Rencana penyelenggaraan sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi kini resmi diumumkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.
Langkah ini menjadi rujukan utama bagi umat Muslim di tanah air yang tengah menantikan kepastian dimulainya ibadah puasa tahun ini.
Dalam rapat persiapan yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (29/1/2026), pemerintah menegaskan komitmennya untuk merangkul berbagai pendekatan yang ada melalui metode integrasi.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa sinkronisasi antara data sains dan pengamatan lapangan merupakan kunci utama.
"Kementerian Agama menggunakan pendekatan integrasi hisab dan rukyat. Ini penting untuk menjaga persatuan umat," ungkapnya secara resmi.
Penerapan metode tersebut diharapkan mampu memberikan kejelasan bagi publik sekaligus menjadi sarana dalam mempererat persatuan masyarakat.
Dengan menggabungkan hasil perhitungan hisab dan pemantauan rukyatul hilal, Kemenag berupaya menghadirkan keputusan yang kredibel bagi seluruh elemen umat Islam di Indonesia dalam menyambut bulan suci.
Jadwal sidang isbat Awal Ramadan 2026
Berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Agama, sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H akan digelar pada:
Berdasarkan data hisab awal untuk 17 Februari 2026, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia terpantau berada di antara -2° 24.71' hingga 0° 58.08'.
Secara teknis, angka ini mengindikasikan bahwa hilal belum memenuhi kriteria MABIMS.
Kendati demikian, masyarakat diimbau menunggu keputusan resmi yang akan diambil dalam sidang isbat setelah mempertimbangkan hasil verifikasi lapangan (rukyat).
Rangkaian sidang akan diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag, disusul dengan sidang tertutup, dan diakhiri dengan konferensi pers pengumuman hasil secara terbuka kepada publik.
Aturan terbaru sidang isbat 2026
Penyelenggaraan sidang isbat tahun ini terasa istimewa dengan hadirnya payung hukum baru, yakni Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 1 Tahun 2026.
Regulasi ini diterbitkan untuk memperkuat tata kelola penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah agar lebih transparan, akuntabel, serta mampu memberikan kepastian hukum bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa PMA ini merupakan tonggak sejarah dalam standardisasi penetapan waktu ibadah nasional.
"PMA ini menjadi panduan resmi agar penyelenggaraan sidang isbat berjalan tertib dan memberikan kepastian bagi umat dalam menjalankan ibadah," jelasnya, dikutip dari laman resmi Kemenag, Jumat (30/1/2026).
Salah satu poin utama dalam PMA Nomor 1 Tahun 2026 adalah penegasan penggunaan metode hisab dan rukyat secara terpadu.
Dalam praktiknya, hisab berfungsi sebagai dasar perhitungan ilmiah posisi hilal, sementara rukyat menjadi verifikasi faktual di lapangan.
“Kementerian Agama tidak menggunakan satu metode saja. Kami mengintegrasikan hisab dan rukyat secara bersamaan agar keputusan yang diambil memiliki kekuatan ilmiah sekaligus kekuatan keagamaan,” tambahnya.
Selain teknis penghitungan, regulasi ini juga mengatur secara rinci tata cara penyelenggaraan, mulai dari waktu pelaksanaan, unsur peserta, hingga mekanisme pengambilan keputusan.
Kehadiran PMA ini dipandang sebagai upaya negara dalam memperkuat pelayanan keagamaan berbasis data dan tata kelola yang akuntabel.
“Ini bukan sekadar soal penetapan awal bulan, melainkan bagian dari pelayanan keagamaan yang harus dikelola secara profesional,” tegas Abu Rokhmad.
Ia berharap regulasi baru ini dapat memperkuat kesatuan umat, memberikan kepastian hukum, serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses penetapan awal bulan hijriah nasional.
Berikut adalah poin-poin utama dalam aturan terbaru tersebut:
Jadwal Ramadan 2026 Versi Muhammadiyah
Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa lebih dahulu melalui metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.
Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah, 1 Ramadan 1447 H dipastikan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penetapan ini merujuk pada perhitungan astronomis yang presisi, menggunakan pedoman Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Metode ini mengandalkan perhitungan posisi geometris benda-benda langit, Matahari, Bumi, dan Bulan untuk memberikan kepastian tanggal ibadah lebih awal kepada umat Islam, sekaligus meminimalisir perbedaan yang sering terjadi akibat hambatan pengamatan visual di lapangan.
Sebagai langkah persiapan bagi warga persyarikatan dan umat Islam secara umum, Muhammadiyah juga telah merilis jadwal Imsakiyah Ramadan 2026.
Berdasarkan jadwal tersebut, umat Islam yang mengikuti ketetapan Muhammadiyah diperkirakan akan menjalankan ibadah puasa selama 30 hari penuh.
Tidak hanya awal puasa, Muhammadiyah juga telah menentukan titik akhir bulan suci.
Hasil ijtimak menjelang Syawal menunjukkan bahwa 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.