Etnis Tionghoa Fakfak Papua Barat Apresiasi Perayaan Imlek Nasional 2026
Hans Arnold Kapisa February 11, 2026 12:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Masyarakat etnis Tionghoa di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menyampaikan apresiasi atas Perayaan Imlek Nasional 2026 yang digelar Pemerintah Pusat.

Ketua Ikatan Sosial Kerukunan Tionghoa Kabupaten Fakfak, Silvester Sia, menilai perayaan ini sebagai bentuk pengakuan sekaligus perhatian pemerintah terhadap seluruh komponen masyarakat.

“Bagi kami, perayaan Imlek Nasional merupakan sinyal bahwa pemerintah hadir dan memperhatikan semua lapisan masyarakat,” ujar Silvester Sia di Fakfak, Rabu (11/2/2026).

Ia menambahkan, Imlek Nasional 2026 yang untuk pertama kalinya digelar dalam sejarah Indonesia menjadi momentum penting bagi etnis Tionghoa untuk berkontribusi dalam program pemerintah serta memperkuat kebersamaan sebagai bangsa.

“Harapan besar kami, momen ini dapat menumbuhkan kepedulian antar sesama, terutama bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air,” tandasnya.
 
Selain itu, Silvester juga memaparkan persiapan menyongsong Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Fakfak.

Ia menyebutkan perayaan akan dilaksanakan secara sederhana namun tetap bermakna, mengingat masih banyak warga yang tertimpa musibah, baik di Fakfak maupun di daerah lain seperti Aceh dan Sumatera.

Baca juga: Perayaan Imlek 2576 Kongzili di Fakfak, Pieter Lauw: Tahun Ular Kayu Bawa Perubahan Positif

Meski sederhana, masyarakat Tionghoa tetap diimbau memasang lampion di rumah masing-masing.

Pemasangan lampion di Klenteng Tjong Tek Sie, Jalan Izak Telussa, akan dilakukan melalui kerja bakti bersama pengurus dan warga.

Untuk tahun ini, tidak ada pemasangan lampion di sepanjang jalan utama, melainkan difokuskan di rumah-rumah warga.

Pada malam pergantian tahun, kembang api akan dinyalakan di Klenteng Tjong Tek Sie, disertai tradisi silaturahmi keluarga dan pemberian angpao bagi anak-anak.

Makna Tahun Kuda Api

Silvester menjelaskan, Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili jatuh pada shio Kuda Api.

Menurutnya, simbol “kuda” mencerminkan kecepatan dan kegesitan, sementara “api” melambangkan panas dan kewaspadaan.

“Kami memaknainya sebagai pertanda kondisi alam yang perlu diwaspadai, mulai dari kebakaran hingga cuaca panas yang berdampak pada debit air,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mawas diri menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik global.

“Mari berhemat dan saling memperhatikan satu sama lain demi kondisi keluarga yang baik,” imbaunya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.