TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) di Jalan Iskandar, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, pernah menjadi denyut utama roda ekonomi masyarakat.
Sejak berdiri pada 2004, pasar ini menjadi tujuan belanja favorit warga, terutama untuk kebutuhan sandang dan perlengkapan rumah tangga. Namun, kejayaan itu kini perlahan memudar.
Pantauan TribunKklteng.com di lokasi, Sabtu (7/2/2026), menunjukkan suasana Pasar PPM Sampit yang jauh dari kata ramai.
Di lantai II, puluhan kios tampak tertutup. Dari deretan toko yang ada, tak sampai separuhnya masih bertahan membuka lapak. Lorong pasar terasa lengang, hanya sesekali dilewati pengunjung.
Lili, pedagang pakaian di Pasar PPM Sampit mengaku, telah merasakan langsung pasang surut kondisi pasar tersebut. Ia mulai berjualan sejak tahun 2005 silam, tak lama setelah pasar itu beroperasi.
“Saya jualan di sini sudah 21 tahun. Dari tahun 2005,” ujar Lili yang berjualan di Toko Haikal, Lantai II Nomor 119.
Menurutnya, penurunan jumlah pembeli mulai terasa sejak 2014. Meski begitu, kala itu masih ada pemasukan yang bisa diandalkan. Kondisi paling memprihatinkan justru terjadi dalam dua tahun terakhir.
“Mulai sepi itu sebenarnya dari 2014 ke atas. Tapi yang benar-benar anjlok itu 2025, dan 2026 ini lebih parah lagi. Waktu COVID-19 malah masih mending, masih ramai,” ungkapnya.
Lili mengenang masa-masa ketika Pasar PPM Sampit berada di puncak kejayaannya. Sebelum 2014, omzet bulanannya bisa mencapai Rp 50 juta hingga Rp70 juta. Kini, angka tersebut turun drastis.
“Sekarang paling dua sampai tiga juta per bulan. Kadang ada seminggu tidak dapat uang sama sekali,” katanya.
Ia menilai perubahan pola belanja masyarakat menjadi faktor utama.
Kehadiran belanja online, pusat perbelanjaan modern, serta toko serba ada membuat pasar tradisional seperti PPM Sampit semakin ditinggalkan.
“Harga di sini sama saja dengan di luar. Tapi orang sekarang maunya yang praktis, malas naik ke lantai atas,” ujarnya.
Selain itu, kondisi internal pasar juga ikut mempengaruhi. Mulai dari kebersihan, penataan, hingga jumlah pedagang yang dinilai tak sebanding dengan jumlah pembeli.
“Sekarang ini yang jualan lebih banyak daripada yang belanja,” tutur Lili.
Bahkan momen-momen yang dulu selalu ramai, seperti menjelang Ramadan, Lebaran, maupun saat mispuk, kini tak lagi berdampak signifikan.
“Dulu kalau mau hari raya itu ramai sekali. Sekarang mau Lebaran pun tetap sepi,” katanya.
Meski begitu, harapan masih tersisa. Lili mengaku mendengar adanya rencana pemerintah daerah untuk menata ulang Pasar PPM Sampit, termasuk konsep baru seperti rooftop dan area nongkrong untuk menarik pengunjung.
Baca juga: Sengketa Parkir Elektronik PPM Sampit Berakhir, Pemkab Kotim Menang PK di Mahkamah Agung
Baca juga: Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Kotim Janjikan Akan Lakukan Pembenahan PPM Sampit
“Kalau memang ditata ulang dan benar-benar direalisasikan, kami ikut saja. Yang penting pasarnya hidup lagi,” ujarnya.
Di tengah kios-kios yang mulai kosong dan omzet yang terus menurun, pedagang lama seperti Lili memilih bertahan.
Pasar PPM Sampit, bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi ruang hidup telah menemani perjalanan mereka selama puluhan tahun.