Sitti Halimah, Guru SD di Sebatik Tengah Nunukan Viral Diduga Dianiaya Oknum Kepsek, Dilempar Kursi
Weni Wahyuny February 08, 2026 02:32 AM

Sitti Halimah, seorang guru agama di SD Negeri 001 Sebatik Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara, belakangan viral di media sosial usai diduga menjadi korban bullying dan penganiayaan oleh oknum kepala sekolah,

Berawal dari curahan hati Muhammad Nurhidayat, sang anak yang dituangkan di media sosial.

Dalam unggahannya itu, tampak seorang perempuan mengenakan pakaian guru dan berkerudung cokelat, terbaring lemas di atas ranjang perawatan. 

Terlihat selang infus terpasang di wajahnya.

Kondisi korban bahkan dilaporkan sempat merosot tajam hingga harus mendapatkan perawatan medis di Kota Tarakan. 

Dalam narasinya, Muhammad Nurhidayat menceritakan ketegaran Ibu Halimah selama menghadapi tekanan di lingkungan sekolah. 

sitti halimah guru sebatik tengah nunukan dianiaya kepsek
DUGAAN DIANIAYA - Unggahan medsos yang kini viral di Nunukan. Seorang guru SD diduga menjadi korban bulying dan penganiayaan kepala sekolah tempatnya mengajar.

Korban disebut selalu pulang ke rumah dengan senyum manis, seolah tanpa beban, demi menenangkan perasaan anak-anaknya. 

Namun di balik itu, Ibu Halimah diduga harus menelan kepahitan akibat intimidasi yang dialaminya di tempat kerja. 

Dalam unggahan tersebut diceritakan bahwa Kepala Sekolah SDN 001 Sebatik Tengah melarang Ibu Halimah masuk ke ruang kantor guru dan memaksanya beraktivitas di perpustakaan dengan fasilitas yang minim. 

Tidak hanya itu, Ibu Halimah juga diduga mengalami tindakan kekerasan fisik, di mana kepala sekolah disebut melempar kursi serta sekop sampah ke arah korban. 

Serangkaian tindakan kasar tersebut diduga menghancurkan kondisi mental korban, hingga akhirnya jatuh sakit dan membutuhkan perawatan medis. 

Dugaan tindakan sewenang-wenang tersebut juga menyentuh aspek kesejahteraan finansial korban. 

Kepala sekolah disebut secara sengaja menahan tanda tangan untuk kelengkapan berkas administrasi. 

Akibatnya, Ibu Halimah gagal mencairkan tunjangan sertifikasi selama satu tahun dengan nilai mencapai Rp 45 juta. 

Muhammad Nurhidayat menyayangkan sikap pimpinan sekolah yang dinilainya mencampuradukkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan. 

Ia menilai keputusan yang diambil didasarkan pada dendam dan kepentingan pribadi, bukan profesionalisme sebagai seorang pendidik.

Berikut isi curhatan yang kini menjadi sorotan tajam warga Nunukan: 

‘Mama dizolimi sama kepala sekolah Mama. Mama tidak diperbolehkan masuk ke ruang kantor guru, dan istirahat hanya di perpustakaan tanpa fasilitas apapun. 

Mama tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan kegiatan sekolah. Dan tidak boleh masuk ke grup sekolah. 

Mama tidak diberikan TTD untuk kelengkapan berkas, yang mengakibatkan tunjangan sertifikasi selama satu tahun sebesar Rp 45 juta tidak bisa dicairkan. 

Sesabar itukah Mama. 

Mama, maafkan anakmu Ma, sampai Mama dilempar kursi dan sekop sampah pun Mama masih berusaha tegar, tapi jiwa dan mental Mama tidak sanggup lagi sampai sedrop ini. 

Maafkan kami anakmu Mama, belum bisa berikan kebahagiaan di hari tuamu, tapi justru masih terus tegar berjuang dengan kehidupanmu yang penuh ketidak adilan,’. 

Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan melalui sambungan telepon dan pesan singkat tidak mendapat balasan. 

Masih Diselidiki

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Akhmad, juga menyatakan belum dapat memberikan komentar lebih jauh terkait kasus yang tengah memicu kemarahan warga tersebut. 

‘’Saya belum bisa berkomentar,’’ ujarnya melalui pesan WhatsApp. A

Akhmad yang tengah mengikuti kegiatan Musrenbang di wilayah pedalaman Nunukan mengklaim telah meminta dilakukan penyelidikan dan investigasi untuk memastikan kronologi kejadian sebenarnya. 

‘’Kita masih selidiki kejadiannya seperti apa,’’ kata Akhmad.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.