4 Mekanisme Penyaluran MBG Saat Ramadan Diungkap Kepala BGN, Kadindik Jatim Sempat Beri Usul
Putra Dewangga Candra Seta February 08, 2026 05:32 PM

 

SURYA.co.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap bergulir selama bulan suci Ramadhan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan pemerintah telah menyiapkan skema khusus agar pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan, tidak terhenti meski aktivitas puasa berlangsung.

"Untuk Ramadhan, Makan Bergizi Gratis akan tetap berlanjut. Jadi, ada empat mekanisme yang akan kami kembangkan," kata Dadan saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026), dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Skema Khusus Anak Sekolah di Wilayah Mayoritas Berpuasa

MBG SAAT RAMADAN - Ilustrasi siswa SD sednag menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG). Kadindik Jatim memberikan usulan cerdas terkait pelaksanaan MBG di bulan Ramadan. Ahli gizi juga angkat bicara.
MBG SAAT RAMADAN - Ilustrasi siswa SD sednag menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG). Kadindik Jatim memberikan usulan cerdas terkait pelaksanaan MBG di bulan Ramadan. Ahli gizi juga angkat bicara. (Tribun Medan)

BGN menyiapkan mekanisme berbeda bagi siswa di daerah yang mayoritas menjalankan ibadah puasa.

Distribusi tetap dilakukan melalui sekolah, namun dengan penyesuaian jenis makanan.

"Untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas puasa, makanannya akan seperti biasa dikirim ke sekolah dalam bentuk makanan yang tahan dan bisa dibawa ke rumah untuk dikonsumsi pada saat buka," kata dia.

Dengan skema ini, siswa tetap menerima manfaat MBG tanpa mengganggu pelaksanaan puasa.

Baca juga: Rekam Jejak Aries Agung Paewai, Kadindik Jatim yang Usul MBG Bisa Dibawa Pulang Selama Ramadhan

Daerah Nonpuasa Tetap Dilayani Normal

Sementara itu, untuk wilayah yang mayoritas tidak berpuasa, pelayanan MBG tidak mengalami perubahan.

"Pelayanannya tetap normal ya," kata Dadan.

Artinya, distribusi dan konsumsi makanan bergizi tetap dilakukan seperti hari-hari biasa tanpa penyesuaian waktu.

Ibu Hamil, Menyusui, Balita, dan Pesantren Tetap Jadi Prioritas

Kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap mendapatkan layanan MBG tanpa pengurangan.

Penyesuaian justru dilakukan di lingkungan pesantren.

"Untuk pesantren, karena penerima manfaatnya ada di dalam pesantren dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizinya ada di dalam pesantren, maka pelayanannya akan digeser ke saat buka," kata Dadan.

"Jadi masaknya siang hari, dikonsumsi pada saat buka," sambungnya.

Sebagai contoh, Dadan menyebut salah satu pesantren di wilayah Bandung, Jawa Barat, akan segera memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dalam kompleks pesantren dan direncanakan menggelar acara buka puasa bersama saat peresmian.

SPPG DIANGKAT PPPK - Proses pengemasan makan bergizi gratis di SPPG Rizky Barokah Desa Mlekang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Senin (24/2/2025). Kebijakan pemerintah mengangkat pegawai SPPG menjadi PPPK menuai protes dari PGRI.
SPPG DIANGKAT PPPK - Proses pengemasan makan bergizi gratis di SPPG Rizky Barokah Desa Mlekang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Senin (24/2/2025). Kebijakan pemerintah mengangkat pegawai SPPG menjadi PPPK menuai protes dari PGRI. (kompas.com)

Jatim Masih Menunggu Juknis, Sekolah Tetap Aktif Saat Puasa

Sebelumnya, pemerintah daerah masih menunggu petunjuk teknis resmi.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengaku belum menerima juknis distribusi MBG selama Ramadhan dari BGN.

“Sejauh ini kami belum mendapatkan informasi resmi dari BGN teknis distribusi MBG selama Ramadhan bagaimana. Yang kami tahu justru dari media bahwa MBG dipastikan tetap ada selama Ramadhan,” tegas Aries saat diwawancara usai kunjungan Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan di SMAN 15 Surabaya, Selasa (27/1/2026).

Ia menambahkan, aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung selama Ramadhan, kecuali libur di awal dan akhir bulan puasa.

MBG Berpotensi Dikemas Box, Distribusi Tetap Lewat Sekolah

Dengan aktivitas sekolah yang tetap berjalan, MBG diperkirakan tidak dikonsumsi di sekolah, melainkan dibawa pulang oleh siswa untuk berbuka.

"Oleh sebab itu infonya MBG akan didistribusikan dalam bentuk lain. Maksudnya, mungkin ya didistribusikan dalam bentuk box, atau langsung dalam kemasan pack," terangnya.

“Karena kan siswa tetap sekolah, jadi distribusinya tetap di sekolah, tapi dalam bentuk box sehingga bisa dibawa pulang,” imbuh Aries.

Aries juga mengungkapkan bahwa belum seluruh sekolah di Jawa Timur menerima MBG, meski untuk Kota Surabaya jenjang pendidikan menengah hampir seluruhnya telah terjangkau.

Soal penambahan SPPG pada 2026, ia menegaskan kewenangan sepenuhnya berada di BGN.

“Bisa saja mungkin kalau ada tambahan misalnya SPPG kuotanya per titik diperkecil jadi satu SPPG membuatnya 2.000 porsi sehari, tidak 3.000. Dan sisanya diproduksi oleh SPPG yang lebih dekat dengan sekolah. Tapi itu nanti BGN yang akan mengkaji,” pungkasnya.(Fatimatuz Zahro/Putra Dewangga/SURYA.co.id/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.