TRIBUNJABAR.ID - Bandung - Gagal jantung kerap dianggap sebagai penyakit yang muncul tiba-tiba. Padahal, kondisi ini merupakan proses panjang yang bisa dikenali sejak dini.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Rhenata Dylan, Sp.JP, menegaskan bahwa gagal jantung berkembang bertahap dan sering kali diawali dari faktor risiko yang luput disadari pasien.
“Gagal jantung adalah kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara maksimal sesuai kebutuhan tubuh,” ujar dr. Rhenata, Senin (9/2/2025).
Ia menjelaskan, secara medis gagal jantung terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, gagal jantung kiri, yakni kondisi ketika bilik kiri jantung tidak mampu memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh.
Akibatnya, darah tertahan dan menumpuk di paru-paru sehingga menimbulkan keluhan sesak napas.
Penyebabnya antara lain penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, kelainan katup jantung, kelemahan otot jantung, hingga gangguan irama jantung.
Kedua, gagal jantung kanan. Pada kondisi ini, bilik kanan jantung yang berfungsi memompa darah ke paru-paru tidak bekerja optimal.
Darah pun tertahan di pembuluh vena dan menyebabkan cairan keluar ke jaringan tubuh. Gejala yang paling sering muncul adalah pembengkakan, terutama di kedua kaki.
Gagal jantung kanan umumnya dipicu oleh gagal jantung kiri, penyakit paru, atau tekanan tinggi pada pembuluh darah paru.
“Yang paling sering kami temui adalah gagal jantung kanan dan kiri sekaligus, biasanya diawali dari gagal jantung kiri yang kemudian membebani jantung kanan,” jelasnya.
Dikatakan dr. Rhenata, gagal jantung tidak muncul secara mendadak. Dalam dunia medis, kondisi ini dibagi ke dalam empat tahap.
“ Tahap A merupakan fase risiko, di mana seseorang belum menunjukkan gejala dan tidak ada gangguan struktur jantung, tetapi memiliki faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, penyakit jantung koroner, penggunaan obat tertentu yang bersifat melemahkan otot jantung, atau riwayat keluarga kardiomiopati,” jelasnya.
Tahap berikutnya adalah tahap B atau pra-gagal jantung. Pada fase ini, pasien belum bergejala, namun sudah ditemukan kelainan struktur atau fungsi jantung, termasuk peningkatan tekanan di dalam jantung.
Tahap C merupakan fase gagal jantung dengan gejala klinis, sementara tahap D adalah gagal jantung lanjut yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Pada pasien tahap C dan D, kondisi kemudian dikelompokkan lagi berdasarkan tingkat keparahan gejala atau New York Heart Association (NYHA) Functional Class. Mulai dari kelas I, di mana pasien tidak mengalami gangguan aktivitas fisik, hingga kelas IV, ketika gejala muncul bahkan saat istirahat dan pasien tidak mampu beraktivitas.
Menurut dr. Rhenata, tekanan darah tinggi masih menjadi penyebab paling sering gagal jantung, disusul penyakit jantung koroner dan obesitas.
“Tekanan darah yang tidak terkontrol membuat jantung bekerja lebih keras dalam jangka panjang, hingga akhirnya mengalami perubahan struktur seperti penebalan otot, pembesaran jantung, dan penurunan kekuatan pompa.”
Sayangnya, banyak pasien datang terlambat karena gejala awal kerap diabaikan. Beberapa keluhan yang sering dianggap sepele antara lain sesak napas saat beraktivitas atau ketika tidur terlentang, bengkak di kedua kaki, batuk berkepanjangan, serta frekuensi buang air kecil yang meningkat pada malam hari.
“Gaya hidup juga berperan besar. Obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, serta kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko gagal jantung,” katanya.
Ia menyarankan, pemeriksaan jantung sebaiknya dilakukan sejak dini, terutama bagi mereka yang memiliki gejala seperti nyeri dada, sesak napas, mudah lelah, atau berdebar.
Pemeriksaan juga dianjurkan bagi orang dengan riwayat penyakit jantung dalam keluarga maupun faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok. Bahkan pada usia dewasa muda 20–30 tahun, pemeriksaan jantung sudah disarankan bila faktor risiko tersebut sudah ada.
Kabar baiknya, gagal jantung masih bisa dicegah, terutama pada tahap A. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan mengontrol faktor risiko melalui pola makan sehat, menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, serta menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.
“Pesan saya sederhana, jangan menunggu parah. Bila muncul sesak napas, batuk yang tidak biasa, atau kaki bengkak, segera periksakan diri ke dokter jantung,” tegas dr. Rhenata.
Sebagai informasi, dr. Rhenata Dylan, Sp.JP, membuka praktik di Santosa Hospital Bandung Kopo setiap Senin, Rabu, dan Kamis pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. (*)