Meunasah sementara ini langsung dibangun di atas lumpur yang sudah mengeras. Lumpur ini tebalnya 2 sampai 2,5 meter dan tidak mungkin untuk dikeruk
Pidie Jaya (ANTARA) - Kementerian Agama bersama Baznas membangun meunasah (mushala) darurat langsung di atas timbunan lumpur sisa banjir yang sudah mengeras di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
"Meunasah sementara ini langsung dibangun di atas lumpur yang sudah mengeras. Lumpur ini tebalnya 2 sampai 2,5 meter dan tidak mungkin untuk dikeruk lagi," kata Ketua Posko Darurat Kebencanaan Desa Manyang Cut Teuku Nazarudin di lokasi pembangunan meunasah darurat, Minggu.
Desa Manyang Cut adalah salah satu permukiman warga yang terdampak parah akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Area tersebut berada di tepi aliran Sungai Meureudu yang meluap membawa material lumpur dan kayu.
Ia menjelaskan, anggaran pembangunan meunasah darurat berasal dari Kementerian Agama dan Baznas. Pengerjaannya melibatkan warga setempat. Proses pembangunan sudah berlangsung selama tiga minggu dan kini baru selesai tahap pembangunan atap dengan rangka baja.
Ia mengatakan, warga memang membutuhkan bantuan perbaikan tempat ibadah karena Meunasah Krueng Baroh yang tak jauh dari meunasah darurat, hingga kini masih tertimbun lumpur. Warga dibantu relawan sempat membersihkan lumpur di meunasah tersebut, tapi ketika hujan air masuk lagi membanjiri bangunan yang posisinya sudah sama tinggi dengan Sungai Meureudu.
Nazarudin menjelaskan luas maunasah darurat mencapai 14x10 meter dengan konstruksi rangka baja, lantai panggung, dan dinding semipermanen setinggi 1,2 meter. Di area itu juga dibangun sumur bor dari Kementerian ESDM dan fasilitas toilet dari sebuah perusahaan kontruksi BUMN.
"Targetnya meunasah ini bisa selesai sebelum bulan Ramadhan. Tapi meski begitu, warga sudah sempat pakai saat malam nisfu syaban meski belum ada lampu dan kita shalat di tanah," katanya.
Sebelumnya, Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Aceh mencatat 98 persen dari 737 masjid maupun mushala di Aceh yang terdampak bencana sudah kembali berfungsi meskipun dalam kondisi darurat.
"Berdasarkan data yang telah diverifikasi, sudah 98 persen masjid dan mushala yang terdampak kembali berfungsi, tetapi masih dalam kondisi darurat," kata Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari di Banda Aceh.
Azhari menuturkan, masjid/mushala yang rusak berat, sedang dan ringan akan diberikan bantuan renovasi oleh Kemenag RI dan saat ini masih dalam proses, yaitu untuk masing-masing masjid Rp50 juta, dan mushala Rp30 juta. Namun, itu tidak termasuk untuk bangunan peribadatan yang kondisinya tidak bisa dipakai lagi.
"Harapan kita, masjid/mushala yang rusak ini kembali bersih dan berfungsi dengan baik untuk masyarakat beribadah. Apalagi, sebentar lagi kita mau memasuki Ramadhan," katanya.







