Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Di sebuah dusun terpencil bernama Nekto, Desa Raiulun, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, nama Goreti Ulu dikenal bukan sekadar sebagai guru.
Perempuan berusia 41 tahun itu adalah satu-satunya pengajar yang hingga kini setia mendampingi anak-anak SD Nekto, sebuah sekolah dasar kelas jauh dari SD Inpres Ninma, dalam segala keterbatasan yang ada.
Setiap hari, Goreti mengajar siswa dari kelas satu hingga kelas lima seorang diri. Di ruang belajar sederhana beratapkan daun gewang, berdinding bebak, dan berlantaikan tanah, ia menjalankan peran sebagai guru kelas, wali murid, sekaligus orang tua kedua bagi anak-anak di dusun tersebut.
Dengan segala keterbatasan fasilitas, ia tetap berusaha memastikan anak-anak bisa membaca, menulis, dan berhitung sebagai bekal masa depan mereka.
Pengabdian Goreti jauh melampaui kewajiban formal seorang pendidik. Insentif yang ia terima dari sekolah induk, SD Inpres Ninma, hanya sebesar Rp 200.000 per bulan.
Jumlah itu pun sering kali diterima dalam waktu yang tidak menentu. Terkadang baru dibayarkan setelah enam bulan, bahkan hingga satu tahun. Nilai tersebut jelas tidak sebanding dengan tanggung jawab, tenaga, dan waktu yang ia curahkan selama hampir lima tahun terakhir.
Baca juga: Warga Dusun Nekto Berharap SD Nekto Diperhatikan, Jarak Sekolah Jadi Beban Anak-anak
Namun bagi Goreti, mengajar bukan semata soal materi. Sejak mulai mengajar di SD Nekto pada tahun 2022, ia memilih bertahan karena kepeduliannya terhadap anak-anak Dusun Nekto yang harus menempuh jarak jauh jika ingin bersekolah ke tempat lain.
Medan berat dan jarak yang mencapai beberapa kilometer menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan pendidikan mereka.
Di balik keteguhan hatinya sebagai pendidik, Goreti juga adalah seorang ibu dari empat orang anak. Anak sulungnya, seorang laki-laki, telah menamatkan pendidikan SMA dua tahun lalu dan tahun ini berencana melanjutkan kuliah. Anak keduanya masih duduk di kelas tiga SMA, anak ketiga bersekolah di kelas enam SD, sementara anak bungsunya yang berjenis kelamin perempuan masih mengenyam pendidikan di kelas satu SD.
Goreti menjalani kehidupan rumah tangga bersama suaminya, Agustinus Manek (41), yang bekerja sebagai petani sekaligus ojek untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan penghasilan yang pas-pasan, kehidupan mereka jauh dari kata berkecukupan. Meski demikian, Goreti tetap memilih mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak-anak di dusun tempat ia tinggal.
Pengorbanannya tidak berhenti pada tenaga dan waktu. Lahan tempat berdirinya gedung SD Nekto merupakan tanah milik pribadi Goreti yang ia serahkan secara cuma-cuma kepada sekolah induk. Tanah tersebut digunakan untuk membangun sekolah kelas jauh agar anak-anak Dusun Nekto memiliki tempat belajar yang lebih dekat dan mudah dijangkau.
Bagi Goreti, sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan ruang harapan. Di sanalah mimpi-mimpi kecil anak-anak Nekto ditanam dan dirawat, meski sering kali harus berhadapan dengan hujan, angin, dan dinding yang rapuh. Dalam sunyi dan keterbatasan, Goreti Ulu terus berdiri tegak untuk mengajar, membimbing, dan menjaga nyala harapan agar pendidikan tetap hidup di bawah atap daun gewang. (ito)