Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, FUKUSHIMA — Jumlah pekerja asing di Prefektur Fukushima mencapai 15.079 orang per akhir Oktober 2025.
Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah dan meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menandai tren kenaikan selama tiga tahun berturut-turut.
Data Dinas Tenaga Kerja Fukushima menunjukkan, berdasarkan kewarganegaraan, Vietnam menjadi kelompok terbesar dengan 4.780 orang atau lebih dari 30 persen dari total pekerja asing. Posisi berikutnya ditempati Filipina dengan 2.584 orang dan Indonesia sebanyak 1.784 orang.
Dari sisi sektor, manufaktur menyerap tenaga kerja asing terbanyak, yakni sekitar 5.250 orang atau hampir 30 persen dari keseluruhan.
Sementara berdasarkan status kependudukan, program pemagangan teknis (jishusei) masih mendominasi dengan porsi sekitar 40 persen.
Dinas Tenaga Kerja Fukushima menilai tren ini mencerminkan meningkatnya ketergantungan pada tenaga kerja asing, terutama di sektor yang mengalami kekurangan akut seperti kesehatan dan kesejahteraan, serta industri layanan.
Kebutuhan tenaga kerja asing dirasakan langsung oleh pelaku usaha.
Di kawasan Tsuchiyu Onsen, Kota Fukushima, sebuah ryokan mempekerjakan pekerja asing sekitar 10 persen dari total 85 karyawan.
Dalam dua tahun terakhir, manajemen mulai merekrut pekerja berusia 20-an dari berbagai negara, mulai dari Indonesia melalui skema pemagangan, Nepal sebagai tenaga profesional, hingga rencana perekrutan dari Myanmar melalui program keterampilan khusus.
Meski sebagian staf masih beradaptasi dengan bahasa Jepang, dukungan di tempat kerja dilakukan secara intensif. Para pekerja asing terlibat dalam layanan tamu, resepsionis, hingga kebersihan. Kemampuan berbahasa Inggris dinilai turut membantu operasional di tengah meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara.
“Tanpa mereka, usaha kami sulit bertahan,” ujar pihak manajemen, seraya menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya di lingkungan kerja.
Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kebijakan pekerja asing sebagai salah satu isu dalam pemilu nasional Jepang, kalangan dunia usaha berharap diskursus publik berjalan seimbang—antara pemenuhan kebutuhan tenaga kerja dan perlindungan hak pekerja.
Pekerja asing sendiri berharap terciptanya lingkungan kerja yang bebas diskriminasi. Raihan Akbar Ekaditya (27), warga Indonesia yang bekerja di ryokan Sansuiso dan menargetkan tinggal jangka panjang di Jepang, mengaku cemas dengan maraknya informasi keliru di internet.
Ia menyoroti narasi di media sosial yang mengaitkan peningkatan kriminalitas dengan warga asing, meski tidak didukung data. Menurut Raihan, stigma semacam itu berpotensi memperkuat prasangka terhadap pekerja asing.
Berdasarkan data kepolisian prefektur, proporsi kasus pidana yang melibatkan pelaku berkewarganegaraan asing tetap rendah. Dalam lima tahun terakhir hingga tahun lalu, rasionya tercatat di bawah 1 persen dari total tindak pidana. Pada 2024, dari 8.844 kasus yang diakui, hanya 63 kasus yang melibatkan pelaku asing.
“Sedih dan kecewa kalau informasi yang tidak akurat justru mendorong diskriminasi,” ujar Raihan.
Sejumlah pengamat menilai, di era media sosial, isu kriminalitas kerap dipelintir menjadi sentimen identitas. Karena itu, Raihan berharap masyarakat lebih berhati-hati menyebarkan informasi dan merujuk pada data resmi agar tidak memicu generalisasi.
Pemerintah daerah Fukushima menyatakan akan terus mendorong lingkungan kerja yang ramah bagi pekerja asing, melalui dukungan bahasa, keselamatan kerja, hingga penataan tempat tinggal, seiring meningkatnya peran mereka dalam menopang ekonomi prefektur.
Diskusi loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com