Motif Bocah SD Akhiri Hidup karena Pulpen dan Buku Dibantah Bupati Ngada
Reny Fitriani February 06, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id - Bupati Ngada, Raymundus Bena menegaskan, tidak terpenuhinya keinginan membeli buku dan pena bukan menjadi motif YBR mengakhiri hidup.

Kadisdukcapil Kabupaten Ngada Gerardus Reo saat mendatangi langsung rumah korban di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Selasa 3 Februari 2026. 

Ia diduga putus asa karena tidak bisa membeli buku dan pena.

Namun dugaan motif YBR mengakhiri hidup dibantah oleh Bupati Ngada, Raymundus Bena.

Dikutip dari Tribunnews.com Raymundus mengatakan, keluarga YBR hidup dalam tekanan ekonomi serta sosial yang berat.

Baca Juga Bocah SD Akhiri Hidup, Komnas Anak Bandar Lampung Sebut Jadi Peringatan

Hal itu disampaikan orang nomor satu di Kabupaten Ngada itu saat konferensi pers di Aula Rumah Jabatan Bupati Ngada, Kamis (5/3/2026) malam.

Berdasarkan hasil penggalian informasi tim internal pemerintah daerah, ia mengatakan tidak ditemukan pernyataan dari keluarga yang menyebutkan motif YBR berkaitan dengan persoalan buku dan pulpen.

“Perlu saya tegaskan, informasi yang menyebut korban mengakhiri hidupnya karena tidak dibelikan buku dan bulpen adalah tidak tepat." katanya.

"Tidak ada pernyataan dari ibu kandung maupun keluarga korban yang menyampaikan hal tersebut,” terusnya.

Kendati demikian, Bupati Ngada menegaskan, hingga kini motif pasti YBR mengakhiri hidup belum dapat disimpulkan.

Sebab, hal itu masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.

Pemerintah daerah, lanjutnya, memilih tidak berspekulasi sembari menunggu hasil resmi aparat penegak hukum.

Akan tetapi, faktor utama dari aksi YBR diduga disebabkan karena tekanan ekonomi dan sosial yang ia alami.

Raymundus menjelaskan, keluarga YBR masuk kategori miskin ekstrem desil 1.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk kebutuhan pendidikan YBR.

 “Dari hasil pemantauan lapangan, faktor dominan yang mempengaruhi kondisi psikologis korban adalah kemiskinan ekstrem."

"Minimnya pendampingan orang tua, beban ekonomi keluarga, serta tekanan sosial yang dialami,” ujarnya.

Ia menyebut, sejak kejadian itu, pihaknya telah memerintahkan Sekretaris Daerah, dinas terkait, serta Pemerintah Desa Naruwolo untuk menemui keluarga YBR.

Tujuannya, untuk menggali informasi secara menyeluruh, termasuk koordinasi terkait data kependudukan yang masih tercatat di Kabupaten Nagakeo.

Kronologi YBR Meninggal

Melansir Kompas.com, Bupati Ngada, Raymundus Bena mengatakan, YBR ditemukan meninggal sekira pukul 11.00 Wita.

Sebelum kejadian, ibu YBR, MGT (47) sempat menanyakan alasan anaknya tidak ke sekolah.

Kepada ibunya, YBR mengatakan dirinya pergi ke kebun.

Raymundus menyampaikan, di Kecamatan Jerubuu belum memiliki fasilitas perbankan, sehingga MGT terpaksa harus ke kota kabupaten.

Namun, setibanya di sebuah bank pelat merah, dana PIP milik korban tidak bisa dicairkan.

Alasannya, karena secara kependudukan YBR masih tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo.

Pihak bank menyarankan agar MGT membuat surat keterangan domisili.

“Keesokan malamnya, MGT ditanyakan lagi oleh anaknya, Mama sudah urus, kah, satunya beasiswanya?”. 

"Oh, belum, nanti saya, ee, saya akan urus itu, ya.",” jelas Raymundus, Kamis.

Setelah itu, YBS memutuskan untuk tidak ke sekolah. Dia kemudian kembali ke pondok bersama neneknya.

Kamis pagi sekira pukul 09.00 Wita, beberapa warga mendapati YBR tengah duduk di depan pondok.

Mereka menanyakan mengapa YBR tidak ke sekolah. Anak itu mengatakan, dirinya sedang mengalami kepala pusing.

“YBS mengaku kepala pusing. Terus jam 10, ada yang lewat lagi, sekitar jam 10, tanya lagi, dia bilang kepala pusing,” katanya.

Kemudian, sekira pukul 11.00 Wita, warga dikejutkan ketika mendapati korban sudah meninggal dunia tak wajar.

Kehidupan YBR

YBR diketahui tinggal bersama neneknya di pondok sederhana berdinding bambu berukuran 2x3.

 Ia diasuh oleh neneknya sejak usia 1 tahun 7 bulan.

YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ibunya hanya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Sementara sang ayah bertahun-tahun merantau di Kalimantan dan tak pernah pulang.

Untuk makan saja, bocah itu hanya mengandalkan hasil kebun seadanya. Pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Sementara guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, YBR membantu neneknya berjualan sayur, ubi, dan kayu bakar.

DISCLAIMER:

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan tersebut.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling.

Pembaca bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454) atau LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293) atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.