Prabowo Tekankan Seorang Pemimpin Tak Boleh Punya Dendam dan Ajakan Bersatu demi Perdamaian Bangsa
Nur Rohman Urip February 08, 2026 11:42 AM

- Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh elemen bangsa di Indonesia untuk memperkuat persatuan demi terciptanya suasana yang damai. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak seharusnya memelihara dendam, rasa dengki, ataupun sibuk menyalahkan pihak lain.

Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). Dalam kesempatan itu, Prabowo menyoroti peran NU yang konsisten menjaga persatuan nasional.

"Saudara-saudara sekalian, NU selalu memberi contoh. NU selalu berusaha untuk menjaga persatuan. Dan memang itulah pelajaran sejarah. Tidak ada bangsa yang kuat, tidak ada bangsa yang bisa maju kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun," kata Prabowo dalam sambutannya.

Prabowo menyampaikan bahwa perbedaan pandangan, perdebatan, maupun persaingan adalah hal yang wajar dalam kehidupan berbangsa. Namun, ia menekankan bahwa pada akhirnya seluruh pihak harus kembali pada semangat kebersamaan dan persatuan nasional.

"Karena itu, saya selalu mengajak semua unsur selalu mari kita bersatu. Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia, semua pemimpin masyarakat harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan," katanya.

Menurut Prabowo, sejarah membuktikan bahwa kesejahteraan tidak akan terwujud tanpa adanya perdamaian. Ia menilai perdamaian mustahil tercapai apabila para pemimpin bangsa tidak mampu bersatu.

Ia pun mengajak seluruh pemimpin di berbagai bidang untuk solid dan menempatkan kepentingan rakyat sebagai tujuan utama, bukan terjebak pada sikap saling menyalahkan.

"Para pemimpin di setiap eselon, pemimpin politik, pemimpin ekonomi, pemimpin intelektual, semuanya harus berpikir, berpikir, berpikir, berjuang, mengabdi untuk kepentingan rakyat Indonesia semuanya," kata Prabowo.

"Tidak boleh pemimpin punya dendam, tidak boleh pemimpin punya rasa benci, tidak boleh pemimpin punya rasa dengki, tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan pihak lain," sambungnya.

Prabowo kemudian mengutip nilai-nilai filosofi Jawa yang mengajarkan pentingnya menyingkirkan kebencian dan dendam. Ia menegaskan bahwa perbedaan seharusnya menjadi pintu menuju dialog, persatuan, dan musyawarah bersama.

"Guru-guru kita, kiai-kiai kita, leluhur kita mengajarkan selalu 'mikul dhuwur mendhem jero'. Tidak boleh ada rasa benci, tidak boleh ada rasa dendam. Berbeda tidak masalah. Sesudah berbeda cari persatuan, cari kesamaan, musyawarah untuk mufakat. Itu kepribadian bangsa Indonesia," imbuhnya.

Program: Tribunnews Update
Host: Thalia Iza
Editor Video: Nur Rohman Urip
Uploader: bagus gema praditiya sukirman

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.