SURYA.CO.ID - Ketegangan terjadi antara kuasa hukum Roy Suryo, Refly Harun, dengan Penasihat Ahli Kapolri, Aryanto Sutadi.
Keduanya terlibat debat kusir saat membahas perkembangan kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Dipantau SURYA.CO.ID dari tayangan program Interupsi di iNews TV, Kamis (5/2/2026), perdebatan dipicu oleh kritik tajam Refly Harun terhadap prosedur penyidikan di Polda Metro Jaya yang dinilai janggal.
Baca juga: Sosok Profesor yang Kembali Soroti Materai Hijau di Ijazah Jokowi, Pernah Diskakmat Alumni UGM
Refly Harun menyoroti langkah penyidik yang telah melimpahkan berkas perkara ke Kejaksaan (Tahap I) sebelum tuntas memeriksa saksi dan ahli dari kubu kliennya.
Menurutnya, hal ini melanggar logika hukum dan profesionalisme kepolisian.
"Satu hari baru berkas itu dilimpahkan (13 Januari), tiba-tiba tanggal 14 Januari penyidik mengundang ahli dan saksi kami untuk diperiksa tanggal 20. Kan berarti tidak profesional," cecar Refly Harun.
Ia khawatir jika berkas dinyatakan lengkap (P-21) oleh Jaksa, maka keterangan saksi meringankan dari pihaknya akan terabaikan.
“Pertanyaannya adalah bagaimana kalau kemudian jaksa mengatakan berkasnya lengkap? Apakah saksi dan ahli itu enggak ada gunanya lagi?"
"Nah, ini menunjukkan dalam hati mereka sendiri sudah tahu kalau ini enggak profesional,” tegasnya.
Menanggapi tudingan tersebut, Aryanto Sutadi memberikan pembelaan.
Ia menilai, Refly tidak memiliki kapasitas untuk menghakimi standar profesionalisme penyidik.
“Saya mau menjawab cuma gini aja ya, istilah profesional sama tidak itu yang bisa mengatakan orang profesional atau tidak adalah orang yang profesional,” ujar Sutadi.
Ia menambahkan bahwa penilaian "tidak profesional" bisa muncul hanya karena seseorang tidak memahami ilmu penyidikan.
Situasi kian memanas saat Refly mulai mempertanyakan latar belakang pendidikan Sutadi Refly.
Sutadi bahkan sempat mempertanyakan kapasitas Refly Harun sebagai Pakar Hukum Tata Negara yang bertindak sebagai pembela dalam kasus pidana.
"Kalau Bapak kan tata negara. Mana bisa tata negara ditunjuk jadi pembela, itu saya enggak habis pikir," ucap Sutadi.
Debat mencapai puncaknya ketika Refly menyentil posisi Sutadi sebagai Penasihat Ahli Kapolri yang dianggapnya justru membela kepentingan personal Jokowi.
"Saya enggak habis pikir, bagaimana seorang penasihat ahli Kapolri menjadi penasihat Jokowi pada saat yang sama."
"Martabat Kapolri gimana dong?" tanya Refly.
Sutadi yang merasa tersinggung karena ditunjuk-tunjuk oleh Refly, langsung bereaksi keras.
"Anda gak boleh tunjuk-tunjuk kayak gitu ya. Tetapi jangan di luar forum kayak gini. Itu namanya Anda menghina saya juga," kata Sutadi.
Sutadi membantah tudingan keberpihakan tersebut dan mengklaim kehadirannya adalah untuk mengedukasi masyarakat.
Namun, Refly tetap bersikeras bahwa Sutadi tidak independen.
Ketegangan memuncak dengan saling lempar label negatif.
“Kalau Anda nuduh saya, saya boleh nuduh Anda. Anda provokator, membohongi rakyat," ujar Sutadi dengan nada tinggi.
“Anda yang enggak jelas. Anda yang membohongi rakyat. Aryanto Sutadi penasihat ahli Kapolri bertindak tidak independen dan netral dalam kasus ini. Memalukan Anda," bentak Refly.
Ia juga menutup argumennya dengan menilai sikap Sutadi telah mencoreng institusi Polri.
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung