Iran Minta AS Hindari Hasutan Israel, Jangan Mau Tunduk dan Dibodohi oleh Rezim Tel Aviv
SERAMBINEWS.COM – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyarankan Amerika Serikat untuk tidak terpengaruh oleh tekanan Israel dalam proses negosiasi nuklir tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Baghaei dalam konferensi pers di Teheran, Selasa (10/2/2026), dengan menyinggung rekam jejak panjang Israel dalam menciptakan krisis di kawasan Asia Barat.
Baghaei menegaskan bahwa Amerika Serikat merupakan satu-satunya mitra dialog Iran dalam perundingan tersebut dan kini dihadapkan pada pilihan penting,
apakah akan bertindak secara independen atau tetap berada di bawah pengaruh apa yang ia sebut sebagai tekanan “destruktif” dari rezim Israel.
Menurutnya, salah satu tantangan utama kebijakan luar negeri AS di kawasan adalah kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ‘dibodohi’ oleh rezim Tel Aviv.
Baghaei menilai, Israel telah menjadi sumber utama ketidakstabilan regional selama hampir delapan dekade.
Baghaei juga menuding Israel sebagai aktor utama di balik berbagai krisis buatan terkait program energi nuklir damai Iran.
Ia mengatakan tuduhan berulang Israel bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir bertujuan menciptakan ketakutan semu di tingkat internasional.
“Rezim yang sama juga secara konsisten menghambat jalur diplomasi damai,” ujar Baghaei, seraya menekankan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai dan sesuai dengan ketentuan internasional.
Baca juga: Netanyahu “Tekan” Trump Agar Tetap Menyerang Iran, Khawatir Negosiasi AS–Iran Berujung Damai
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan mengenai rencana kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat lebih awal dari jadwal.
Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut sebagai upaya Israel untuk menekan Washington agar memperkeras sikap dalam perundingan nuklir dengan Teheran.
Menurut Baghaei, meskipun bertekad untuk mengatasi masalah-masalah yang belum terselesaikan melalui diplomasi, Iran tetap mempertahankan kesadaran pertahanan negaranya.
Dia mengutip pengalaman masa lalu, termasuk perang Israel-Amerika yang dipaksakan ke negara itu ketika Teheran dan Washington terlibat dalam proses serupa.
Juru bicara Kemlu Iran tersebut memperingatkan bahwa setiap agresi militer baru terhadap Iran akan ditanggapi dengan respons yang tegas dan "menyesalkan,"
Ia juga mengatakan bahwa pengalaman telah menunjukkan bahwa Israel tanpa terkecuali akan mengoordinasikan tindakannya dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut merujuk pada verifikasi yang muncul di berbagai media bahwa putaran sebelumnya dari pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan niat Tel Aviv dan Washington untuk melancarkan perang terhadap Iran pada Juni tahun lalu.
Baghaei menggambarkan putaran pembicaraan terbaru yang berlangsung di ibu kota Oman, Muscat, pada hari Jumat sebagai sesi setengah hari yang bertujuan untuk menilai keseriusan pihak lain dan kemungkinan jalan ke depan.
Dia mengatakan bahwa diskusi tersebut sebagian besar berfokus pada isu-isu umum dan bahwa posisi prinsip Iran telah dijelaskan dengan jelas.
Baghaei menambahkan bahwa tuntutan utama Teheran adalah mengamankan kepentingan bangsa Iran sesuai dengan norma internasional dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), khususnya mengenai penggunaan energi nuklir secara damai.
Ketika ditanya tentang format pembicaraan, juru bicara itu mengatakan, "Apakah negosiasi dilakukan secara langsung atau tidak langsung bukanlah hal yang menentukan; jika ada kemauan politik, kesepakatan dapat tercapai."
"Perundingan pada bulan Juni tidak gagal karena bersifat tidak langsung, tetapi karena Amerika Serikat menggunakan kekuatan militer, yang menyebabkan kebuntuan," tambahnya.
Ia juga mengomentari kunjungan yang sedang berlangsung ke Oman oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, dengan mengatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari kelanjutan konsultasi regional oleh pejabat tersebut, yang sebelumnya telah melakukan perjalanan ke beberapa negara regional, termasuk Rusia, Pakistan, Arab Saudi, dan Irak.
Ia mengatakan bahwa kebijakan prinsip Iran adalah memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga dan mempromosikan hubungan bertetangga yang baik, menambahkan bahwa perjalanan tersebut telah "direncanakan sebelumnya" dan bertujuan untuk meningkatkan kerja sama regional.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)
Bergabunglah Bersama Kami di Saluran WhatsApp SERAMBINEWS.COM