidak jatuh sakit dan tidak kembali meminta izin absen dari sekolah.
“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan. Jadi ceritanya bukan semata-mata karena alat tulis, tetapi juga karena sering dinasihati oleh ibunya,” ungkap Andrey.
Sementara itu, berdasarkan hasil penyelidikan, polisi memastikan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam kasus siswa SD di NTT yang mengakhiri hidup ini.
Hal itu diperkuat dengan hasil visum yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
Penyelidikan polisi juga tidak menemukan indikasi perundungan di lingkungan sekolah yang dapat memicu kondisi psikologis korban.
“Kesimpulan sementara, tindakan tersebut dilakukan atas kehendak korban sendiri,” tegas Andrey.
Baca juga: Fakta Baru Anak SD Akhiri Hidup, Bupati Ngada NTT Sebut Masalah Lebih Kompleks: Mungkin di Sekolah
Di sisi lain, Kepala UPTD SD Negeri Rutojawa, Maria Ngene, telah menanggapi informasi kurangnya perlengkapan belajar YBR.
Maria menuturkan, pihak sekolah tidak mengetahui secara rinci terkait kondisi YBR tersebut.
Ia mengatakan, pemantauan kebutuhan pribadi siswa umumnya dilakukan oleh wali kelas masing-masing.
Kemudian, selama mengikuti proses belajar mengajar, YBR tidak pernah menyampaikan keluhan dan tidak menunjukkan kendala yang menonjol.
“Saya belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar."
"Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini awal semester, mungkin kebutuhannya belum sempat dipenuhi,” ujarnya, Rabu (4/2/2026), dikutip dari TribunFlores.com.
“Tidak ada laporan atau keluhan. Kami memang tidak bisa memantau kondisi pribadi semua siswa secara detail,” jelasnya.
Maria lantas mengakui bahwa pemantauan kondisi sosial siswa di sekolah memiliki keterbatasan, terutama karena jumlah peserta didik dan minimnya laporan langsung dari siswa maupun keluarga.
Sementara itu, ia mengungkapkan, YBR dikenal sebagai siswa yang berperilaku baik dan tidak pernah menimbulkan masalah selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan,” imbuh Maria.
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.
Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, YBR diasuh oleh neneknya yang bernama Welumina Nenu (80).
Keduanya menempati gubuk bambu yang berada di kebun sang nenek.
Bangunan gubuk itu berukuran sekitar 2x3 meter.
Ibunya bernama Maria Goreti Te'a (47), tinggal bersama empat kakak YBR di rumah terpisah.
Sedangkan, ayah YBR merantau ke Kalimantan selama 12 tahun.
Sang ibu membeberkan kejadian sebelum anaknya diduga mengakhiri hidup.
Pada Kamis (29/1/2026) pagi, YBR mengeluh pusing sehingga tidak mau pergi ke sekolah.
Maria Goreti mengaku khawatir jika anaknya ketinggalan pelajaran, sehingga meminta YBR tetap masuk sekolah.
Namun, pada Kamis siang, dia mendapat kabar dari tetangga bahwa anaknya meninggal.
“Saya kaget ada kabar dari tetangga. Saya pikir dia ada pergi sekolah,” ujarnya di rumah duka di Jerebuu, Selasa (3/2/2026), dikutip dari POS-KUPANG.com.
Kemudian, sang nenek menyampaikan, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut.
YBR disebut tak pernah menunjukkan perilaku aneh.
Semasa hidup, YBR pernah mengeluh soal buku tulis dan pulpen untuk sekolah.
“Kami selalu berusaha penuhi semampu kami,” kata sang nenek, Selasa.
YBR sebelumnya juga sering membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.
Untuk makanan, mereka mengandalkan hasil kebun seperti pisang dan ubi.
Disclaimer:
Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.
Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan tersebut.
Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling.
Pembaca bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454) atau LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293) atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.
(TribunNewsmaker.com/ Tribunnews)