Menyoal Media Massa
Ratino Taufik February 11, 2026 06:52 AM

Oleh: Teguh Pamungkas
Kolumnis

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP tanggal 9 Februari diperingati Hari Pers Nasional (HPN). Di hari itu pula diperingati sebagai HUT Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bagi insan media di Tanah Air, kedua peringatan tersebut merupakan salah satu penghargaan tertinggi pada dunia jurnalistik.

Hal tersebut tentunya tak bisa dipungkiri ketika zaman yang serba digital banyak merambah industri di Indonesia. Tantangan berat siap menanti, di mana persaingan platform digital yang menawarkan materi serupa semakin banyak. Padahal kita mengetahui, stasiun televisi nasional banyak pula menawarkan program-program inovatif dan hiburan populer.

Di akhir 2022 lalu juga suatu surat kabar cetak yang berpamitan kepada khalayak perihal untuk tidak terbit lagi secara cetak. Mulai Januari 2023 diinformasikan bahwa tidak terbit atau menyapa pembaca lagi berwujud koran. Namun surat kabar tersebut tetap menyapanya melalui surat kabar elektronik (e-paper). Begitu pun sebelumnya, hal yang sama juga dialami surat kabar lain, yang telah berpamitan lebih dahulu.

Lalu, bagaimana dengan keberadaan surat kabar, majalah  atau media cetak lainnya? Awalnya media massa hanya berupa surat kabar. Setelahnya muncul radio dan televisi. Kemudian memasuki era digital seperti sekarang ini, kita semakin mudah mencari informasi dan hiburan melalui internet. Hal ini beriringan juga semakin mudahnya orang untuk memperoleh informasi. Hanya dengan menggunakan jari tangannya, orang bisa mengakses gadget sebagai jendela informasi. Apakah memang demikian?

Ketika memasuki era digital, mau tidak mau, suka tidak suka, harus bisa beradaptasi. Hal yang sama juga berlaku pada media massa yang dituntut untuk bisa menyesuaikan perubahan gaya baca masyarakat sekarang ini.

Kini mencari informasi cukup melalui layar handphone. Menatap sesuai alur layar, dari atas ke bawah terkadang bolak balik, naik turun. Membaca apa yang tampak di layar gadget, bercengkerama dengan internet.

Bagi sebagian orang yang terbiasa membaca surat kabar, jika membaca namun tak memegang fisik mungkin akan agak sedikit aneh. Apalagi suara yang khas tatkala lembar demi lembar halaman koran dibuka.

Kiranya fenomena seperti inilah yang menggugah kesadaran manusia untuk dapat menyesuaikan diri atas informasi yang berkembang di masyarakat. Setiap individu dituntut terbiasa dengan digital, membangun interaksi sosial sekaligus menggeser orang untuk melek informasi.

Perubahan kebiasaan yang begitu cepat, akhirnya tanpa disadari memaksa individu menuju masyarakat informasi pada ruang digital. Keadaan diri yang dituntut untuk memasukinya, meskipun memerlukan proses untuk beradaptasi di lingkungan baru.

Menyapa khalayak

Menyapa masyarakat setiap saat merupakan tugas media massa. Namun, terutama bagi media cetak, menyapa pembaca memiliki keunikan tersendiri. Karena bagi sebagian pembaca, terutama dari kaum milenial yang kehidupannya tak terlepas dari adanya gadget, perlu sentuhan melalui layar digital untuk menyapanya. Meskipun memang tidak mudah untuk mengelola media yang jalan secara bersamaan.

Bukan hanya efisiensi produksi dan pendistribusian konten media, tetapi manfaat konvergensi media dapat memungkinkan audiens untuk mengakses konten media di berbagai platform media massa yang sama.

Ya, meskipun demikian, tentunya memiliki dampak di satu sisi yaitu menurunnya industri media cetak. Tentunya oplah media massa cetak terus berubah-ubah. Di mana setelah memasuki era digital, oplah cetak pun belum bisa mencapai angka seperti dahulu lagi.

Kehadiran internet menjadikan arus informasi maupun hiburan tak bisa dibendung lagi. Arus informasi global memasuki sendi-sendi kehidupan di segala lini masyarakat tanpa batas. Dalam hitungan detik, jutaan informasi masuk tak terperi entah siang maupun malam. Tak terhalangi lagi, menembus jarak dan waktu, mau tidak mau, siap atau tidak siap, tiap individu mesti cakap dalam menggunakan dan memanfaatkan informasi agar menghasilkan makna dan nilai dari informasi tersebut.

Isu kekinian menjadi sajian utama dalam perkembangan informasi yang semakin membeludak. Orang yang menutup diri dari arus informasi, akan mengalami gagap saat bersosial. Karena orang akan menginterpretasi diri pada segi-segi tindakan tertentu di mana dari interpretasi itu menghasilkan keputusan dan pandangan dunia secara sistematis. Selamat Hari Pers Nasional (HPN). (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.