Radical Break: Titik Balik yang Mengubah Nasib Bangsa
Muhammad Afdal Afrianto February 07, 2026 05:27 PM

Oleh: Tommy TRD, S.STP, M.IP, Alumni Magister Ilmu Politik Unand

Jika berkaca dari beberapa sejarah perjalanan panjang dan perubahan nasib bangsa-bangsa di dunia, maka bisa ditemukan satu persamaan yang sering terjadi sebelum perubahan besar. 

Rocky Gerung mempopulerkannya dengan istilah radical break. Yaitu sebuah perubahan mendasar baik itu dalam aspek kebijakan, kelembagaan, personil, dan pemutusan pengaruh masa lalu dalam mayoritas aspek. 

Dalam bentuk yang lebih soft, radical break sering disamakan dengan thinking out of the box. Namun radical break lebih kepada aksi perubahan mendasar, executable, 180 derajat, dan dalam waktu singkat. 

Kembali ke sejarah perjalanan bangsa-bangsa di dunia.  Radical break selalu terjadi sebelum perubahan nasib sebuah bangsa. Yang paling fenomenal tentu Cina.

Baca juga: Opini Ruang Kota Tanpa Asap: Car Free Day Antara Negara Serumpun Indonesia & Malaysia

Bagaimana sebuah negara miskin, berpenduduk padat, pertanian lemah, terjebak dengan candu, menjadi negara maju, powerful, dengan ekonomi kuat, dan memiliki pengaruh geopolitik luas. Apa yang menyebabkan perubahan itu ? 

Merdeka pada tahun 1949 di bawah kepemimpinan Mao Zedong yang “sangat komunis”, dan serba tersentral, radical break Cina terjadi pada tahun 1978 di era kepemimpinan Deng Xiaoping, dengan open door policy pada sektor investasi, Zona Ekonomi Khusus, Segmentasi Liberalisasi Ekonomi, dan Household Responsibility System pada sektor pertanian. 

Salah satu yang paling menarik dari kepemimpinan Deng Xiaoping dalam melakukan radical break ini adalah keberhasilannya melakukan separasi atau pembatasan antara ideologi dan ekonomi negara. 

Negara komunis yang sebelumnya dikenal dengan serba terpusat, tersentral dan garis komando yang kaku dari pusat hingga desa, dalam semua aspek bernegara, berubah menjadi lebih “fleksibel” di tangan Deng Xiaoping. 

Cina dengan ideologi komunis yang begitu dekat dengan ekonomi sosialis, berubah menjadi hybrid. Dengan ideologi yang tetap komunis namun dengan ekonomi yang liberalis. 

“Tidak masalah kucing hitam atau putih, selama bisa menangkap tikus itu kucing yang baik” ucap Deng Xiaoping menjelaskan pragmatisme kepemimpinan dan kebijakannya. 

Baca juga: Opini Isyarat Nonverbal di Jalanan, Mengulik Gaya Berkendara di Indonesia dan Malaysia

Menandakan keberhasilan radical break Deng Xiaoping, melebihi angka-angka di atas kertas, bahwa dasar kebijakannya telah menjadi blue print dan dilanjutkan berdekade sesudahnya oleh penggantinya, dari Jiang Zemin, Hu Jintao hingga Xi Jinping. 

Dari Radical Break Deng Xiaoping di Cina, kita bisa melihat bahwa kemajuan suatu bangsa membutuhkan titik balik yang dianalisa dengan baik, pemimpin yang kompeten, kebijakan yang proporsional namun efektif, serta berorientasi jauh ke depan. Semua faktor itu menggaransi pertumbuhan yang terukur dan signifikan. 

Konon Napoleon Bonaparte pernah mengatakan kepada salah seorang diplomat Inggris, “ketika Cina terbangun dunia akan bergetar”.

Sayang sekali Napoleon tidak sempat membuktikan bagaimana perkataannya ratusan tahun yang lalu itu begitu tepat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.