TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Tekanan di pasar aset kripto masih berlanjut seiring dengan meningkatnya aksi jual global.
Pada Jumat (6/2), pukul 17.40 WIB, harga Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 7,5 persen dalam satu hari, dan 28 persen secara bulanan ke level 65.914 dolar AS.
Selain itu, aset kripto lain seperti Ethereum (ETH) juga sama-sama jatuh hingga 9,4 persen sehari, dan 40 persen dalam sebulan terakhir menjadi 1.924 dolar AS.
Founder dan CEO TRIV, Gabriel Rey menilai, satu sentimen utama yang memicu penurunan tajam ini berasal dari aksi jual yang dilakukan oleh BlackRock.
Manajer investasi besar asal AS itu baru saja melepas lebih dari sekitar 3.500 unit Bitcoin, yang berdampak signifikan terhadap pergerakan harga di pasar.
“BlackRock ini kan melakukan penjualan atas instruksi nasabahnya. Jadi saya rasa dalam item ini sentimen masih bearish karena terus ada potensi penjualan,” katanya, kepada Kontan, Jumat (6/2).
Tak hanya Bitcoin, tekanan juga datang dari aset Ethereum. Gabriel menyebut, BlackRock turut menjual sekitar 27.000 unit Ethereum baru-baru ini.
Selain itu, sentimen negatif semakin kuat setelah Vitalik Buterin, pendiri Ethereum, dilaporkan menjual Ethereum senilai puluhan juta dolar selama 3 hari berturut-turut. Hal itu menjadi katalis tambahan yang membuat pasar kripto semakin tertekan.
Di luar faktor aksi jual, kondisi likuiditas global juga menjadi perhatian. Gabriel menilai, pasar kripto saat ini masih mengalami liquidity crunch, di mana belum ada aliran dana baru yang masuk secara signifikan.
Kondisi tersebut membuat pasar cenderung bergerak sideways atau bearish. “Saya melihat sentimen ini bisa berlanjut sampai ada pergantian Powell (Ketua The Fed-Red)," ucapnya.
Di tengah fluktuasi yang tinggi, Gabriel menyarankan investor menyesuaikan strategi dengan profil risikonya.
Bagi investor yang bermain di instrumen futures atau menggunakan leverage, ia menekankan pentingnya disiplin dalam memasang stop loss.
Sementara, bagi investor yang memegang aset kripto di pasar spot, khususnya Bitcoin, kondisi koreksi saat ini justru dinilai sebagai peluang akumulasi secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA).
Dengan berbagai faktor tersebut, Ia memperkirakan skenario terburuk penurunan BTC berada di sekitar 60 persen dari level puncak 126.000 dolar AS, atau masih di atas area 50.000 di sepanjang tahun ini.
"Karena support terkuat saat ini harusnya berada di sekitaran angka 66.000 sekian dolar AS. Saya rasa cycle ini tidak akan turun lebih dari 70 persen. Jadi the worst case harusnya 60 persen dari 126.000 dolar AS, itu titik paling parah," tukasnya.
Ke depan, Gabriel juga menyinggung faktor politik AS sebagai potensi penyokong. Ia menilai, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan mengambil langkah tertentu apabila pasar saham dan kripto mengalami penurunan tajam. (Kontan/Vatrischa Putri Nur)