Bacaan Injil Katolik Senin 9 Februari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik
Gordy Donovan February 08, 2026 11:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak bacaan injil Katolik Senin 9 Februari 2026.

Bacaan injil katolik lengkap renungan harian Katolik.

Senin 9 Februari 2026 merupakan hari Senin biasa V, Santa Apolonia, Martir, Santo Paulinus Aquileia, Pengaku Iman, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi katolik hari Senin 9 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Orang Muda Katolik dan Salib NYD: Simbol Keimanan, Persaudaraan dan Ketekunan

Bacaan Pertama 1 Raja-Raja 8:1-7.9-13

"Imam-imam membawa tabut perjanjian ke tempat mahakudus dan datanglah awan memenuhi rumah Tuhan."

Setelah Rumah Allah selesai dibangun, Raja Salomo memerintahkan para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin keluarga Israel , berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian Tuhan dari kota Daud, yaitu Sion. 

Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan Raja Salomo semua orang Israel . Setelah semua tua-tua Israel datang, imam-imam mengangkat tabut itu. 

Mereka mengangkut tabut Tuhan dan Kemah Pertemuan serta segala barang kudus yang ada dalam kemah itu. Semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi.

Sedang Raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan terbilang banyaknya. 

Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian Tuhan itu ke tempatnya, yakni di ruang belakang rumah itu, di tempat mahakudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub.

Sebab kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungan dari atas. 

Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan Tuhan dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir. 

Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, turunlah awan memenuhi rumah Tuhan, sehingga oleh karena awan itu, imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu. 

Pada waktu itu berkatalah Salomo, “Tuhan telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 132:6-7.8-10
Reff. Semoga Tuhan bersukacita atas karya-Nya.

Dengarlah! Kami dengar tabut itu ada di Efrata, kami telah mendapatinya di padang Yaar. “Mari kita pergi ke tempat kediaman-Nya, dan sujud menyembah pada tumpuan kaki-Nya.”

Bangunlah, ya Tuhan dan pergilah ke tempat peristirahatan-Mu, Engkau serta tabut kekuasaan-Mu. Biarlah imam-imam-Mu berpakaian kebenaran, dan biarlah bersorak-sorai orang-orang yang Kaukasihi. Demi Daud, hamba-Mu janganlah Engkau menolak orang yang Kauurapi.

Bait Pengantar Injil Alleluya
Ref. Alleluya.

Ayat: Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.

Bacaan Injil Markus 6:53-56

"Semua orang yang menjamah Yesus, menjadi sembuh."

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.

Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. 

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya,

supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

“Disentuh oleh Iman yang Sederhana” Injil: Markus 6:53–56

 Iman yang Datang dengan Harapan

Kadang kita membayangkan iman harus selalu besar, kuat, dan heroik. Kita berpikir bahwa untuk mengalami karya Tuhan, kita harus memiliki keyakinan yang luar biasa. Namun Injil hari ini justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Dalam Markus 6:53–56, Yesus berjumpa dengan orang-orang yang datang kepada-Nya dengan iman yang sangat sederhana, bahkan nyaris tanpa kata.

Mereka tidak menyampaikan doa panjang. Mereka tidak berdiskusi teologis. Mereka hanya membawa orang-orang sakit dan berharap: “Asal mereka menyentuh jumbai jubah-Nya, mereka akan sembuh.”

Dalam renungan Katolik hari ini, kita diajak menyadari bahwa Tuhan bekerja bukan terutama melalui iman yang keras dan lantang, tetapi melalui iman yang rendah hati dan penuh harap.

Yesus Hadir di Tengah Kehidupan Sehari-hari

Setelah menyeberang dan tiba di Genesaret, Yesus segera dikenali. Kabar tentang kehadiran-Nya menyebar cepat. Orang-orang berlari ke segala penjuru, membawa mereka yang sakit ke mana pun Yesus berada ke desa, kota, dan ladang.

Tidak ada jarak antara Yesus dan kehidupan nyata. Ia tidak hanya hadir di rumah ibadat atau tempat sunyi, tetapi di ruang-ruang keseharian: jalanan, pasar, dan rumah-rumah.

Ini pesan yang sangat kuat bagi kita:

Tuhan tidak jauh dari realitas hidup kita. Ia hadir di tengah kesibukan, kelelahan, dan keterbatasan kita.

Dalam renungan Injil Markus 6:53–56, Yesus digambarkan sebagai Tuhan yang dekat, mudah dijumpai, dan siap disentuh oleh iman.

Menyentuh Jumbai Jubah: Iman yang Rendah Hati

Permintaan orang banyak terdengar sederhana: mereka ingin menyentuh jumbai jubah Yesus. Jumbai itu bukan benda ajaib. Ia hanyalah bagian kecil dari pakaian. Namun bagi mereka, jumbai itu melambangkan kedekatan dan kepercayaan.

Mereka tidak menuntut Yesus melakukan tanda besar. Mereka hanya percaya bahwa berada dekat dengan-Nya sudah cukup.

Iman seperti ini sering kita remehkan. Kita cenderung menganggap doa harus “sempurna”, iman harus “mantap”. Padahal Injil hari ini menegaskan bahwa iman yang tulus, meski kecil, sanggup membuka jalan bagi rahmat Tuhan.

“Dan semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh.”

Penyembuhan: Lebih dari Sekadar Fisik

Markus mencatat bahwa orang-orang menjadi sembuh ketika menyentuh Yesus. Namun Injil tidak pernah memisahkan penyembuhan fisik dari pemulihan batin. Banyak dari mereka yang datang kemungkinan membawa luka yang lebih dalam: penolakan, keputusasaan, dan rasa tidak berharga.

Yesus tidak bertanya apakah mereka pantas. Ia tidak menyeleksi siapa yang layak. Ia membiarkan diri-Nya didekati.

Dalam renungan Katolik harian ini, kita diingatkan bahwa Tuhan rindu menyembuhkan bukan hanya tubuh kita, tetapi juga:

hati yang lelah, iman yang rapuh, harapan yang mulai pudar.

Di era digital, kita sering mencari solusi instan. Kita ingin hasil cepat, jawaban pasti, dan perubahan drastis. Namun Injil hari ini mengajak kita kembali pada iman yang sederhana dan setia.

Menyentuh “jumbai jubah” Yesus hari ini bisa berarti:

setia berdoa meski terasa kering,
tetap datang ke Misa meski lelah,
membuka Injil meski hanya sebentar,
berani membawa luka kita kepada Tuhan apa adanya.
Dalam The Katolik renungan harian, pesan ini sangat relevan bagi remaja dan orang tua milenial yang hidup di tengah tekanan, distraksi, dan tuntutan.

Iman yang Bergerak

Orang-orang dalam Injil ini bergerak. Mereka tidak menunggu Yesus datang ke rumah mereka. Mereka membawa yang sakit, berlari, dan mencari-Nya. Iman mereka bukan iman pasif.

Renungan ini mengajak kita bertanya:

Apakah aku masih mau bergerak menuju Tuhan?
Atau aku hanya menunggu Tuhan bertindak sesuai keinginanku?
Kadang yang dibutuhkan bukan perubahan besar, tetapi satu langkah kecil menuju Yesus.

Refleksi Pribadi

Luangkan waktu sejenak hari ini untuk merenung:

Luka apa dalam hidupku yang belum aku bawa kepada Tuhan?

Apakah aku merasa imanku “terlalu kecil” untuk berharap?
Langkah sederhana apa yang bisa aku lakukan hari ini untuk mendekat pada Yesus?

 Doa Penutup

Tuhan Yesus, kami datang kepada-Mu dengan iman yang sederhana.

Kami tidak selalu kuat, tidak selalu mengerti, tetapi kami percaya bahwa berada dekat dengan-Mu sudah cukup.

Sentuhlah luka-luka kami, pulihkan hati kami yang lelah, dan kuatkan iman kami yang rapuh.

Ajarlah kami untuk tidak mencari tanda besar, melainkan setia mendekat kepada-Mu setiap hari. Amin.

Penutup: Tuhan yang Mudah Didekati

Yesus tidak pernah mempersulit orang untuk datang kepada-Nya. Ia membiarkan diri-Nya disentuh oleh iman yang polos dan jujur. Semoga renungan Katolik Markus 6:53–56 ini meneguhkan kita untuk terus mendekat meski dengan iman yang kecil karena di hadapan Tuhan, iman yang kecil namun tulus selalu berharga. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.