Menyasar "Entry Level", Diskominfo DIY Targetkan UMKM Melek Bisnis Digital di 2026
Hari Susmayanti February 11, 2026 05:01 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Komunikasi dan Informatika terus mengakselerasi transformasi digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

Memasuki tahun 2026, fokus pelatihan kini bergeser, tak lagi sekadar mengenalkan media sosial tetapi mulai merambah penggunaan kecerdasan buatan atau AI untuk mendongkrak efisiensi bisnis.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi (monev) sepanjang tahun 2025, intervensi digital ini memberikan dampak signifikan pada performa ekonomi pelaku usaha.

Rata-rata pendapatan UMKM di DIY yang mengikuti program "E-Business" dilaporkan meningkat hingga 25 persen.

Selain itu, penggunaan media sosial untuk promosi melonjak antara 30 hingga 70 persen.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY, Heri Edi Tri Wahyu Nugroho, menjelaskan bahwa pada tahun 2026 ini, skenario pelatihan tetap akan menyasar pelaku usaha pemula (entry level), namun dengan penajaman materi berdasarkan aspirasi di lapangan.

Rencananya, pelatihan E-Business bagi pelaku UMKM pada 2026 akan dibuka pada Kamis, 12 Februari 2026 di Gedung Balai RW 08 Suronatan, Notoprajan Ngampilan Kota Yogyakarta.

"Untuk pelatihan bisnis, skenario kita masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni menyasar entry level atau pelaku usaha pemula. Namun, memang ada aspirasi untuk mengadakan pelatihan lanjutan bagi mereka yang usahanya sudah berjalan. Kami melihat ada peningkatan kepercayaan diri pelaku usaha dan jejaring yang semakin luas setelah mengikuti rangkaian ini," ujar Wahyu, Selasa (10/2/2026).

Salah satu terobosan dalam materi pelatihan adalah pengenalan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai asisten digital bagi pelaku UMKM.

Di tengah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) untuk mengelola konten, AI hadir sebagai solusi praktis.

Heri menekankan bahwa penggunaan AI bagi UMKM diarahkan pada aspek-aspek teknis yang selama ini dianggap membebani pelaku usaha, seperti pembuatan narasi iklan dan pengelolaan konten visual.

"Sejauh apa manfaat AI? Misalnya di sisi praktis, AI itu digunakan untuk membuat narasi di media sosial yang baik dan menarik perhatian. Kita kan juga melatih teknik memfoto produk. Nah, dengan foto yang sudah ada, AI membantu membuatkan caption yang bagus sehingga pelaku UMKM tidak perlu terlalu banyak berpikir keras dan prosesnya lebih praktis," kata Wahyu menjelaskan.

Memperkuat Ekosistem SiBakul

UMKM di DIY diarahkan untuk masuk ke dalam ekosistem SiBakul, sebuah market hub yang dikelola oleh Dinas Koperasi dan UMKM DIY.

Heri menyebutkan bahwa pelatihan yang diberikan Diskominfo menjadi pintu masuk bagi pembinaan yang lebih komprehensif.

"Kami memfasilitasi melalui SiBakul sebagai market hub, tempat bertemunya pelaku usaha dan pasar. Ke depan, jika SiBakul berkembang menjadi marketplace penuh, tentu akan kami dukung. Selama pelatihan, para pelaku usaha sudah diarahkan untuk bergabung ke sana agar teman-teman di Dinas Koperasi UMKM bisa melakukan pembinaan dan pemantauan secara teknis secara langsung," tuturnya.

Meski menunjukkan tren positif, evaluasi program tahun 2025 mencatat sejumlah tantangan.

Durasi pelatihan yang terbatas dan metode ceramah (klasikal) dinilai perlu segera diubah menjadi model lokakarya (workshop) yang menitikberatkan pada praktik langsung (hands-on).

Ketersediaan infrastruktur jaringan di lokasi pelatihan, terutama di titik-titik wifi publik Jogja Istimewa, juga menjadi prioritas perbaikan di tahun 2026 agar proses literasi digital tidak terhambat kendala teknis.

Target sasaran program ini diproyeksikan menjangkau lebih dari 100 orang per siklus pelatihan, dengan rata-rata 30 pelaku UMKM per angkatan. Dengan target yang terukur, Pemda DIY berharap UMKM tidak hanya sekadar "Go Digital", tetapi benar-benar naik kelas melalui efisiensi transaksi dan perluasan pangsa pasar di ruang siber. (han)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.