TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk pada perdagangan Jumat (6/2), dengan ditutup turun 168,62 poin atau 2,08 persen di level 7.935,26. Dalam sepekan, IHSG terkoreksi 4,73 persen.
Tekanan IHSG terbaru datang dari lembaga pemeringkat utang Moody’s yang menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, dari sebelumnya stabil.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai, tekanan IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang memperburuk persepsi risiko investor terhadap pasar Indonesia.
“Pergerakan IHSG dipengaruhi sentimen dari MSCI yang saat ini meminta sejumlah persyaratan seperti free float dan transparansi emiten di IHSG,” katanya, kepada Kontan, Jumat (6/2).
"Selain itu, downgrade dari beberapa institusi asing seperti UBS, Goldman Sachs, dan Moody’s ikut mendorong membesarnya outflow asing," sambungnya.
Di sisi domestik, meurut dia, pelaku pasar juga mencermati rilis data makroekonomi terbaru. Inflasi Indonesia tercatat berada di level 3,55 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 mencapai 5,39 persen year on year (yoy).
Herditya menuturkan, kombinasi tekanan sentimen dan kehati-hatian terhadap kondisi makro membuat investor cenderung melakukan aksi jual, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi incaran dana asing.
Dari sisi global, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyatakan, pelemahan data tenaga kerja Amerika Serikat turut memperburuk sentimen pasar keuangan global.
“Pelemahan data tenaga kerja AS meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global. Apalagi, rilis nonfarm payroll Januari 2026 sempat tertunda akibat government shutdown sebelumnya,” jelasnya.
Selain itu, dia menambahkan, pasar juga bereaksi terhadap dinamika kebijakan interim freeze MSCI terhadap indeks saham Indonesia.
Kondisi itu kemudian diikuti langkah Moody’s yang mengubah outlook kredit Indonesia dari stable menjadi negative pada 5 Februari 2026, meskipun peringkat utang negara tetap dipertahankan di level Baa2 atau investment grade.
“Selama tidak terjadi downgrade peringkat utang Indonesia, pasar masih berharap penguatan kebijakan fiskal dan moneter yang pro-market, peningkatan good governance, transparansi pasar, serta reformasi peran Danantara dapat menjaga kepercayaan investor,” ucapnya.
Memasuki pekan depan, Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan peluang penguatan terbatas. Ia memetakan level support IHSG di kisaran 7.854 dan resistance di area 8.214.
“Investor masih akan mencermati perkembangan lanjutan dari MSCI, sentimen downgrade institusi asing, serta pergerakan harga komoditas dunia,” bebernya.
Untuk strategi jangka pendek, ia menyarankan investor mencermati sejumlah saham yang dinilai memiliki peluang teknikal, seperti AMRT, AUTO, serta NCKL.
Secara keseluruhan, analis menilai koreksi IHSG saat ini mencerminkan penyesuaian pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global dan domestik.
Dalam jangka pendek, pergerakan indeks dinilai masih akan sensitif terhadap arus dana asing, sentimen makro global, serta respons otoritas terhadap isu transparansi dan kepercayaan pasar. (Kontan/Muhammad Alief Andri)