TRIBUNJAKARTA.COM - Polisi menyampaikan perkembangan terkini insiden siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) tewas mengenaskan.
YBR (10) siswa kelas IV SD Negeri Rj di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakhiri hidup secara tragis, Kamis (29/1/2026).
Polisi mengungkap faktor pemicu YBR mengakhiri hidup bukan hanya ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah.
Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino menjelaskan, pada malam sebelum kejadian, orangtua korban sempat menasihati YBR agar tidak bermain hujan-hujanan.
Nasihat tersebut disampaikan agar korban tidak jatuh sakit dan kembali meminta izin tidak masuk sekolah.
“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan. Jadi ceritanya bukan semata-mata karena alat tulis, tetapi juga karena sering dinasihati oleh ibunya,” tutur Andrey dikutip dari Pos Kupang, Kamis (5/2/2026).
Selain itu, AKBP Andrey Valentino mengatakan, peristiwa tragis tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi berbagai tekanan yang dialami korban.
“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” ujar Andrey.
Menurut Andrey, salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah.
Selain itu, korban juga kerap menerima nasihat dari orangtua. “Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” kata dia.
Faktor-faktor tersebut, lanjut Andrey, menjadi tekanan psikologis bagi korban hingga akhirnya memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.
“Intinya berkaitan dengan persoalan dalam rumah tangga. Namanya juga keluarga, tentu selalu ada masalah,” ujarnya.
Andrey menjelaskan, pada malam sebelum kejadian, orangtua korban sempat menasihati YBR agar tidak bermain hujan-hujanan.
Nasihat tersebut disampaikan agar korban tidak jatuh sakit dan kembali meminta izin tidak masuk sekolah.
“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan. Jadi ceritanya bukan semata-mata karena alat tulis, tetapi juga karena sering dinasihati oleh ibunya,” tutur Andrey.
Dari hasil penyelidikan, polisi memastikan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam kasus tersebut. Hal itu diperkuat dengan hasil visum yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
Selain itu, penyelidikan polisi juga tidak menemukan indikasi perundungan di lingkungan sekolah yang dapat memicu kondisi psikologis korban.
“Kesimpulan sementara, tindakan tersebut dilakukan atas kehendak korban sendiri,” kata Andrey.
Meski demikian, polisi masih terus mendalami kasus ini dan meminta keterangan dari sejumlah pihak untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara utuh.
Polda NTT bersama Polres Ngada memberikan bantuan tali asih serta pendampingan psikologis kepada keluarga almarhum YBR (10), anak yang diduga mengakhiri hidupnya di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT, Kombes Pol Hendry Novika Chandra, mengatakan bahwa bantuan tersebut diserahkan pada Rabu (4/2) sekitar pukul 11.00 Wita, sebagai bentuk empati dan kepedulian Polri terhadap keluarga korban.
“Bantuan tali asih itu diserahkan siang tadi oleh jajaran Polres Ngada, Polda NTT,” ujar Hendry kepada wartawan di Kupang.
Hendry menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kunjungan sosial, penggalangan, serta pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) pascakejadian, sekaligus wujud kehadiran negara dalam memberikan dukungan moral, psikologis, dan kemanusiaan kepada keluarga yang sedang berduka.
Bantuan sosial dari Kapolda NTT dan Kapolres Ngada kepada keluarga korban berupa beras sebanyak 100 kilogram, mi instan, telur ayam, dua dus paket tali asih, serta santunan uang tunai.
Selain bantuan materiil, Polda NTT dan Polres Ngada juga memberikan pendampingan psikologis dan trauma healing kepada keluarga korban.
Pendampingan itu dilakukan oleh Pendamping Psikolog Ps. Kasi Dokes Polres Ngada, Pengatur Tk. I Muhammad Isramansyah, A.Md.Kep, didampingi Kabag SDM Polres Ngada AKP Sukandar serta personel Polwan.
“Konseling difokuskan kepada dua kakak kandung korban serta teman-teman dekat korban untuk membantu proses pemulihan psikologis pasca peristiwa ini,” kata Hendry.
Sementara itu, ibu kandung korban, Maria Goreti Te’a, menyampaikan terima kasih kepada jajaran Polda NTT dan Polres Ngada atas perhatian dan kepedulian yang diberikan kepada keluarganya.
Hendry menegaskan, kunjungan tersebut merupakan wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat yang sedang mengalami duka mendalam.
“Bapak Kapolda NTT menekankan bahwa Polri tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam aspek kemanusiaan. Kunjungan dan silaturahmi ini adalah bentuk empati, kepedulian, serta dukungan moral agar keluarga korban tetap kuat dan tabah menghadapi musibah,” ujarnya.
Dia menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan Kepolisian pascakejadian dilakukan secara humanis dan profesional, dengan tetap menghormati kondisi psikologis keluarga serta nilai-nilai sosial dan budaya setempat.
“Kami berharap kehadiran Polri dapat sedikit meringankan beban mental keluarga, sekaligus memberikan rasa aman dan ketenangan di tengah masyarakat,” kata Hendry.
Bupati Ngada, Raymundus Bena membeberkan kronologi kematian secara tragis siswa kelas IV SD Negeri Rj, YBR (10) di Kecamatan Jerebuu.
YBR mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026).
Mayat YBR ditemukan dalam posisi tergantung pada seutas tali, tidak jauh dari pondok bambu yang ditempati YBR dan sang nenek.
Korban ditemukan pada Kamis pukul 11.00 Wita.
Menurut Bupati Ngada, sebelum kejadian, ibunda korban Maria Goreti Te'a (MGT/47) menanyakan alasan anaknya tidak ke sekolah.
Kepada ibunya, YBR mengatakan dia pergi ke kebun.
Raymundus menyampaikan bahwa di Kecamatan Jerubuu belum memiliki fasilitas perbankan sehingga MGT terpaksa harus ke kota kabupaten.
Setibanya di salah satu bank BUMN, dana PIP milik korban tidak bisa dicairkan. Alasannya, karena secara kependudukan korban masih tercatat di kabupaten Nagekeo.
Pihak Bank menyarankan MGT membuat surat keterangan domisili. “Keesokan malamnya, MGT ditanyakan lagi oleh anaknya, Mama sudah urus, kah, satunya beasiswanya?”
"Oh, belum, nanti saya, ee, saya akan urus itu, ya,” jelas Raymundus.
Lantas belum dicairkan karena beberapa alasan, YBR kemudian memutuskan untuk tidak ke sekolah. Dia kemudian kembali ke pondok bersama neneknya.
Pada Kamis sekitar pukul 09.00 Wita, beberapa warga mendapati korban sedang duduk di depan pondok. Mereka menanyakan mengapa YBR tidak ke sekolah.
YBR menyampaikan bahwa dirinya sedang mengalami kepala pusing. “Dia mengaku kepala pusing. Terus jam 10, ada yang lewat lagi, sekitar jam 10, tanya lagi, dia bilang kepala pusing,” katanya.
Raymundus menambahkan, sekitar pukul 11.00 Wita warga dikejutkan ketika mendapati korban sudah gantung diri, dan dalam keadaan meninggal.