Saat ini, Kota Pahlawan menjadi salah satu daerah percontohan nasional dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, Surabaya menjadi satu-satunya kota yang telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau Waste to Energy (WTE) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo.
Fasilitas PLTSa baru ditargetkan mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik hingga 20 MW.
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pemkot Surabaya memastikan dukungan pengelolaan sampah secara berkelanjutan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Untuk memperkuat pengelolaan sampah secara komprehensif dari hulu hingga hilir, Surabaya tengah mengusulkan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah kedua.
Saat ini, Kota Pahlawan menjadi salah satu daerah percontohan nasional dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden untuk memaksimalkan pemanfaatan sampah.
Baca juga: Pembangunan PLTSa Baru Tuai Sorotan WALHI, Dinilai Lemahkan Budaya Reduce, Reuse, Recycle
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, Surabaya menjadi satu-satunya kota yang telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau Waste to Energy (WTE) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo.
“Alhamdulillah pengolahan sampah di Surabaya ini jadi percontohan,” kata Eri saat dikonfirmasi di Surabaya.
“Karena di tempat lain belum ada yang bisa menghasilkan listrik dari sampah. Hari ini kita sudah berjalan, dan insya Allah kita akan menambah satu lagi pengolahan listrik,” ujar mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu.
Pembangunan fasilitas baru itu diharapkan dapat mengantisipasi penuhnya sampah di TPA Benowo.
"Nanti, dengan alat ini sampah akan dibakar langsung dengan sistem baru, sehingga tumpukan sampah cepat berkurang. Tujuannya jelas, pengurangan sampah sekaligus menghasilkan energi,” tegasnya.
Baca juga: Komisi C Apresiasi Olah Sampah jadi Bahan Bakar Alternatif Industri, Ingatkan Tetap Pilah Sampah !
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Dedik Irianto menjelaskan, pengelolaan sampah di Surabaya sudah ditangani secara menyeluruh, mulai dari pengurangan di sumber hingga pengolahan di TPA.
“Secara keseluruhan kita tangani dari hulu sampai hilir. Untuk hilirnya di TPA, saat ini Surabaya satu-satunya yang sudah menjalankan Waste to Energy,” kata Dedik saat dikonfirmasi terpisah.
PLTSa TPA Benowo saat ini memiliki kapasitas pengolahan 1.000 ton sampah per hari dengan produksi listrik sekitar 9 megawatt (MW).
Padahal, timbulan sampah harian Surabaya telah mencapai sekitar 1.800 ton.
Karena itu, Pemkot mengusulkan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) kedua.
"Benowo kapasitasnya hanya 1.000 ton, sementara timbulan sampah lebih dari itu. Jadi Pak Wali mengusulkan tambahan PSEL di wilayah barat sebagai antisipasi ke depan,” jelasnya.
Lokasi yang diusulkan telah memenuhi syarat dari pemerintah pusat, yakni minimal lima hektare.
Kementerian Lingkungan Hidup, PLN, hingga Danantara juga telah meninjau lokasi tersebut.
Baca juga: Surabaya Bangun PLTSa Kedua, Sampah dari Gresik hingga Lamongan Ikut Diserap Demi Listrik
Saat ini proyek masih dalam tahap pengusulan ke pemerintah pusat dan masuk rencana batch kedua program nasional sesuai Perpres Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan pengelolaan sampah.
Skema pembiayaan diperkirakan menggunakan sistem build-operate-transfer (BOT) selama 30 tahun dengan estimasi anggaran Rp1,5–2 triliun.
Fasilitas baru ini ditargetkan mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik hingga 20 MW.
Daya listrik tersebut lebih besar dibandingkan PLTSa Benowo.
“Nantinya pusat yang mengerjakan semuanya, mulai dari studi kelayakan, pembangunan, sampai pengelolaan. Kita tinggal mengirim sampah saja,” tambah Dedik. (bob)