Hasil CKG Siswa SMA di Banjarmasin, 30 Persen Siswa Hadapi Masalah Mental
Ratino Taufik February 11, 2026 06:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ada yang perlu mendapat perhatian dari hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banjarmasin. Dari 167 siswa yang diperiksa Dinas Kesehatan Banjarmasin, 17 anak atau 10 persennya masalah kejiwaan berat. Sedangkan 33 siswa atau sekitar 20 persen gejala ringan. Sementara 117 atau sekitar 70 persen tidak memiliki persoalan dengan mental.

“Skrining jiwa baru dimulai 2026 untuk siswa SMA. Meski sebagian besar dalam kondisi baik, temuan gejala ringan hingga berat tetap menjadi perhatian serius,” kata Pelaksana Tugas Kadinkes Banjarmasin, M Ramadhan, Selasa (10/2).

Mengacu laporan Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Pokja Kesehatan Keluarga, skrining kesehatan pelajar sepanjang 2025 yang terbatas pada pemeriksaan fisik menunjukkan berbagai gejaka penyakit. Dari hasil pemeriksaan tersebut, 56,9 persen murid SD, 56,2 persen siswa SMP dan 50,4 persen siswa SMA terdeteksi memiliki gejala beragam penyakit. Jenis penyakit yang paling banyak karies gigi, anemia, diabetes melitus tipe 2, pra-hipertensi dan scabies.

Kondisi ini menunjukkan persoalan kesehatan pelajar tidak lagi didominasi penyakit ringan, melainkan mulai bergeser ke penyakit tidak menular yang berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang. “Ini pengingat bagi kita semua, karena penyakit-penyakit tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa,” ucapnya.

Ia menambahkan hasil CKG tersebut akan ditindaklanjuti agar setiap anak yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan dapat memperoleh penanganan yang sesuai. “Deteksi dini sangat penting agar anak-anak bisa tumbuh sehat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental,” kata Ramadhan.

Baca juga: Dosen di Tanahlaut Ini Kembangkan Sorgum sebagai Pangan dan Pakan Alternatif, Ini Keunggulannya

Hasil CKG terhadap pelajar di Kota Banjarbaru juga menunjukkan adanya tantangan serius khususnya pada aspek kesehatan jiwa dan rendahnya aktivitas fisik.

Berdasarkan data yang disampaikan Kadinkes Banjarbaru dr Juhai Trianty Agustina, sebanyak 26,58 persen anak usia sekolah di ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan ini menunjukkan gejala signifikan pada kesehatan jiwa. “Untuk skrining kesehatan jiwa yang ditemukan masih tahap ringan,” sambungnya.

Kendati demikian, Dinkes melalui Puskesmas melakukan antisipasi. “Jika ditemukan ada permasalahan, akan kami tindak lanjuti dengan merujuk ke rumah sakit,” tambahnya.

Sedangkan mengenai kurangnya aktivitas fisik, ditemukan pada 64,39 persen pelajar.

Juhai menjelaskan persentase tersebut didapat dari CKG yang dilakukan Puskesmas di sekolah yang masuk wilayahnya. “CKG kami lakukan di sekolah,” kata Juhai.

Dia pun menerangkan program Presiden Prabowo Subianto ini dilaksanakan seluruh Puskesmas di Banjarbaru mulai 10 Februari 2025. Selama setahun berjalan, CKG dilakukan terhadap 53.461 warga di lima kecamatan. Ini baru 19,18 persen dari jumlah penduduk Banjarbaru.

Untuk peserta CKG usia 18 tahun ke atas, kasus atau penyakit terbanyak yakni karies gigi atau gigi berlobang 51,85 persen. Kemudian, hipertensi atau peningkatan tekanan darah 32,08 persen, obesitas di angka 24,87 persen.

Sementara untuk anak usia sekolah dan remaja, hasil CKG menunjukkan 29,53 persen berisiko terpapar asap rokok dan 4,97 persen sudah merokok. Selain itu, 26,58 persen menunjukkan gejala pada skrining kesehatan jiwa.

Setahun CKG berjalan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan program ini tidak lagi sekadar mendeteksi penyakit, tetapi memastikan masyarakat langsung mendapatkan pengobatan.

“Yang paling penting sekarang, cek kesehatan gratis itu bukan hanya dicek, tapi juga diobati. Kalau tekanan darahnya normal tidak perlu diobati, tapi kalau tinggi harus diobati. Gula darah juga sama, kalau tinggi harus langsung diobati,” ujar Menkes saat meninjau pelaksanaan satu tahun CKG di RSUP dr. Kariadi, Semarang, Selasa.

Selain mengarahkan pada pengobatan, Menkes mendorong CKG dilakukan rutin minimal satu kali setahun, terutama bagi masyarakat dengan faktor risiko penyakit kronis.

Pelaksanaan CKG juga diperluas, tidak hanya di puskesmas, tetapi menjangkau sekolah, tempat kerja, hingga berbagai institusi lainnya.

Data Kemenkes menunjukkan capaian CKG terus meningkat. Hingga awal 2026, lebih dari 4,5 juta masyarakat mengikuti CKG, dengan fokus utama pada deteksi dan pengobatan hipertensi, diabetes, obesitas, serta masalah kesehatan gigi yang masih menjadi keluhan lintas usia. (riz/naa/sul/kemkes)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.