TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Euforia kemenangan Timnas Futsal Indonesia masih terasa hingga ke Sumatera Utara setelah skuad Garuda memastikan tiket ke final Piala Asia Futsal 2026.
Di Indonesia Arena, Jakarta, Kamis (5/2/2026), pasukan asuhan Hector Souto tampil penuh karakter dan keberanian saat menundukkan Jepang 5-3 dalam laga semifinal yang berlangsung ketat sejak menit pertama.
Kemenangan ini bukan sekadar buah strategi dan kerja tim, tetapi juga cerminan perjalanan panjang para pemain yang membawa Indonesia ke panggung tertinggi futsal Asia. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah pefutsal asal Medan, Syauki Saud Lubis—putra Sumatera Utara yang kini membela Merah Putih di level internasional.
Syauki, yang lahir pada 29 Januari 1997, tumbuh dari kultur futsal akar rumput Kota Medan. Berposisi sebagai flank kiri, ia dikenal memiliki kecepatan, daya jelajah tinggi, serta kecerdasan membaca permainan. Kariernya tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak bangku sekolah.
Ia memulai perjalanan futsalnya di SMA Negeri 3 Medan sekaligus memperkuat Isori Medan FC di bawah bimbingan dua pelatih berpengaruh, Adi Wijaya dan Dede Novandi. Di lingkungan inilah mental bertanding, disiplin, serta teknik dasar Syauki ditempa.
Potensinya semakin menonjol ketika ia dipercaya masuk skuad PON Sumatera Utara 2021 di Papua. Setelah itu, kariernya berlanjut ke level profesional—bermain di Mataram sebelum akhirnya memperkuat Black Steel Manokwari, salah satu klub elite futsal Indonesia, yang kemudian membuka jalannya ke Timnas.
Mantan pelatihnya, Dede Novandi, menuturkan bahwa perkembangan Syauki sudah terlihat sejak masa SMA sekitar 2014–2015. Menurutnya, sejak awal Syauki memiliki kualitas teknik yang menonjol dan mental yang kuat untuk terus berkembang.
Dede mengungkapkan bahwa saat masih kelas 10, Syauki sudah menjadi pemain inti tim SMA Negeri 3 Medan yang kala itu meraih prestasi nasional.
“Dari awal kami melihat skill individu dia sangat menjanjikan. Dia salah satu pemain inti kami, bahkan saat masih kelas 10 sudah jadi andalan tim,” kata Dede kepada Tribun Medan melalui seluler, Jumat (6/2/2026).
Namun, perjalanan Syauki tidak selalu mulus. Dede menceritakan bahwa ia sempat mengalami fase pembelajaran terkait kedisiplinan—terutama soal pola makan dan kepatuhan terhadap aturan tim. Bahkan, Syauki pernah dianggap melakukan indisipliner saat mengikuti pemusatan latihan Timnas di era pelatih Kensuke Takahashi.
Menurut Dede, saat itu Syauki dianggap melanggar aturan karena makan di luar menu tim saat menginap di hotel.
"Ya memang dia ingin seleranya sendiri. Waktu di SMA memang belum masuk kategori profesional, jadi kami masih bisa berdiskusi. Tetapi saat di Timnas, aturan harus dipatuhi. Dia mengakui pernah melanggar karena makan nasi Padang di hotel, sehingga dianggap indisipliner. Dari situ saya memotivasi dia bahwa itu harus jadi pembelajaran agar ke depan lebih disiplin—dan mungkin hasilnya terlihat sekarang," jelas Dede.
Selain itu, Syauki juga pernah mendapat hukuman latihan khusus karena bermain tarkam tanpa izin saat masih di Isori Medan FC.
“Pernah juga dia disuruh latihan passing seharian sampai jenuh karena main tarkam tanpa izin. Tapi dari situ dia belajar disiplin,” kenang Dede.
Menurutnya, pengalaman-pengalaman tersebut justru membentuk karakter Syauki yang kini tampil matang di level internasional.
Kebanggaan Sumatera Utara
Bagi Sumatera Utara, keberhasilan Syauki menembus Timnas dan tampil di final Piala Asia menjadi kebanggaan besar. Dede menilai sosoknya bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda futsal daerah.
Ia juga menekankan bahwa pembinaan futsal di Sumut terus berkembang, dengan kompetisi yang lebih terstruktur, akademi yang mulai tumbuh, serta semakin banyak turnamen yang memberi jam terbang bagi pemain muda.
“Sebagai masyarakat Indonesia dan Sumatera Utara, kami sangat bangga dengan Syauki. Dia bisa jadi contoh bahwa pemain daerah juga bisa bersaing di level nasional dan Asia,” ujar Dede.
Menatap Final Melawan Iran
Kini, tantangan terbesar menanti Timnas Futsal Indonesia. Di partai puncak, Indonesia akan menghadapi Iran, raksasa futsal Asia yang telah mengoleksi 13 gelar juara Piala Asia. Laga final dijadwalkan berlangsung Sabtu (7/2/2026) di Indonesia Arena.
Meski lawan sangat kuat, doa dan dukungan mengalir dari Medan untuk Syauki dan skuad Garuda.
“Kami dari Sumatera Utara mendoakan Syauki bisa bermain lebih baik lagi di final. Mudah-mudahan Indonesia mendapatkan hasil maksimal dan menjadi juara AFC 2026,” tutup Dede penuh harap.
Dari lapangan sekolah di Medan hingga final Piala Asia, perjalanan Syauki Saud Lubis menjadi bukti bahwa talenta daerah—jika ditempa dengan disiplin dan kerja keras—mampu menembus panggung tertinggi futsal Asia.
(Cr29/tribun-medan.com)