Sebagai salah satu upaya pelestarian bahasa daerah, Pemkab Gianyar mengadakan Bulan bahasa Bali
Gianyar, Bali (ANTARA) -
Pemerintah Kabupaten Gianyar, Bali, menekankan pentingnya konservasi bahasa Bali yang harus dilestarikan dan digunakan sebagai komunikasi sehari-hari.
“Jangan sampai kita lupa berbahasa Bali, jangan malu menggunakan bahasa Bali, dan mari kita bangga terhadap bahasa, aksara, dan sastra Bali,” kata Asisten Administrasi Umum Setda Gianyar I Ketut Pasek Lanang di sela-sela penutupan Bulan Bahasa Bali di Balai Budaya Gianyar, Minggu.
Ia meminta kepada orangtua untuk membiasakan dan membimbing anak-anak untuk menggunakan bahasa daerah Bali di tengah era globalisasi.
Ia mengajak agar bahasa Bali digunakan dalam kegiatan adat seperti paruman (rapat) serta dalam upacara keagamaan dan dalam berkomunikasi sesama warga di Bali.
“Bahasa Bali hendaknya tetap digunakan dalam pergaulan, pertemuan, dan komunikasi generasi muda,” ucapnya.
Sebagai salah satu upaya pelestarian bahasa daerah, Pemkab Gianyar mengadakan Bulan bahasa Bali.
Bulan Bahasa Bali di Gianyar diisi dengan berbagai lomba yang diikuti oleh perwakilan generasi muda antara lain lomba menulis aksara Bali tingkat SD, lomba menulis lontar tingkat SMP, lomba bebat berbahasa Bali tingkat SMA/SMK.
Kemudian lomba membaca lontar tingkat SMA/SMK, lomba masatua (bercerita) Bali krama istri (kelompok wanita) yang diikuti oleh Krama Istri (PAKIS), lomba sambrama wacana (pidato) prajuru (pengurus) adat, serta lomba film pendek dokumenter berbahasa Bali yang diikuti oleh pelajar SMA/SMK dan peserta umum se-Bali.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Wayan Adi Parbawa mengungkapkan rasa bahagia melihat antusiasme dan kemampuan anak-anak serta generasi muda dalam berbagai lomba Bahasa Bali.
Sebagai bentuk apresiasi, pihaknya menyerahkan piala kepada pemenang lomba dari masing-masing kategori.
Di sisi lain, berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahasa daerah yakni tercatat sebanyak 726 bahasa yang masih digunakan hingga saat ini.
Namun, banyak di antaranya mengalami kemunduran akibat berbagai faktor, seperti pemekaran wilayah, migrasi penduduk, dan dominasi bahasa mayoritas. Menyoroti fenomena ini, BRIN menekankan pentingnya revitalisasi bahasa daerah agar tidak mengalami kepunahan.







