Waspada Virus Nipah, Pakar UGM Jelaskan Pola Penularan dan Langkah Pencegahan
Endra Kurniawan February 09, 2026 04:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Virus Nipah kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang berpotensi menular dari hewan ke manusia.

Virus Nipah (NiV) adalah penyakit menular yang berasal dari hewan (zoonosis) dan dapat menular antarmanusia.

Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1999 di Malaysia.

Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Khrisdiana Putri, menyebutkan bahwa virus Nipah bersifat musiman (seasonal) dan dapat dipicu oleh berbagai faktor lingkungan.

Menurut Khrisdiana, pada hewan seperti babi dan kuda, infeksi virus Nipah kerap menimbulkan gejala gangguan pernapasan dan saraf, bahkan berujung fatal.

Sementara pada manusia, dampaknya dinilai jauh lebih berbahaya.

"Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak," ujarnya, dikutip dari ugm.ac.id, Minggu (8/2/2026).

Khrisdiana menjelaskan, sifat musiman virus Nipah erat kaitannya dengan kondisi stres atau kelaparan pada kelelawar buah, yang merupakan reservoir alami virus tersebut.

Ketika sumber pakan alami di habitat hutan, seperti nira, mengalami penurunan, risiko penularan virus dapat meningkat.

Upaya Pencegahan dari Pemerintah dan Masyarakat

Khrisdiana menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah pencegahan melalui regulasi, salah satunya melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira.

Baca juga: Kematian Pertama Akibat Virus Nipah 2026, Pakar Ingatkan Indonesia Waspada

Kebijakan ini dinilai penting untuk memutus rantai penularan dari kelelawar ke hewan ternak.

"Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi," ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan mengonsumsi nira segar secara langsung tanpa proses pengolahan.

Menurutnya, nira sebaiknya terlebih dahulu melalui pasteurisasi atau pemanasan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

"Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting," tambahnya.

PHBS Jadi Kunci Pencegahan Virus Nipah

Khrisdiana menyebutkan bahwa virus Nipah tergolong lemah dan mudah rusak di lingkungan, karena tidak mampu bertahan lama di luar inang.

Oleh karena itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dinilai sebagai langkah pencegahan yang efektif.

"Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri," tutupnya.

Baca juga: WHO: Satu Kematian Akibat Virus Nipah Terkonfirmasi di Bangladesh

Risiko Penularan ke Manusia dan Pentingnya Peringatan Dini

Sementara itu, Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, Heru Susetya, menuturkan bahwa secara epidemiologis kelelawar merupakan reservoir virus Nipah.

Oleh sebab itu, kewaspadaan terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis perlu dilakukan secara serius.

"Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya," kata Heru.

Ia merunut sejarah kemunculan virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di Malaysia, dengan pola penularan klasik dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia.

Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia.

Menurut Heru, hal ini dipengaruhi faktor lain, seperti konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik.

Di Indonesia, Heru menilai pentingnya keberadaan sistem peringatan dini (early warning system) terhadap penyakit zoonosis, termasuk virus Nipah.

Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.

"Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak langsung dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini, termasuk melaporkan jika terdapat hewan ternak yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa.

"Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus," paparnya.

(Tribunnews.com/Latifah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.