Ketua DPRD Kota Malang Apresiasi Kelancaran 1 Abad NU, Bukti Kota Malang Siap Gelar Event Nasional
Eko Darmoko February 08, 2026 05:35 PM

SURYAMALANG.COM, MALANG – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, mengapresiasi kelancaran penyelenggaraan puncak peringatan Harlah 1 Abad NU Masehi di Stadion Gajayana, Minggu (8/2/2026).

Meski diguyur hujan deras sejak sore hingga dini hari pada hari sebelumnya, kegiatan tetap berlangsung kondusif dan dipadati ribuan warga yang hadir dari berbagai daerah.

“Alhamdulillah kegiatannya berjalan lancar walau semalam hujan cukup deras."

"Namun masih banyak warga yang datang dan situasi tetap kondusif. Arus massa juga terurai cukup cepat,” ujar Amithya Ratnanggani Sirraduhita kepada SURYAMALANG.COM.

Amithya menyampaikan apresiasi tinggi kepada panitia penyelenggara yang dinilai berhasil memastikan acara berjalan baik, terlebih dengan kehadiran Presiden RI dan jajaran menteri.

Baca juga: Beri Dukungan dalam 1 Abad NU, PWNU Jatim Apresiasi Bantuan Muhammadiyah dan Gereja di Kota Malang

“Presiden bisa hadir bersama jajaran menteri, dan semuanya berjalan lancar. Ini pencapaian besar dan saya sangat apresiasi kinerja panitia,” tuturnya.

Ia menilai momentum tersebut menjadi bukti bahwa Kota Malang siap menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional ke depannya.

Selain itu, Amithya melihat potensi besar Kota Malang untuk mengembangkan wisata religi. Kehadiran ribuan warga NU dari berbagai wilayah memberi gambaran betapa strategisnya Kota Malang sebagai pusat kegiatan keagamaan.

“Sebetulnya potensi Kota Malang untuk wisata religi bisa sekali. Banyak hal yang bisa kita tingkatkan dari momentum ini. Kami berharap kegiatan semacam ini menjadi opsi baik bagi pengembangan pariwisata di Kota Malang,” jelasnya.

Menurutnya, pengalaman penyelenggaraan Harlah 1 Abad NU dapat menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah kota untuk memperkuat kesiapan infrastruktur, manajemen arus massa, dan koordinasi lintas sektor.

NU Berperan Besar dalam Sejarah Republik

Amithya juga menekankan bahwa NU merupakan organisasi besar yang memiliki kontribusi historis dalam perjalanan bangsa. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan seperti NU menjadi sangat penting.

“NU punya andil besar dalam sejarah Republik. Kami berharap bisa terus bersinergi. Membangun bangsa ini butuh semua pihak,” ujarnya.

Ia menambahkan, atmosfer kebersamaan yang tercipta selama pelaksanaan Harlah 1 Abad NU menjadi pengingat bahwa Indonesia harus terus dijaga dengan semangat kolaboratif.

“Ini momen yang menegaskan kembali bahwa atmosfer kebangsaan harus kita jaga bersama. Tantangan ke depan banyak, jadi soliditas dan kolaborasi sangat diperlukan,” pungkasnya.

Ketua PWNU Jatim Sampaikan Terima Kasih dan Pesan Kebersamaan di Harlah Seabad NU di Stadion Gajayana

Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada seluruh warga NU dan masyarakat Kota Malang dalam peringatan Harlah Seabad NU yang digelar di Stadion Gajayana, Minggu (8/2/2026).

Dalam sambutannya, Gus Kikin menegaskan bahwa momen berkumpulnya jutaan warga Nahdliyin dari berbagai wilayah adalah bentuk syukur atas perjalanan satu abad Nahdlatul Ulama berdasarkan kalender masehi.

“Terima kasih kepada seluruh warga NU se-Jawa Timur yang hadir dengan segala ikhtiar, lelehan keringat, tenaga, dan biaya, hingga bisa sampai di Kota Malang yang indah ini,” ujarnya.

Gus Kikin juga menyinggung keistimewaan lokasi acara. Menurutnya, Stadion Gajayana, stadion pertama di Indonesia yang juga berusia 100 tahun, menjadi saksi penting bahwa NU senantiasa menjaga tradisi dan persatuan bangsa.

“Stadion Gajayana berusia satu abad, sama seperti perjalanan NU. Di tempat ini kita menunjukkan komitmen mempererat persatuan, kesatuan, dan persaudaraan demi menjaga NKRI,” tuturnya.

Gus Kikin mengingatkan kembali wejangan pendiri NU, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, yang telah diserukan 100 tahun lalu, agar seluruh umat memasuki NU dengan kecintaan, kasih sayang, dan persatuan tanpa memandang status sosial.

Mujahadah yang digelar, menurutnya, adalah bentuk menyambut seruan pendiri NU tersebut.

“Hari ini NU telah menjelma menjadi organisasi besar dengan lebih dari 100 juta anggota. Ini anugerah sekaligus amanah yang harus dijalankan dengan kerja keras,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa memasuki abad kedua, NU harus tetap menjadi penjaga tradisi dan penopang NKRI, dengan berpedoman pada riset, sumber ajaran yang kuat, dan kaidah dasar yang ditetapkan oleh para pendiri.

Pesan untuk Seluruh Kader NU

Gus Kikin menutup dengan mengutip dawuh Hadratus Syaikh yang dinilainya sangat relevan hingga kini: organisasi harus berlandaskan keadilan, keamanan, perdamaian, dan kebaikan.

“Organisasi ini terasa manis bagi orang baik, tetapi akan terasa sesak bagi orang jahat. Kita harus saling menasihati, bekerja sama, berdakwah dengan cara yang menyelematkan, dan menggunakan argumen yang kuat,” katanya.

Sebagai penegasan, ia menyampaikan bahwa ikatan dalam berorganisasi maupun bernegara harus selalu didasari cinta kasih, saling menyayangi, rukun, bersatu, dan terikat jiwa raga.

“Betapa indahnya ungkapan dan makna dari pendiri NU. Semoga selalu menjadi pedoman bagi kita semua,” pungkasnya.

Peringatan Harlah Seabad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana Malang membawa makna mendalam bagi warga Nahdliyin. Salah satunya diungkapkan Moch Miftachur Rizki, peserta yang hadir langsung dalam gelaran akbar tersebut, Minggu (8/2/2026).

Menurut Miftachur, momentum satu abad NU terasa semakin istimewa dengan hadirnya Presiden RI Prabowo Subianto. Ia menilai, kehadiran Presiden dalam acara besar warga NU merupakan simbol kedekatan negara dengan umat serta bukti keberanian pemerintah berdiri bersama rakyat.

“Sebagai warga NU, Harlah Seabad ini seperti harapan Pak Prabowo bahwa beliau tidak gentar bersama NU. Ketika beliau dekat dengan masyarakat, tidak ada lagi yang ditakutkan dari asing. Sudah seharusnya pemimpin dekat dengan rakyat,” ujarnya.

Miftachur juga menyoroti kehadiran tokoh-tokoh NU yang sebelumnya sempat diterpa isu dinamika internal. Ia menyebut, kehadiran mereka secara bersamaan menandakan suasana di tubuh NU kini kembali kondusif.

“Di tengah dinamika beberapa waktu lalu, Alhamdulillah para tokoh datang semua. Artinya ini mempertegas bahwa semuanya sudah adem ayem. Sebagai anggota NU kami jadi tenang,” katanya.

Meski beberapa tokoh tidak menyampaikan pidato, duduk berdampingan di panggung menjadi pesan kuat bahwa persatuan NU tetap terjaga.

Selain soal kehadiran Presiden dan kondisi organisasi, Miftachur mengingatkan bahwa NU harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia menilai, perubahan yang cepat menuntut seluruh elemen NU dari tingkat bawah hingga atas untuk terus belajar dan tidak tertinggal.

“Yang perlu diantisipasi adalah perubahan zaman yang begitu cepat. Seluruh elemen NU harus adaptif, jangan sampai kurang update,” tegasnya.

Ia berharap warga NU tetap mengikuti perkembangan teknologi dan sosial tanpa meninggalkan nilai-nilai dan amalan para guru.

“Warga NU harus mengikuti perkembangan zaman sambil membawa amalan para guru. Itu kunci agar NU tetap relevan dan kokoh,” ujarnya.

Peringatan Harlah Seabad NU di Kota Malang berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Umat dari berbagai daerah memadati Stadion Gajayana untuk mengikuti rangkaian acara, mulai dari mujahadah hingga resepsi puncak bersama Presiden RI, Prabowo Subianto. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.