TOBOALI, BABEL NEWS - Program makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, hingga kini masih berjalan normal. Memasuki bulan Ramadan, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bangka Selatan Toboali Teladan masih menunggu petunjuk teknis (juknis) resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN). Utamanya terkait mekanisme pendistribusian makanan program MBG selama bulan puasa.
Kepala SPPG Bangka Selatan Toboali Teladan, Haikal berujar, saat ini pihaknya belum menerima arahan lanjutan dari atasan terkait pola distribusi MBG selama Ramadan. Karena itu, pihaknya belum dapat memastikan apakah akan ada perubahan mekanisme pendistribusian makanan bergizi kepada para penerima manfaat.
"Untuk bulan Ramadan kami belum menerima petunjuk teknis terkait pendistribusian program MBG," ujar Haikal, Jumat (6/2).
Menurut Haikal, ketiadaan juknis tersebut membuat SPPG belum bisa menyampaikan kepastian. Khususnya kepada sekolah maupun penerima manfaat terkait teknis penyaluran selama Ramadan. Apakah dilakukan seperti hari biasa atau akan menyesuaikan dengan kondisi puasa.
"Kami belum bisa memastikan mekanisme pendistribusian program MBG selama bulan Ramadan karena masih menunggu arahan resmi," kata Haikal.
Haikal memastikan, hingga saat ini program MBG di wilayah kerja SPPG Teladan 1 Toboali tetap berjalan sebagaimana mestinya. Saat ini, total penerima manfaat yang dilayani mencapai 2.659 orang dari berbagai satuan pendidikan di Kecamatan Toboali.
Ribuan penerima manfaat tersebut berasal dari sejumlah sekolah, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga menengah pertama. Sekolah yang saat ini menjadi sasaran program MBG antara lain SD Negeri 7 Toboali, SD Negeri 10 Toboali, SMP Negeri 2 Toboali, TK Al Mawaddah, serta Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sinar Islam.
Ia menambahkan, jumlah penerima manfaat program MBG akan kembali bertambah mulai pekan depan. Hal itu seiring dengan bergabungnya Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Hasanah Toboali sebagai salah satu satuan pendidikan penerima program. "Mulai Senin pekan depan, jumlah penerima manfaat akan bertambah dengan masuknya MTs Al Hasanah Toboali," ujarnya.
Selain menyasar peserta didik, program MBG juga diberikan kepada guru dan tenaga pendidik di sekolah-sekolah yang menjadi lokasi pendistribusian. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi secara menyeluruh di lingkungan pendidikan.
Tak hanya itu, program MBG juga menyentuh kelompok rentan yang masuk dalam kategori 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Dari data yang dihimpun SPPG Teladan Toboali, jumlah penerima manfaat dari kategori 3B tercatat sebanyak 515 orang.
Haikal menegaskan, pendistribusian makanan bergizi kepada kelompok 3B dilakukan secara terencana dan terdata, guna memastikan sasaran program benar-benar tepat dan sesuai dengan tujuan pemenuhan gizi masyarakat. "Pada prinsipnya kami siap melaksanakan arahan apapun sesuai petunjuk yang diberikan, agar tujuan program MBG tetap tercapai," pungkas Haikal. (u1)
Jaga Stabilitas Harga Bahan Pokok
SEJUMLAH Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bangka Selatan, menerapkan strategi pengaturan menu dalam pelaksanaan program makan bergizi (MBG). Seperti halnya yang dilakukan oleh SPPG Bangka Selatan Toboali Teladan (Teladan 1). Kebijakan ini diambil guna mengantisipasi fluktuasi harga bahan pokok yang kerap terjadi di pasaran.
Kepala SPPG Bangka Selatan Toboali Teladan, Haikal mengatakan, pengelolaan menu secara fleksibel menjadi langkah penting dalam operasional dapur MBG. Langkah ini agar program MBG tetap berjalan lancar tanpa menyebabkan fluktuasi harga komoditas tertentu. Khususnya komoditas yang dikhawatirkan turut berdampak bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Dalam setiap hari menu yang kami sajikan bagi penerima manfaat bervariasi. Ini juga untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga kebutuhan bahan pokok untuk program MBG," kata Haikal, Jumat (6/2).
Hingga kini pihaknya belum mengalami kesulitan dalam pemenuhan bahan baku untuk program MBG. Seluruh kebutuhan masih dapat dipenuhi melalui kerja sama dengan supplier lokal yang menyalurkan bahan pangan melalui koperasi.
Pihaknya turut melakukan penyerapan hasil panen petani-petani lokal. Komoditas yang diserap dari petani lokal meliputi cabai, daging ayam, serta ikan dari petambak lokal. Skema ini dinilai membantu menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani dan petambak.
"Petani mensuplai lewat koperasi dan didistribusikan ke kami. Mekanisme ini memudahkan kami," ucapnya. (u1)