Berita Duka, Pengungsi Banjir Pekalongan Meninggal Dunia
rival al manaf February 07, 2026 10:14 PM

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Duka menyelimuti para pengungsi banjir di Desa Pacar, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Di tengah genangan air yang belum juga surut selama hampir sebulan terakhir, seorang pengungsi lanjut usia meninggal dunia saat berada di posko pengungsian Masjid Dupantex, Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.


Korban diketahui bernama Alipah, warga RT 03 RW 02 Desa Pacar.


Ketua RW 2 Desa Pacar, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Sonhaji, menuturkan, almarhumah Alipah memang sudah dalam kondisi lemah sebelum mengungsi.


Faktor usia lanjut, serta riwayat sakit menjadi penyebab kondisi kesehatannya terus menurun.


"Memang sudah lansia dan sering sakit-sakitan. Meninggal dunia di pengungsian Masjid Dupantex," ujar Sonhaji saat dihubungi Tribunjateng.com.


Sebelum berada di posko pengungsian, korban sempat tinggal di rumah menantunya selama sekitar satu minggu untuk menghindari banjir. Namun karena merasa tidak betah dan ingin kembali ke rumah sendiri, ia pulang ke Desa Pacar.


Tak lama berselang, banjir kembali datang secara mendadak dan memaksa korban mengungsi bersama warga lainnya.


Selama di pengungsian, pelayanan kesehatan bagi para pengungsi disebut berjalan rutin. Saat kondisi korban memburuk, petugas kesehatan turut mendampingi hingga proses penanganan terakhir.


"Saat itu, petugas dari puskesmas Sragi yang masih bertugas di tempat pengungsian selalu memantau dan melakukan pemeriksaan," ujarnya.


Kemudian, jenazah di makamkan di TPU  Bulu Desa Pacar dan di salatkan di Masjid Nurul Hasan Pacar, sekitar pukul 17.00 WIB


"Ambulans yang membawa jenazah juga dari Puskesmas Sragi," jelas Sonhaji.


Hingga kini, kondisi banjir di wilayah RW 02 Desa Pacar masih cukup tinggi. Ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan mencapai sekitar 60 sentimeter, membuat sebagian warga belum bisa kembali ke rumah.


Di Mushola Al-Ikhwan yang juga difungsikan sebagai tempat pengungsian, tercatat 25 jiwa masih bertahan. Mayoritas pengungsi adalah orang dewasa, dengan satu anak berusia empat tahun.


"Saya mengungsi di Musala Al-Ikhwan, dan masih makan malam bersama pengungsi yang lain," ucapnya.


Untuk kebutuhan logistik, Sonhaji mengatakan bantuan makanan dari pemerintah masih rutin disalurkan tiga kali sehari melalui Dinas Sosial. Ketersediaan air minum juga masih mencukupi, dibantu dari stok di musala.


Meski kebutuhan dasar relatif terpenuhi, warga berharap banjir berkepanjangan segera mendapat penanganan serius. Aktivitas ekonomi lumpuh karena rumah terendam, kendaraan rusak, dan akses menuju tempat kerja harus menembus genangan.


"Harapan kami ke depan jangan sampai banjir selama ini terulang lagi. Sudah lama sekali, warga susah bekerja dan beraktivitas," pungkas Sonhaji.


Berdasarkan data dari PMI Kabupaten Pekalongan, Sabtu (7/2/2026), sekitar pukul 18.25 WIB terdapat pengungsi sebanyak 1.942 jiwa dan mengungsi di 25 tempat pengungsian. (Dro) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.