Peluang Negosiasi Iran-AS: 75 Persen Berujung Perang, China Nyatakan Dukung Teheran
Hasiolan Eko P Gultom February 06, 2026 10:38 PM

Peluang Negosiasi Iran-AS: 75 Persen Berujung Perang, China Dukung Teheran

TRIBUNNEWS.COM - Kedutaan Besar AS virtual di Iran mengeluarkan peringatan keamanan pada Jumat (6/2/2026), mendesak warga Amerika untuk segera meninggalkan Iran dan menyiapkan rencana evakuasi yang tidak bergantung pada bantuan apa pun dari pemerintah AS.

Peringatan ini disampaikan menjelang pembicaraan yang direncanakan antara Amerika Serikat dan Iran di Oman, di tengah indikasi terbatas kalau kedua pihak telah mencapai kesepahaman mengenai agenda pertemuan tersebut, menurut CNBC.

Baca juga: Belum Mulai, Negosiasi AS-Iran Berantakan Duluan: Teheran Ogah Bahas Rudal, Washington Ngotot

Ini adalah pertemuan langsung tanpa perantara pihak ketiga antara Iran dan Amerika Serikat.

"Pembicaraan ini adalah pertemuan resmi pertama antara Teheran dan Washington sejak ketegangan meningkat pada Juni tahun lalu, ketika perang 12 hari pecah dengan Israel, diikuti oleh serangan udara AS yang merusak parah tiga fasilitas nuklir utama Iran," tulis laporan tersebut Jumat.

Namun, perbedaan pendapat mengenai materi negosiasi dan tempat perundingan telah menimbulkan keraguan tentang peluang terobosan diplomatik, sementara kemungkinan tindakan militer AS tetap ada.

Washington dilaporkan menuntut agar Iran melepaskan persediaan uranium yang diperkaya, memberlakukan pembatasan pada program rudal balistiknya, dan menghentikan dukungan serta persenjataan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah.

Presiden Trump mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran jika negara itu menolak tuntutan tersebut.

Sebagai respons, Teheran menolak syarat-syarat tersebut, menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat diterima, dan mengancam akan membalas setiap serangan dengan menargetkan pasukan AS di kawasan itu dan Israel.

Upaya diplomatik ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan militer, dengan Amerika Serikat telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Trump mengumumkan pengerahan apa yang disebutnya sebagai "armada besar," yang dipimpin oleh kapal induk Abraham Lincoln, menjelang pembicaraan tersebut.

Bob McNally, presiden Rapidan Energy Group, mengatakan peluang untuk mencapai kesepakatan atau meredakan situasi sangat tipis, seraya mencatat kalau syarat yang diajukan kedua belah pihak sangat berbeda, di tengah kurangnya kepercayaan.

Rapidan Energy Group adalah konsultan dan riset independen terkemuka yang berbasis di Washington, DC, yang menyediakan analisis mendalam tentang pasar energi, kebijakan, dan risiko geopolitik

McNally memperkirakan ada peluang 75 persen terjadinya konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari atau minggu mendatang.

Konfrontasi militer itu diprediksi berupa skenario yang mencakup blokade angkatan laut serupa dengan Venezuela, serangan terbatas, atau bahkan konflik militer skala besar.

IBU KOTA IRAN - Bendera Iran di ibu kota mereka, Teheran. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran diguncang gelombang demonstrasi atas krisis multisektor yang terjadi di negara tersebut, mendorong aparat pemerintah melakukan aksi represif yang berujung ancaman Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan dengan menyerang pemerintah Iran.
IBU KOTA IRAN - Bendera Iran di ibu kota mereka, Teheran. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran diguncang gelombang demonstrasi atas krisis multisektor yang terjadi di negara tersebut, mendorong aparat pemerintah melakukan aksi represif yang berujung ancaman Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan dengan menyerang pemerintah Iran. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

China Dukung Iran

Terkait negosiasi Iran-AS yang sedang berlangsung, China, Jumat (6/6/2026) menegaskan kalau mereka mendukung Iran dalam membela kepentingannya dan menentang "intimidasi sepihak," bertepatan dengan pembicaraan antara Teheran dan Washington di Oman.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan bahwa Beijing "mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, martabat nasional, hak dan kepentingan sahnya," menambahkan bahwa pihaknya "menentang intimidasi sepihak."

Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Miao Diu dan mitranya dari Iran, Kazem Gharibabadi, bertemu pada hari Kamis di Beijing, di mana diplomat Iran tersebut meninjau situasi internal di negaranya.

 

 

 

(oln/khbrn/*)

 

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.