BANJARMASINPOST.CO.ID - Bagaimana sebaiknya umat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyikapi orang yang berbuat zalim.
Guru Ahmad Mahfuji, dai di Kabupaten Tapin, Kalsel menyampaikan, dalam Islam, orang yang dizalimi memiliki hak untuk membalas, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.
Namun, balasan tersebut harus setimpal dan tidak boleh melampaui batas. “Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 126,
“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.’ Artinya, balasan itu dibolehkan, tetapi harus sepadan, tidak boleh berlebihan,” ujarnya.
Baca juga: Rakerda MUI Tapin, Bupati Yamani Tekankan Pentingnya Program Sentuh Umat
Meski demikian, Ustadz Ahmad Mahfuji menegaskan, bersabar merupakan pilihan yang lebih utama.
Hal ini sebagaimana lanjutan ayat tersebut, ‘Akan tetapi jika kamu bersabar, sungguh itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.’
Pengasuh Majelis Taklim Darul Khairat ini menjelaskan, dalam praktiknya, membalas dengan ukuran yang benar-benar sama sering kali sulit dilakukan.
“Misalnya seseorang memukul, berat dan kekuatannya berbeda-beda. Sangat mungkin balasan justru menjadi lebih keras. Karena itu, Islam mengingatkan agar tidak melampaui batas,” ucapnya.
Terkait balasan dalam bentuk ucapan, Ustadz Ahmad Mahfuji menegaskan, kata-kata buruk tidak boleh dibalas dengan kata-kata buruk.
“Membalas keburukan dengan keburukan hanya akan menjadikan kita sama. Jika seseorang melempar batu, lalu kita membalas dengan batu, tidak ada keutamaan di situ,” katanya.
Sebaliknya, dia menganjurkan agar umat Islam membalas keburukan dengan kebaikan, karena itulah akhlak yang diajarkan Islam.
Dia menjelaskan, Islam juga mengatur doa ketika seseorang dizalimi. Salah satu teladan utama adalah doa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam saat berdakwah di Thaif.
Ketika itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bukan hanya ditolak, tetapi juga dicaci, dilempari batu hingga berdarah. Namun, Rasulullah tidak mendoakan kebinasaan bagi mereka.
“Doa Nabi di Thaif sangat menyentuh. Beliau justru mengakui kelemahan diri dan memohon ampunan kepada Allah, bukan menyalahkan umatnya,” katanya.
Ustadz Ahmad Mahfuji mengaku, umat Islam sebaiknya mendoakan agar orang yang menzalimi agar diberi hidayah dan bertobat.
“Doa terbaik adalah mendoakan perbaikan. Bisa jadi orang yang hari ini memusuhi kita, suatu saat justru menjadi orang yang paling baik kepada kita,” katanya.
Dia mengingatkan, hubungan manusia bisa berubah. “Ada orang yang hari ini sangat mencintai kita, kelak bisa membenci. Sebaliknya, yang memusuhi kita bisa berubah menjadi saudara yang baik. Karena itu, doa yang paling utama adalah agar Allah membimbing hati mereka,” pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/mukhtr wahid)