Warisan Kertas bagi Sang Leluhur: Kisah Ong Bing Hok Menjaga Tradisi Rumah Arwah di Gang Cilik
Rustam Aji February 07, 2026 08:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – "Orang yang meninggal dikirimi rumah supaya di sana tidak terlantar," ujar Ong Bing Hok (78) lirih.

Di tengah keriuhan kawasan Pecinan Semarang menyambut Tahun Baru Imlek, jemari senjanya masih tampak lincah merakit bilah-bilah bambu dan lembaran kertas karton.

Di sebuah ruko sederhana di depan Klenteng Hoo Hok Bio, Gang Cilik, Ong sedang membangun "hunian" bagi mereka yang telah tiada.

Ong bukan sekadar perajin.

Ia adalah saksi hidup sekaligus penjaga tradisi Rumah Arwah (Cia-Cia) generasi keempat di Kota Semarang. 

Bisnis keluarga ini memiliki akar panjang sejak buyutnya, Ong See, merantau dari Hokkian, Tiongkok, pada medio 1800-an.

 Bagi warga Tionghoa, miniatur ini bukan sekadar replika, melainkan bakti terakhir agar kerabat yang wafat mendapatkan kemuliaan di alam baka.

Baca juga: Suntikan Tenaga Baru, PSIS Semarang Rekrut Tiga Pemain Sekaligus demi Lepas dari Papan Bawah

Melintasi Zaman: Dari Diskriminasi hingga Era Gus Dur

Perjalanan bisnis Rumah Arwah Ong merupakan cermin pasang surut sejarah Tionghoa di Indonesia.

Ong mengisahkan bagaimana kakeknya, Ong Wan Giam, masih bisa bernapas lega saat rezim Soekarno.

Namun, masa gelap menyapa ketika sang ayah, Ong Bunjun, memegang kendali. Di era Soeharto, bisnis ini sempat mati suri akibat tekanan diskriminasi kebijakan negara.

"Selepas era Gus Dur, Bapak Tionghoa Indonesia, tradisi kebudayaan rumah arwah bisa kembali dilakukan. Kini, anak saya meneruskannya sebagai generasi kelima," kata Ong kepada Tribun, Sabtu (7/2/2026).

Evolusi Desain: Dari Replika Kerajaan ke Gaya Minimalis

Dahulu, rumah arwah identik dengan bentuk megah menyerupai klenteng atau istana Tiongkok kuno.

Tradisi ini muncul sejak zaman kerajaan sebagai bentuk penghormatan bagi raja yang mangkat.

Namun, seiring waktu, desain rumah arwah mengikuti tren properti dunia nyata.

"Kalau sekarang rumah arwah lebih berbentuk minimalis, mengikuti model perumahan pada umumnya," papar Ong.

Uniknya, ada satu pantangan yang dipegang teguh: rumah arwah tidak boleh dibuat identik dengan rumah asli mendiang di dunia.

Baca juga: Diduga Rem Blong, Truk Box Tabrak Truk Engkel di Turunan Kemranjen Banyumas, Kondisi Mobil Ringsek

Keyakinan lokal menyebutkan, kemiripan yang mutlak bisa membuat keluarga yang ditinggalkan merasa tidak tenang. Sebagai solusinya, Ong menawarkan berbagai template desain yang bisa dipersonalisasi.

Hobi yang Dibawa Mati: Dari Mahyong hingga Kapal Kargo

Layanan Ong melampaui sekadar atap dan dinding. Rumah arwah buatannya adalah paket komplit gaya hidup mendiang.

Ia seringkali mendapat pesanan tak lazim untuk melengkapi isi rumah:

Hobi: Meja judi mahyong, mesin dingdong, hingga ayam jago petarung.

Transportasi: Pesawat, motor trail, becak, hingga kapal kargo.

Fasilitas: Kolam renang, kafe, hingga buah durian favorit mendiang.

Setiap rumah dikerjakan dengan detail presisi—lengkap dengan halaman, ruang tamu, perabotan, hingga foto mendiang yang dipasang di bagian depan sebagai identitas "pemilik".

Nilai Ekonomi di Balik Ritual

Kualitas dan detail yang rumit membuat karya Ong dihargai tinggi.

Satu unit rumah arwah dibanderol mulai dari Rp3 juta hingga Rp 15 juta, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.

Baca juga: Insiden Sopir Mobil MBG Mengamuk di Kebumen Berakhir Damai, Polisi: Diselesaikan Kekeluargaan

Proses pembuatannya memakan waktu seminggu hingga satu bulan penuh.

Menjelang Imlek, pesanan meningkat tajam.

Jika biasanya ia hanya menerima satu atau dua pesanan per bulan, kini ia harus merampungkan lima rumah sekaligus.

Konsumennya pun tak main-main, mencakup wilayah Jawa Tengah hingga merambah Banjarmasin, Batam, dan Lombok.

Bagi Ong Bing Hok, setiap lembar kertas yang ia lem bukan sekadar mengejar profit, melainkan merawat "jembatan" kasih sayang antara dunia dan keabadian.  (Iwn)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.