CISAH Gelar Trauma Healing Berbasis Budaya untuk Pulihkan Luka Batin Seniman Aceh Utara Pascabanjir
Faisal Zamzami February 08, 2026 12:32 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (CISAH) menggelar kegiatan Trauma Healing Berbasis Budaya sebagai upaya memulihkan luka batin para seniman dan penggiat budaya Aceh Utara pascabanjir.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Museum Islam Samudra Pasai, Minggu (8/2/2026).

Puluhan seniman dan pelaku budaya Aceh Utara yang terdampak secara psikologis akibat bencana banjir mengikuti kegiatan ini.

Program trauma healing tersebut menjadi ruang berbagi rasa, menata kembali harapan, serta merawat ingatan kolektif melalui sentuhan sejarah dan nilai-nilai budaya lokal.

Kegiatan dipandu oleh kurator Museum Islam Samudra Pasai, Sukarna Putra dan Putry Chaira. Para peserta diajak menyelami proses pemulihan batin melalui narasi sejarah, refleksi budaya, serta ekspresi seni yang membumi dan berakar pada tradisi Aceh.

Hadir pula Kepala Bidang Kebudayaan Aceh Utara, Muhibuddin, beserta jajaran staf yang bertindak sebagai tuan rumah kegiatan.

Kehadiran pemerintah daerah tersebut menjadi simbol dukungan moral bagi para pelaku budaya yang tengah bangkit dari keterpurukan pascabencana.

Baca juga: Puluhan Ribu Korban Banjir Aceh Utara Masih Mengungsi di 119 Titik, Terdapat Ibu Hamil dan Balita

Sekretaris Jenderal CISAH, Mawardi, menuturkan bahwa bencana banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka mendalam bagi para penjaga warisan budaya.

“Banyak saudara kita—seniman dan budayawan—yang terdampak langsung. Alat-alat kesenian tradisional yang diwarisi secara turun-temurun rusak, bahkan hilang terseret banjir. Ini bukan semata kehilangan materi, tetapi juga hilangnya jejak sejarah dan identitas budaya kita,” ujarnya dengan nada haru.

Menurut Mawardi, pendekatan trauma healing berbasis budaya dipilih karena lebih dekat dengan jiwa masyarakat Aceh.

Seni dan tradisi menjadi medium penyembuhan kolektif, tempat para pelaku budaya saling menguatkan sekaligus menyalakan kembali semangat berkarya.

Apresiasi terhadap kegiatan ini juga disampaikan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Piet Rusdi.

Ia menilai inisiatif CISAH sebagai langkah strategis dalam menjaga denyut kebudayaan di tengah situasi pascabencana.

“Kebudayaan adalah jantung peradaban. Ketika para pelakunya terluka, maka kita semua memiliki tanggung jawab untuk hadir—membantu pemulihan jiwa mereka dan memastikan karya-karya budaya tetap berlanjut,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa seniman dan penggiat budaya memegang peran penting dalam merawat identitas daerah.

Oleh karena itu, perhatian terhadap kondisi mental serta keberlangsungan aktivitas mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemulihan Aceh Utara secara menyeluruh.

Melalui kegiatan ini, CISAH berharap tidak hanya membantu menyembuhkan trauma, tetapi juga menumbuhkan kembali solidaritas, mempererat kebersamaan, serta menjadi titik awal kebangkitan seni tradisi Aceh Utara.

Di balik bencana, harapan tetap tumbuh, dan budaya terus berdiri sebagai penopang ketahanan masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.