Epstein Files Kembali Dibuka untuk Menguak di Dalam Berkas yang Disensor, 6 Nama Baru Muncul
Nanda Lusiana Saputri February 10, 2026 11:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) kembali membuka berkas-berkas Epstein Files.

DOJ membuka berkas-berkas itu untuk menyunting nama setidaknya enam pria yang "kemungkinan terlibat" karena dimasukkan dalam Epstein Files.

Keputusan ini menjadi babak baru dalam pencarian keadilan bagi para korban, sekaligus mengakhiri spekulasi panjang mengenai nama-nama besar yang selama ini disembunyikan dari publik demi alasan privasi atau perlindungan hukum.

Anggota DPR AS, Thomas Massie dan Ro Khanna mengatakan, mereka ingin memberi waktu DOJ untuk lebih lanjut membuka kembali berkas-berkas yang telah disensor tersebut.

Meski begitu, Massie dan Khanna meminta kepada DOJ untuk membagikan nama-nama tersebut di sidang DPR, menurut laporan Axios.

Massie mengatakan kepada wartawan salah satu pria tersebut memiliki "posisi cukup tinggi" di pemerintahan asing, dan yang lainnya adalah tokoh terkemuka.

Para anggota parlemen tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang mereka maksud atau merinci perilaku yang dipermasalahkan.

DOJ setuju untuk mengizinkan anggota parlemen mengakses dokumen lengkap setelah permintaan tertulis dari anggota senior Komite Kehakiman DPR, Jamie Raskin

Partai Demokrat dan beberapa anggota Partai Republik berpendapat DOJ menghindari persyaratan hukum berdasarkan Undang-Undang Transparansi Epstein, dengan menahan jutaan dokumen dan melakukan penyuntingan besar-besaran terhadap beberapa berkas yang telah mereka rilis.

Massie dan Khanna mengatakan banyak berkas yang mereka lihat masih disunting.

Itu artinya, berkas-berkas tersebut sampai ke DOJ baik dari FBI atau dewan juri dengan bagian yang dicoret.

Baca juga: Eks Pacar Epstein, Ghislaine Maxwell Tolak Bersaksi di DPR AS, Bersedia Jika Digrasi Trump

"Saya rasa itu bukan tindakan jahat dari para pengacara karier yang meninjau kasus tersebut, tetapi mereka jelas belum mendapatkan dokumen lengkapnya karena hukum kita menyatakan bahwa FBI dan dewan juri asli harus diungkapkan tanpa sensor, bukan?" kata Massie.

"Jaksa AS dan FBI juga berkewajiban untuk bertindak, begitu pula Departemen Kehakiman," lanjutnya.

Para anggota parlemen juga mengatakan beberapa berkas yang dihapus oleh DOJ masih belum tersedia untuk ditinjau.

"Kami yakin bahwa tinjauan ini akan semakin menunjukkan itikad baik Departemen dalam memproses sejumlah besar dokumen secara tepat dalam waktu yang sangat singkat," tulis Asisten Jaksa Agung, Patrick Davis dalam suratnya kepada anggota Kongres.

Ghislaine Maxwell Bungkam

Mantan rekan Jeffrey Epstein, Ghislaine Maxwell bungkam selama deposisi tertutup yang digelar DPR AS, Senin (9/2/2026).

Bungkamnya Maxwell memicu kritik dari seorang perwakilan DPR yang mendukung upaya untuk merilis berkas investigasi Epstein.

Robert Garcia, anggota senior komite pengawasan dan reformasi pemerintahan, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Maxwell menggunakan haknya berdasarkan Amandemen Kelima dan menolak untuk bersaksi selama deposisi yang dijadwalkan.

Pengacara Maxwell, David Oscar Markus, juga mengatakan dia menggunakan haknya berdasarkan Amandemen Kelima.

"Setelah berbulan-bulan mengabaikan panggilan pengadilan kami, Ghislaine Maxwell akhirnya muncul di hadapan komite pengawasan dan tidak mengatakan apa pun," kata Garcia, mengutip The Guardian.

"Dia tidak menjawab pertanyaan apa pun dan tidak memberikan informasi apa pun tentang para pria yang memperkosa dan memperdagangkan perempuan dan anak perempuan," lanjutnya.

Baca juga: Bungkamnya Ghislaine Maxwell saat Ditanya DPR AS Soal Epstein Files, Melindungi Siapa?

"Siapa yang dia lindungi? Dan kita perlu tahu mengapa dia diberi perlakuan khusus di penjara dengan keamanan rendah oleh pemerintahan Trump."

"Kita akan mengakhiri upaya menutup-nutupi kebenaran oleh Gedung Putih ini," ucapnya.

Sementara itu, Markus mengatakan jika Presiden AS Donald Trump mengabulkan pengampunan kliennya, dia akan membersihkan nama Trump dari segala kesalahan yang berkaitan dengan Epstein.

Langkah luar biasa yang disampaikan oleh pengacara Maxwell pada Senin pagi selama deposisi virtualnya di hadapan Komite Pengawasan DPR, memastikan bahwa saga Epstein akan terus menjadi isu politik yang hangat.

"Nyonya Maxwell siap berbicara sepenuhnya dan jujur ​​jika diberikan pengampunan oleh Presiden Trump," kata Markus, mengutip CNN.

"Hanya dia yang dapat memberikan keterangan lengkap. Beberapa orang mungkin tidak menyukai apa yang mereka dengar, tetapi kebenaran itu penting."

"Misalnya, baik Presiden Trump maupun Presiden Clinton tidak bersalah atas kesalahan apa pun," lanjutnya.

Markus juga mengatakan bahwa hanya Maxwell yang dapat menjelaskan alasannya.

"Dan publik berhak atas penjelasan tersebut," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.