Tak Perlu ke Bengkel Lagi, Nelayan Batang Dibekali Ilmu Reparasi Mesin Kapal Secara Mandiri
raka f pujangga February 10, 2026 10:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Cuaca laut yang tak menentu biasanya jadi mimpi buruk bagi nelayan, namun bagi Arif Budiyanto (36), nelayan asal Roban, Kabupaten Batang, hari-hari saat tak melaut kini dimanfaatkan untuk hal lain, belajar membongkar dan memperbaiki mesin perahunya sendiri.

Arif menjadi satu dari 25 nelayan Batang yang mengikuti pelatihan perawatan dan perbaikan mesin kapal yang digelar Balai Diklat Perikanan Tegal, bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta didukung pendanaan dari PT BPI.

Baca juga: Muara Dangkal, DKP Batang Tambah Pengerukan Demi Aktivitas Nelayan Jelang Lebaran

“Biasanya kalau mesin macet di laut ya terpaksa pulang. Kalau masuk angin atau kehabisan solar masih bisa diakali. Tapi kalau rusak, ya mau nggak mau ke bengkel,” kata Arif kepada Tribunjateng saat ditemui di Pantai Payung Sewu, Kabupaten Batang, Selasa (10/2/2026).

Kini, kebiasaan itu perlahan berubah.

Dalam pelatihan, Arif dan peserta lain diajak membongkar mesin secara langsung. 

Dari situ, ia baru mengetahui kerusakan di bagian ring, seher, bos stang hingga lahar bandul pada mesinnya.

“Kita bongkar semua dulu, terus tahu mana yang rusak. Nanti tinggal beli, pasang lagi biar jalan,” ujarnya.

Antisipasi Darurat di Tengah Laut

Instruktur pelatihan dari Balai Diklat Perikanan Tegal, Sugiyanto, mengatakan pelatihan ini dirancang agar nelayan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada montir, terutama saat terjadi kerusakan di tengah laut.

“Tujuan utamanya supaya nelayan bisa merawat dan memperbaiki mesin sendiri. Baik saat di darat maupun di laut, sehingga tidak perlu langsung memanggil montir,” jelas Sugiyanto.

Materi yang diajarkan meliputi perawatan rutin hingga perbaikan kerusakan ringan, seperti menyetel klep atau mengganti komponen kecil. 

Dengan catatan, nelayan memiliki peralatan dasar seperti kunci dan perkakas mesin.

“Kalau alatnya ada, kerusakan kecil itu sebenarnya bisa dibenahi sendiri, bahkan di tengah laut,” ujarnya.

Menurut Sugiyanto, pelatihan ini juga menjadi langkah antisipasi kecelakaan laut, mengingat cuaca yang semakin sulit diprediksi.

“Daripada memaksakan melaut, waktu ini dimanfaatkan nelayan untuk memperbaiki perahu dan mesinnya,” ungkapnya.

Selain soal keselamatan, pelatihan ini juga berdampak langsung pada pengeluaran nelayan. 

Sugiyanto menyebut biaya servis mesin di bengkel bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta.

“Dengan pelatihan ini, biaya itu bisa ditekan. Mungkin cukup Rp500 ribu untuk beli spare part saja,” katanya.

Menurutnya, selama ini upah bengkel berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu, belum termasuk biaya suku cadang.

Baca juga: 3 Nelayan Tersambar Petir saat Perbaiki Mesin Kapal di Tengah Hujan, 1 Tewas

“Kalau nanti sudah bisa memperbaiki sendiri, jelas mengurangi biaya bengkel. Lumayan buat nelayan,” ucapnya.

Bagi Arif dan nelayan lain, pelatihan ini bukan sekadar belajar mesin.

Hal ini tentang kemandirian, keselamatan, dan bertahan hidup di tengah kerasnya laut, tanpa harus selalu bergantung pada orang lain. (Ito)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.