Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pengusaha Industri Kecil dan Menengah (IKM) kini tidak lagi kesulitan dalam memasarkan berbagai produknya. Pemerintah Provinsi (Pemprov) telah menyiapkan sejumlah NTT Mart sebagai wadah jual beli produk lokal.
Outlet yang digagas Pemprov NTT itu juga ingin mendorong agar ekonomi masyarakat di daerah bisa tumbuh. Khususnya bagi pengusaha IKM. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTT Zeth Sony Libing mengatakan, NTT Mart itu paling tidak mampu menjawab persoalan di tengah masyarakat.
"Salah satu cara, bukan satu-satunya. NTT Mart sebagai jawaban atas persoalan yang dihadapi seluruh pelaku IKM yang hari ini terjadi, mereka kesulitan untuk memasarkan produk. Pemerintah mengintervensi dengan cara membeli produk dan memasarkan," katanya, Senin (9/2/2026) di kantornya.
Pemerintah berkerjasama sama dengan Dekranasda, GMIT dan sekolah untuk membangun NTT Mart. Pemprov menyediakan produk serta sarana prasarana pendukung. Mitra NTT Mart akan menyediakan tempat sekaligus mengelola NTT Mart.
Setiap produk yang dibeli Pemprov NTT dan ditempatkan di NTT Mart, dijual dengan kenaikan 10-15 persen dari harga beli di IKM. Hal itu agar produk itu bisa lebih cepat berputar. Lebih dari itu, NTT Mart dihadirkan sebagai jembatan agar ekonomi kerakyatan tumbuh lebih cepat.
"Dari 10-15 diambil dari setiap produk itu, di bagilah pengelolaannya 60 persen, Pemerintah Provinsi 40 persen. Jadi lebih besar oleh pengelola," kata Zeth Libing.
Saat ini, setidaknya sudah ada 20 NTT Mart dibangun. Hanya tersisa Kabupaten Alor dan Sabu Raijua yang belum memiliki tempat jual beli produk lokal itu. Rencananya, pembentukan NTT Mart akan rampung bulan Februari 2026.
Nantinya, setelah semua NTT Mart terbentuk, Pemerintah akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan untuk pendapatan dan pengelolaan maupun dampaknya untuk masyarakat, khususnya bagi pengusaha IKM.
Evaluasi itu juga untuk melihat berbagai kelemahan atau kekurangan sebagai bahan perbaikan agar NTT Mart bisa lebih luas.
Zeth Libing mengeklaim, produk yang dibeli semuanya langsung ke pengusaha IKM. Sehingga, itu akan memudahkan dalam mengukur dampak dari NTT Mart bagi IKM.
Selain menjual langsung ke pembeli di gerai NTT Mart, produk yang ada juga ditawarkan melalui transaksi virtual, yang bekerjasama sama dengan Bank NTT. Sistem itu sudah dilaunching dan mulai beroperasi setelah NTT Mart lengkap di semua daerah.
"Jadi saudara-saudara kita dimana saja mereka bisa beli produk kita melalui online. Dalam Februari ini selesai 22 Kabupaten/Kota," ujarnya.
Produk yang dijual di NTT Mart harus memiliki izin PIRT atau Pangan Industri Rumah Tangga, sertifikat halal, dan BPOM maupun merek. Meskipun ada syarat demikian, Pemerintah memberi kelonggaran. Tujuannya agar produk itu bisa masuk ke NTT Mart. Pemerintah akan melakukan identifikasi dan melakukan pendampingan hingga mengurus penerbitan izin yang belum lengkap.
Pemerintah juga, menurut dia, membantu dalam pelatihan manajemen usaha dan produk. Dia menyebut, kendala utama dalam pembentukan NTT Mart adalah minimnya jumlah produk.
"Ada beberapa Kabupaten yang jumlah produk terbatas, contoh Malaka, Nagekeo, Manggarai Timur, Lembata, Ngada terutama produk yang berkaitan dengan kuliner. Tentu menjadi masukkan bagi kami melakukan pelatihan produk sehingga semakin banyak produk," katanya.
Padahal sejumlah daerah itu memiliki potensi yang cukup baik. Di Kabupaten Ngada, misalnya, Zeth Libing menuturkan NTT Mart justru banyak diisi produk kopi. Kendala lainnya adalah menyangkut administrasi produk.
Disperindag NTT, ujar dia, berperan dalam implementasi program Dasa Cita Gubernur dan Wakil Gubernur NTT tentang dari ladang, laut ke pasar melalui hilirisasi. Peran lainnya adalah melakukan pelatihan dan pendampingan bagi pengusaha IKM, termasuk mengurus dokumen penting seperti BPOM, halal dan izin PIRT serta merek.
"Termasuk juga memonitoring perkembangan IKM. Pendampingan itu memang kita sudah lakukan sebelumnya juga," katanya.
Sebetulnya, NTT Mart dihadirkan untuk memberi kesempatan lebih luas bagi pengusaha IKM agar bisa memasarkan produknya. Untuk itu, ia mengajak masyarakat agar bisa memanfaatkan NTT Mart sebagai tempat membelanjakan berbagai kebutuhan.
NTT, kata dia, mengalami defisit perdagangan Rp 51 triliun. Itu disebabkan masyarakat NTT berbelanja sebagian besar produk dari luar NTT. Sehingga, NTT Mart disiapkan sebagai langkah menekan defisit sekaligus menjaga harga diri melalui produk yang disiapkan dan dinikmati oleh masyarakat NTT sendiri.
"NTT Mart itu harga diri NTT ada disitu. Itulah karya dari bapa, mama, kaka, adik industri kecil dan menengah. Inovasi dan kreativitas dari masyarakat NTT, kriya, fashion dan kuliner. Pendapatan ekonomi akan tumbuh lebih baik. Mari berbelanja di NTT Mart, tempat semua produk lokal kita dijual," ujarnya.
Berikut jumlah NTT Mart hingga mitra NTT Mart, Jumlah NTT Mart yang beroperasi: 20 Kabupaten/Kota
NTT Mart yang akan launching Februari 2026: Alor dan Sabu Raijua , Total anggaran: Rp 3,6 miliar untuk pembelian produk dan sarana prasarana penunjang NTT Mart, Jumlah produk tiap NTT Mart: 1.000, Jumlah IKM yang dilibatkan: 40-50 pengusaha IKM.
Mitra NTT Mart: GMIT di Kabupaten Kupang, SMAN 2 Rangke Lembong Manggarai, dan sisanya kerja sama Dekranasda. (fan)