SURYA.co.id – Harapan besar menyertai peresmian Alun-Alun Sidoarjo sebagai ruang publik baru di jantung kota.
Kawasan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 2,8 hektar itu resmi dibuka untuk masyarakat pada Sabtu (31/1/2026), setelah direvitalisasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo dengan anggaran mencapai Rp 24,6 miliar.
Namun belum genap sepekan beroperasi, wajah segar ruang publik tersebut mulai ternodai.
Sejumlah sudut alun-alun tampak dipenuhi sampah sisa makanan dan minuman, menciptakan kontras dengan konsep ruang kota yang bersih dan ramah keluarga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun SURYA.co.id, kerusakan mulai muncul di berbagai fasilitas publik.
Toilet umum mengalami gangguan fungsi, mesin sabun dilaporkan hilang, dan beberapa wastafel tak lagi berfungsi normal.
Tak hanya itu, fasilitas bermain anak dan keluarga juga mengalami kerusakan.
Di area paseban, lantai bahkan ditemukan sudah retak dan pecah, meski usia bangunan masih sangat baru.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang kesadaran penggunaan ruang publik oleh pengunjung.
Kerusakan tak berhenti pada bangunan.
Sejumlah tanaman di median jalan sekitar alun-alun juga dilaporkan rusak akibat penggunaan yang tidak semestinya.
Beberapa area hijau diketahui dimanfaatkan untuk berjualan, sementara lainnya tercemar karena digunakan sebagai tempat pembuangan minyak bekas.
Padahal, keberadaan tanaman tersebut merupakan bagian penting dari fungsi ekologis dan estetika ruang terbuka hijau.
Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Fenny Apridawati, menyampaikan keprihatinannya.
Ia menegaskan bahwa alun-alun merupakan fasilitas milik bersama yang dibangun dari uang rakyat dan diperuntukkan bagi kepentingan publik.
“Mari kita bersama-sama menjaganya. Kita juga jaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya, tidak merusak tanaman, serta menjaga seluruh fasilitas publik yang ada,” kata Fenny, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, keberhasilan penataan dan pemeliharaan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah semata.
“Pemerintah daerah terus berupaya menyediakan ruang publik yang aman, sehat, bersih, dan indah. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan, ketertiban, dan kelestarian fasilitas yang ada,” lanjutnya.
Sebagai langkah nyata, Pemkab Sidoarjo mengajak masyarakat menerapkan perilaku tertib lingkungan dalam mendukung gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
Upaya tersebut juga dimulai dari internal pemerintahan.
Pada Jumat (6/2/2026), para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Sidoarjo menggelar kerja bakti di kawasan alun-alun.
Mereka membersihkan berbagai jenis sampah, mulai dari puntung rokok hingga plastik sisa makanan dan minuman.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo tentang Sido ASRI, sebagai dukungan terhadap gerakan Indonesia ASRI yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
“Menindaklanjuti gerakan Indonesia ASRI, salah satu implementasinya adalah pelaksanaan kerja bakti ASN, seperti yang dilakukan hari ini di Alun-Alun Sidoarjo,” ujar Fenny.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar mematuhi aturan yang berlaku, termasuk larangan merokok sembarangan.
“Hari ini kami masih menemukan banyak puntung rokok. Saya mohon bagi masyarakat yang merokok agar menggunakan tempat merokok yang telah disediakan. Karena alun-alun ini merupakan tempat bebas asap rokok, sebab banyak pengunjung lansia dan anak-anak yang harus terlindungi dari asap rokok," ujarnya.
Pesan serupa disampaikan terkait sampah plastik makanan dan minuman agar selalu dibuang ke tempat yang telah disediakan.
Selain di ruang publik, ASN juga diinstruksikan menerapkan budaya tertib lingkungan di kantor masing-masing, dengan meluangkan 30 menit sebelum jam kerja untuk pengecekan dan pembersihan area kerja.
Fenny Apridawati merupakan birokrat perempuan senior yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Ia resmi dilantik pada Maret 2024 oleh Bupati Sidoarjo, setelah melalui proses panjang dalam karier birokrasi daerah.
Statusnya sebagai ASN berpangkat Pembina Utama Madya menegaskan posisinya sebagai pejabat tertinggi dalam struktur aparatur sipil di lingkungan Pemkab Sidoarjo.
Latar belakang akademiknya kuat di bidang kesehatan masyarakat, tercermin dari gelar Dr., S.K.M., M.Kes. yang disandangnya.
Sebelum menduduki jabatan Sekda, Fenny dikenal luas sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, posisi strategis yang mengasah kepemimpinannya dalam pelayanan publik, manajemen kebijakan, serta pengambilan keputusan di sektor vital yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sebagai Sekda, Fenny Apridawati memegang peran sentral dalam mengkoordinasikan jalannya pemerintahan daerah, mengharmoniskan kebijakan antar organisasi perangkat daerah (OPD), serta memastikan visi dan program kepala daerah berjalan efektif.
Ia juga aktif mendorong reformasi birokrasi, peningkatan kualitas layanan publik, penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih, hingga perluasan kolaborasi pembangunan melalui pendekatan lintas sektor.
Kiprahnya di tingkat nasional mendapat pengakuan ketika ia meraih Juara I Sekda Terbaik dalam ajang ASKOMPSI Digital Leadership Government Award 2025.
Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam mempercepat transformasi digital pemerintahan, yang berdampak pada efisiensi birokrasi dan peningkatan mutu layanan kepada masyarakat.
Dengan kombinasi pengalaman teknokratis, latar belakang akademik, dan kepemimpinan strategis, Fenny Apridawati dipandang sebagai figur kunci dalam menggerakkan roda pemerintahan Kabupaten Sidoarjo sekaligus memperkuat arah pembangunan daerah di tengah tuntutan perubahan zaman.(M Taufik.Putra Dewangga/SURYA.co.id)