Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyoroti tingginya waktu untuk anak-anak Generasi Z (Gen Z). Menurutnya, Gen Z bisa menghabiskan waktu untuk bermain ponsel capai 9 jam.
"Sekarang kalau anak-anak generasi Gen Z itu sudah sekitar 9 jam, sudah tinggi sekali," katanya dalam acara Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026, di Gedung PPSDM Kemendikdasmen, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026), ditulis Selasa (10/2/2026).
Berangkat dari hal ini, Kemenko PMK ingin bisa bergeser menjadi Artinya, bila awalnya siswa memandang layar ponsel, mengharuskan siswa melihat realitas kehidupan nyata.
"Kita berkepentingan agar anak mulai bergeser dari ke dari ke dari melihat layar menjadi melihat realita kehidupan yang sebenarnya," imbuhnya.
Green Time di Ruang Kelas
Menurut Pratikno, manusia saat ini hidup di tengah era disrupsi. Ia membagi disrupsi menjadi dua jenis, yakni digital dan AI serta atau perubahan iklim.
Untuk menghadapi era digital dan AI, Kemenko PMK menghadirkan platform pembelajaran itu disebut dengan "Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI" yang bisa diakses melalui tautan https://bijakcerdas.dicoding.com/. Sedangkan untuk disrupsi perubahan iklim, Pratikno mengajak untuk menghadirkan
memungkinkan pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi lebih luas. Anak perlu diberi pemahaman lebih lanjut tentang perubahan iklim, mengingat bencana hidrometeorologi mengintai Indonesia.
. Nah oleh karena itu mohon juga saya ingin mengajak Bapak-Ibu untuk satu menghadapi disrupsi digital dan AI, yang kedua menghadapi disrupsi jelasnya.
Mempelajari materi perubahan iklim di sekolah bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memilah sampah. Saat ini, Presiden Prabowo Subianto juga sedang menggaungkan program
Program menurut Pratikno masih sulit dilakukan, bahkan di Jakarta. Alasannya, karena tidak terjadi pemilihan sampah yang disiplin, bahkan dimulai dari pihak keluarga dan sulit dikonversi ke energi.
Dengan begitu, dalam menghadapi perubahan iklim, sekolah bisa membiasakan anak-anak untuk memilah sampah.
Anak-anak Dilatih untuk Tidak Food Waste
Lebih lanjut, perubahan iklim juga beresiko pada ketahanan pangan. Untuk itu, Pratikno meminta untuk dilatih agar tidak menghasilkan atau menyia-nyiakan makanan.
Dijelaskan Pratikno, Indonesia diperkirakan akan menghadapi dan bisa menghabiskan 30% dari stok pangan.
itu ketika pengolahan dari sawah banyak yang tercecer atau hilang, kemudian ketika makan tidak dihabiskan dan disiasiakan. Jadi food waste itu masalah serius. Membiasakan anak untuk tidak menyia-nyiakan makan," paparnya.
Kedua hal tersebut merupakan bagian penting untuk menghadapi perubahan iklim. Oleh karena itu, guru dan sekolah diajak bersama-sama untuk menanggulanginya.







