TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Banjir yang terjadi pada Kamis (5/2), kembali memaksa warga Pait, Desa Siwalan, Kabupaten Pekalongan, meninggalkan rumahnya. Mereka harus mengungsi lagi ke tempat pengungsian Lokatex.
Satu warga, Lulu mengatakan, air mulai masuk ke permukiman sejak Kamis (5/2) dini hari, dan terus meningkat hingga siang hari. "Air mulai masuk sejak subuh sampai siang. Naiknya cepat sekali," katanya, Jumat (6/2).
Menurut dia, ini menjadi kali ketiga dirinya dan keluarga harus bolak-balik mengungsi akibat banjir yang belum juga surut sepenuhnya dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyebut, kondisi itu sebagai 'jilid ketiga' pengungsian yang mereka alami. "Akhirnya mengungsi lagi. Sudah tiga kali bolak-balik mengungsi. Mungkin ini jilid ketiga kami mengungsi lagi di Lokatex," ucapnya.
Lulu berharap, genangan air bisa segera surut, agar warga bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Dia menambahkan, banjir yang datang berulang kali tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mengganggu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari warga. "Semoga, air segera surut biar bisa aktivitas kembali," ujarnya.
Di tengah situasi sulit tersebut, Lulu juga menyampaikan apresiasi kepada para petugas yang sigap membantu proses evakuasi warga. Tim SAR gabungan, bersama TNI dan Polri dinilai cepat turun tangan saat debit air meningkat.
"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada tim SAR gabungan, TNI, dan Polri yang langsung membantu kami semua untuk mengungsi di sini," tuturnya.
Eko Gondrong, Rescuer SAR Bumi, menceritakan, tim SAR gabungan kembali menerima informasi untuk melakukan evakuasi warga yang ada di Desa Pait, Kecamatan Siwalan.
"Itu hari Kamis, waktunya subuh. Kabupaten Pekalongan diguyur hujan sejak Rabu sore hingga Kamis Pagi, sehingga membuat beberapa sungai airnya meluap," jelasnya.
Hingga Jumat (6/2) siang, ia bersama Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi korban banjir. "Pagi tadi kami masih melakukan evakuasi korban banjir di Wonokerto," bebernya.
Sementara, data PMI Kabupaten Pekalongan mencatat sebanyak 1.587 jiwa dari 510 kepala keluarga mengungsi di berbagai titik pengungsian hingga Kamis (5/2) sore, pukul 17.31.
Genangan air dilaporkan mencapai ketinggian antara 30 hingga 100 sentimeter di sejumlah kecamatan terdampak, di antaranya Wiradesa, Tirto, Sragi, Siwalan, Wonokerto, dan Buaran.
Kondisi tersebut menyebabkan terus bertambahnya jumlah pengungsi serta pembukaan posko pengungsian baru di beberapa lokasi.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko menyatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan keselamatan warga dan kelancaran distribusi bantuan.
"Curah hujan tinggi membuat debit air kembali naik di beberapa titik. Kami bersama tim gabungan terus melakukan evakuasi, asesmen, serta pendistribusian bantuan bagi warga terdampak," terangnya, Jumat (6/2).
PMI Kabupaten Pekalongan pada Kamis (5/2) mengerahkan personel untuk berbagai kegiatan tanggap darurat, termasuk evakuasi warga di Dukuh Tugurejo, Desa Pait, Kecamatan Siwalan, yang menyasar 71 jiwa.
Selain itu, PMI juga mendirikan dapur umum, membuka posko lapangan, serta menerima dan menyalurkan bantuan logistik bagi para pengungsi dan relawan.
Tak hanya itu, tim PMI dan tim SAR Gabungan juga melakukan rujukan medis terhadap seorang warga lanjut usia dari wilayah Wonokerto menuju RSUD Bendan karena kondisi kesehatan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
"Meski penanganan terus dilakukan, sejumlah kendala masih dihadapi di lapangan. Beberapa wilayah masih terendam banjir, sehingga distribusi bantuan sedikit terhambat," paparnya.
"Akses jalan di depan kantor eks kecamatan Wiradesa yang sedang dalam perbaikan juga menyebabkan kemacetan, sementara kenaikan debit air memperbesar potensi meluasnya genangan," sambungnya.
Adapun, Pemkab Pekalongan hingga kini belum menetapkan status tanggap darurat bencana, meski banjir di kabupaten itu sudah terjadi selama tiga pekan.
Wakil Bupati Pekalongan, Sukirman mengatakan, penetapan status tanggap darurat harus melalui kajian yang matang agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran.
Menurutnya, pemda tidak ingin tergesa-gesa dalam menentukan status, tanpa mempertimbangkan efektivitas langkah penanganan yang sudah berjalan.
"Kami sedang mengkaji itu. Ibu Bupati terus melakukan berbagai upaya. Soal tanggap darurat memang dilihat dari sisi dampaknya, apakah sangat luas dan sebagainya. Lalu, kami juga sedang mencoba efisiensi anggaran, jadi kami lihat sejauh mana efektivitasnya," katanya, Jumat (6/2).
Sukirman menuturkan, prioritas utama saat ini adalah memastikan kebutuhan para pengungsi terpenuhi dengan baik.
Dia menambahkan, pemkab terus berupaya menjamin ketersediaan logistik, layanan kesehatan, serta dukungan dasar lain bagi warga terdampak.
"Yang penting hari ini semua pengungsi sudah terlayani dengan baik. Kemudian kami tinggal berpikir bagaimana menata lingkungannya ke depan," bebernya. (Indra Dwi Purnomo)