Strategi NetApp Bangun Resiliensi Siber dan Infrastruktur Data Cerdas
Adam Rizal February 11, 2026 01:34 AM

​Lonjakan penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) membawa paradoks bagi dunia bisnis. Di satu sisi, AI membuka keran produktivitas; di sisi lain, ia memicu ancaman keamanan yang kian kompleks.

Menanggapi fenomena ini, NetApp memperkenalkan strategi cyber resilience melalui pendekatan intelligent data infrastructure yang menempatkan data sebagai jantung pertahanan.

​Michael Thiotrisno (Country Manager NetApp Indonesia) mengatakan evolusi ancaman siber menuntut perusahaan untuk mengubah cara pandang mereka.

"Keamanan modern tidak lagi cukup hanya dengan memagari jaringan, tetapi harus langsung memproteksi data sebagai aset utama organisasi," ujarnya.

​Memutus Rantai Ransomware Sejak Dini

​NetApp mengembangkan teknologi cyber resilience yang mampu mendeteksi pola serangan bahkan sebelum proses enkripsi ransomware dimulai. Teknologi itu bekerja di tingkat algoritma untuk mengenali anomali sejak tahap awal.

​“Kami mengembangkan teknologi yang bisa mengenali pola malware sejak awal, termasuk cara mereka melakukan enkripsi. Jadi serangan bisa dihentikan sebelum berdampak,” ujar Michael.

​Selain itu, inovasi deteksi pelanggaran data NetApp mampu mengidentifikasi aktivitas mencurigakan, seperti akses berlebihan atau upaya penyalinan data massal. Dengan sistem peringatan dini ini, organisasi dapat mencegah kebocoran informasi lebih lanjut secara real-time.

​Menatap Masa Depan, Kriptografi Post-Quantum

​NetApp tidak hanya fokus pada ancaman hari ini. NetApp sedang mempersiapkan benteng pertahanan masa depan melalui implementasi post-quantum cryptography. Langkah itu dirancang untuk melindungi data dari potensi ancaman quantum computing yang kelak mampu memecahkan metode enkripsi konvensional saat ini.

"Perusahaan di Indonesia saat ini tengah berada dalam fase transisi dalam memanfaatkan AI untuk tujuan bisnis yang lebih strategis," ucapnya.

​Peluang Monetisasi AI dan Keamanan Finansial

​Sejauh ini banyak organisasi masih memanfaatkan AI pada level chatbot atau asisten virtual. Meski meningkatkan efisiensi, penggunaan tersebut belum memberikan dampak monetisasi langsung.

Peluang monetisasi AI yang paling menjanjikan saat ini berada di sektor fraud detection, khususnya di industri keuangan.

​Dengan mengolah data terstruktur maupun tidak terstruktur, AI dapat memahami pola perilaku pengguna untuk menilai kelayakan nasabah secara komprehensif.

“AI mampu membantu lembaga keuangan dalam memahami profil risiko sekaligus mencegah potensi kerugian finansial secara lebih akurat,” jelasnya.

​Selain itu, personalisasi layanan menjadi celah monetisasi lainnya. Dengan analisis preferensi pengguna yang mendalam, perusahaan dapat menyajikan rekomendasi produk yang lebih relevan, sehingga meningkatkan konversi transaksi.

​Pergeseran Paradigma Data-Centric Security

​Seiring meningkatnya ancaman berbasis AI, paradigma keamanan bergeser dari network-centric menuju data-centric. Di era ini, data menjadi pusat dari segala aktivitas, mulai dari pelatihan model AI hingga operasional bisnis.

​“Jika data bocor atau dimanipulasi, dampaknya jauh lebih besar dibanding serangan jaringan tradisional,” tegas Michael.

Pendekatan ini menuntut pemantauan akses real-time dan penerapan kebijakan Zero Trust yang ketat guna memvalidasi setiap interaksi terhadap data.

Tantangan Infrastruktur di Indonesia

​Di Indonesia, tantangan terbesar bukan sekadar teknologi, melainkan kesiapan mengelola data yang terintegrasi. Banyak perusahaan masih menghadapi masalah data yang tersebar di berbagai sistem dan cloud, yang pada akhirnya menyulitkan kontrol keamanan.

​Michael menekankan bahwa investasi pada intelligent data infrastructure adalah soal keberlanjutan. Infrastruktur yang efisien energi dan adaptif terhadap perkembangan AI menjadi kunci.

​“Perusahaan harus melihat keamanan data sebagai fondasi. Tanpa data yang aman dan terpercaya, AI maupun transformasi digital tidak akan memberikan nilai maksimal,” ujar Michael.

​Perubahan pola serangan menandai era baru di mana manusia, data, dan AI menjadi target sekaligus alat pertahanan. Michael menutup dengan pesan tegas mengenai ancaman social engineering yang kini semakin canggih dan mampu mengeksploitasi sisi emosional korban lewat bantuan AI.

​“Tanpa pendekatan keamanan yang berpusat pada data dan Zero Trust, organisasi akan kesulitan bertahan di era AI yang terus berkembang,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.