Dua Tahun Menikah tapi Tak Kunjung Punya Anak, Suami Syok saat Lihat Lebam di Tubuh Istrinya
Randy P.F Hutagaol February 11, 2026 01:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang pria membagikan kisah rumah tangganya yang penuh emosi setelah dua tahun menikah tapi tak juga dikaruniai anak.

Dikutip dari Eva.vn Selasa (10/2/2026), ia dan istrinya menikah di awal tahun setelah hampir tiga tahun berpacaran.

Keduanya telah berusia di atas 30 tahun, memiliki pekerjaan yang stabil, dan berasal dari keluarga yang tidak secara terbuka menuntut kehadiran anak dalam waktu singkat.

Meski demikian, ada pemahaman tak terucap bahwa setelah menikah, memiliki anak dianggap sebagai bagian dari kebahagiaan rumah tangga.

Dengan kesadaran tersebut, pasangan ini sepakat untuk segera merencanakan kehamilan sejak bulan-bulan awal pernikahan dengan sikap santai dan tanpa tekanan.

Waktu terus berjalan.

Bulan demi bulan berlalu tanpa tanda-tanda kehamilan.

Hingga satu tahun berlalu, lalu dua tahun, rumah tangga mereka masih belum diisi kehadiran seorang anak.

Pada awalnya, keduanya berusaha saling menguatkan dengan keyakinan bahwa anak adalah soal jodoh dan tidak perlu dipaksakan.

Namun seiring berjalannya waktu, tekanan yang tidak terlihat mulai terasa semakin berat.

Setiap kali keluarga atau kerabat bertanya, sang istri hanya tersenyum, sementara sang suami berusaha menimpali agar istrinya tidak merasa terpojok.

Perubahan pada diri sang istri perlahan mulai terlihat.

Ia menjadi lebih pendiam, mudah lelah, wajahnya tampak pucat, dan sering masuk kamar lebih awal pada malam hari.

Sang suami mengira perubahan tersebut semata-mata disebabkan oleh pekerjaan dan tekanan psikologis karena belum memiliki anak.

Ia memilih untuk diam-diam memperhatikan tanpa bertanya terlalu jauh, karena khawatir justru akan menambah beban pikiran istrinya.

Hingga suatu malam, ketika keduanya bersiap untuk keluar makan malam, sang suami tanpa sengaja menyaksikan sebuah kejadian.

Istrinya masuk ke kamar lebih dulu untuk berganti pakaian, sementara ia menunggu di luar dengan niat membantu mengaitkan resleting gaun.

Saat pintu kamar sedikit terbuka, ia melihat istrinya membelakangi pintu dan mengangkat bajunya.

Di saat itulah ia melihat sejumlah lebam kecil di perut istrinya, beberapa di antaranya masih tertutup plester. Pemandangan tersebut membuatnya terkejut dan panik.

Ia segera masuk kamar dan melontarkan pertanyaan bertubi-tubi, menanyakan apa yang terjadi dan siapa yang telah melukai istrinya.

Sang istri terkejut, wajahnya pucat, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya menangis dan memeluk suaminya.

Dari sanalah terungkap fakta yang selama ini disembunyikan.

Sang istri ternyata telah hampir satu tahun menjalani pengobatan infertilitas secara diam-diam.

Ia memeriksakan diri sendiri dan menjalani suntikan hormon perangsang sel telur sesuai anjuran dokter.

Setiap hari ia menyuntik dirinya sendiri, menahan rasa sakit, kelelahan, serta perubahan kondisi tubuh.

Semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan suaminya karena tidak ingin membuat sang suami khawatir dan tidak ingin keluarga kedua belah pihak mengetahui kondisinya, yang dikhawatirkan akan menambah tekanan.

Sang istri mengaku takut jika tidak memiliki anak, orang-orang akan menyalahkannya. Ia juga takut melihat suaminya bersedih.

Pengakuan tersebut membuat sang suami merasa terpukul.

Ia menyadari bahwa selama ini ia mengira telah berjalan bersama istrinya, padahal sang istri harus berjuang sendirian. 

Semua tanda kelelahan, kegelisahan, dan perubahan emosi yang sebelumnya ia lihat kini menjadi jelas alasannya.

Setelah kejadian itu, sang suami mengambil cuti kerja untuk menemani istrinya kembali berkonsultasi ke dokter. Kali ini mereka datang bersama.

Dokter menyampaikan bahwa tekanan psikologis merupakan faktor besar yang memengaruhi peluang kehamilan. 

Upaya sang istri yang memaksakan diri dalam waktu lama justru membuat tubuhnya semakin sulit merespons pengobatan.

Pasangan tersebut kemudian memutuskan untuk menghentikan sementara semua intervensi medis dan fokus pada pemulihan kondisi fisik serta mental sang istri.

Sang suami menegaskan bahwa kesehatan istrinya jauh lebih penting daripada memiliki anak.

Sejak keputusan itu diambil, suasana rumah tangga mereka menjadi lebih ringan. 

Sang istri tampak lebih bahagia, lebih sering tersenyum, dan bisa tidur dengan lebih nyenyak.

Tiga bulan kemudian, pada suatu pagi yang biasa, sang istri keluar dari kamar mandi sambil memegang alat tes kehamilan.

Dua garis terlihat jelas. 

Keduanya berpelukan dan menangis, bukan semata karena kehamilan, melainkan karena telah belajar arti kebersamaan yang sesungguhnya.

 

(cr31/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.