Antara HPN, PAWE dan Sejengkal Asa Yosef di Bumi Pancasila
Nofri Fuka February 06, 2026 10:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Deru mesin sepeda motor membelah keramaian pagi di Kota Ende. 

Puluhan pria berbaju hitam melaju beriringan dari Paupanda menuju Onekore. 

Di belakang mereka, sebuah mobil yang mengangkut sembako, dua jurnalis perempuan, serta dua jurnalis senior perlahan mengikuti.

Rombongan yang ternyata para jurnalis yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Ende (PAWE) menyusuri jalanan kota, meninggalkan hiruk-pikuk pusat Ende, hingga akhirnya memasuki sebuah perkampungan di pinggiran kota yang masih hijau dan tenang. 

 

Baca juga: Peringati Hari Pers Nasional, PAWE Ende Salurkan Bantuan Bagi Warga Kurang Mampu

 

 

Nafas tersengal bukan hal asing bagi para jurnalis ini. 

Medan sosial seperti itu telah lama menjadi bagian dari perjalanan profesi mereka.

Di bawah kaki Gunung Wongge, di Kampung Nua Wawo, Kelurahan Onekore, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende berdiri sebuah gubuk reot yang menjadi saksi ketabahan sebuah keluarga kecil. 

Di tempat itulah Yosef Nai bertahan hidup bersama istrinya, Tias Sri Wahyuni, serta dua buah hati mereka, Samuel Bintang Nikolaus Koro yang baru berusia empat tahun dan Fransiska Anastasia Elis yang masih berumur dua tahun.

Sudah lebih dari empat tahun keluarga ini hidup dalam keterbatasan. 

Dengan pekerjaan serabutan, Yosef hanya mampu mengantongi penghasilan sekitar Rp200.000 per minggu. 

Uang itu dipaksa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makan hingga keperluan kedua anaknya.

"Satu Minggu kadang dapat Rp 200 ribu, kadang kalau datang rejeki ya lebih, kadang tidak dapat sama sekali, ya itu sudah, tetap bersyukur," ungkap Yosef ditemani sang istri dan kedua buah hatinya.

Gubuk reot berukuran 2x3, berdinding seng bekas, berlantai tanah, itu dibangun diatas lahan milik keluarga Yusef Nai.

Hujan serta angin kencang menjadi kekuatiran tersendiri bagi mata yang melihat kondisi gubuk reot milik Yosef Nai.

Tapi bagi laki-laki paruh baya itu, mungkin sudah terbiasa dengan kondisi yang dialami.

Hanya ada satu kamar kecil sangat sederhana yang dipakai untuk tempat beristirahat, berteduh dari panas dan hujan. 

Kasur lantai lapuk dipakai untuk tidur kedua pasangan suami istri ini dan kedua anaknya yang masih balita.

Dapur tanpa dinding berada tepat depan kamar tidur, peralatan masak yang jumlahnya tidak banyak menghiasi dapur.

Penerangan listrik ditarik dari sebuah rumah permanen yang tak jauh dari gubuk reot Yosef Nai.

Untuk kebutuhan air minum bersih, Yosef dan sang istri memanfaatkan air yang keluar dari pipa yang bocor dekat SD Inpres Onekore yang jauhnya kurang lebih satu kilometer lebih dari gubuk reotnya dengan berjalan kaki.

"Listrik tarik dari rumah sebelah, kalau uang, kami bantu beli pulsa listrik, kalau air kami ambil di pipa bocor yang dekat sekolah," kata Yosef dengan senyum terpaksa dan mau menunjukkan dia dan keluarganya baik-baik saja ditengah kekurangan dan keterbatasan.

Meski serba terbatas, senyum keluarga Yosef Nai selalu terpancar dari kedua wajah lusuhnya.

Dua anaknya yang masih balita yang belum mengerti apa-apa tentang hidup seolah begitu menikmati kehidupan yang serba terbatas bersama kedua orang tuanya.

Niat untuk merubah nasib keluarga serta membangun rumah yang layak untuk istri dan anaknya terpatri jauh di lubuk hati Yosef.

"Niat untuk bangun rumah iya tapi lahan ini orang punya, ada lahan yang dikasih keluarga, luasnya 4x6 di Paupire, lorong juga tidak ada, dan uang belum ada jadi terpaksa lepas dulu," katanya.

Beruntungnya, Yosef Nai, sang istri dan anaknya yang sulung sudah masuk memiliki BPJS Kesehatan yang bisa membantu mereka saat sakit atau berobat ke fasilitas kesehatan.

"Kalau BPJS ada, hanya yang kecil ini yang belum, itu yang tanggungan pemerintah," ujarnya.

Kondisi itulah yang mengetuk empati Persatuan Wartawan Ende (PAWE). 

Menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026, PAWE memilih turun langsung ke tengah masyarakat, menyapa mereka yang kerap luput dari sorotan.

Kunjungan ke keluarga Yosef turut didampingi Lurah Onekore, Viktor Gesi Raja, bersama sejumlah staf kelurahan. 

Kehadiran pemerintah kelurahan menjadi simbol sinergi antara insan pers dan pemerintah dalam merawat kepedulian sosial.

Lurah Viktor menyampaikan apresiasinya atas inisiatif PAWE. 

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa pers tidak hanya hadir sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih kepada PAWE yang telah hadir langsung melihat kondisi warga dan memberikan bantuan. Ini bentuk kepedulian yang patut diapresiasi dan semoga menjadi inspirasi bagi banyak pihak,” ujar Viktor.

Sementara itu, Ketua PAWE Ende, Dedi Wolo, menegaskan, kegiatan anjangsana ini merupakan komitmen moral insan pers. 

Bagi PAWE, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk berpihak pada kemanusiaan.

“Menjelang Hari Pers Nasional, kami ingin berbagi dan hadir langsung di tengah masyarakat yang membutuhkan. Pers harus punya empati dan keberpihakan pada kemanusiaan,” kata Dedi.

Ia berharap, kegiatan tersebut mampu mempererat hubungan antara wartawan dan masyarakat serta menumbuhkan semangat solidaritas sosial di Kabupaten Ende, sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi insan pers.

Rangkaian kegiatan sosial ini merupakan bagian dari peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang jatuh pada 9 Februari. PAWE Ende menyiapkan sejumlah agenda yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat refleksi profesi dan penguatan peran pers di daerah.

Ketua Panitia Penyelenggara HPN PAWE, Elfridus Kondradus Siga menyebut, HPN 2026 dirancang sebagai momentum kehadiran nyata insan pers Ende di tengah masyarakat, sekaligus ruang evaluasi dan proyeksi masa depan jurnalisme lokal.

“HPN bukan hanya milik wartawan, tetapi juga milik publik. Karena itu, kegiatan yang kami susun menyentuh sisi sosial, kemanusiaan, dan intelektual,” ujar Frid Siga, Jumat (6/2/2026).

Ia memaparkan, rangkaian kegiatan dimulai pada 6 Februari 2026 dengan aksi sosial berupa anjangsana ke keluarga tidak mampu di Kelurahan Onekore dan Kelurahan Paupanda. 

Aksi ini menjadi simbol kepedulian nyata wartawan terhadap masyarakat kecil.

Pada 7 Februari 2026, PAWE akan melanjutkan kegiatan dengan silaturahmi ke keluarga wartawan yang telah meninggal dunia. 

Menurut Frid, kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi para jurnalis yang telah mengabdikan hidupnya bagi dunia pers di Ende.

“Ini adalah cara kami menjaga ingatan kolektif dan nilai kekeluargaan di tubuh pers Ende. Mereka yang telah berpulang tetap menjadi bagian dari sejarah pers daerah ini,” tuturnya.

Di Bumi Pancasila, dari sebuah gubuk sederhana di kaki Gunung Wongge, sejumput harapan kembali tumbuh, dirawat oleh empati, solidaritas, dan keberpihakan pada kemanusiaan. (Bet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.