Disertasi Doktor, Chaidir Ungkap Perjalanan Panjang Menaklukkan Kotak Kosong yang Tak Kosong
Ansar February 11, 2026 05:05 PM

TRIBUNMAROS.COM, MAROS – Perjalanan politik Bupati Maros Chaidir Syam dalam Pilkada 2024 menjadi salah satu bagian penting dalam disertasinya pada sidang terbuka promosi doktor di Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu (12/2/2026).

Dalam pemaparannya, Chaidir mengungkap dinamika panjang yang dilalui hingga akhirnya maju sebagai calon tunggal melawan kolom kosong.

Ini kali pertama Chaidir Syam mengungkapnya di hadapan publik dan para penguji.

Promotor ujian doktor Chaidir Syam yakni Prof Armin Arsyad.

Awalnya, Chaidir maju berpasangan dengan Suhartina Bohari yang saat itu menjabat Wakil Bupati Maros periode pertama sekaligus Ketua Golkar Maros.

Pasangan tersebut diusung dua partai besar, yakni PAN dan Golkar, dengan total 18 kursi di DPRD Maros atau masing-masing 12 kursi PAN dan 6 kursi Golkar dari total 35 kursi parlemen.

Secara elektoral, dukungan itu telah melampaui 51 persen kekuatan DPRD. 

Meski demikian, koalisi tetap diperluas dengan merangkul partai lain.

Total sembilan partai akhirnya bergabung dalam koalisi pengusung.

“Modal politik dari calon menjadi catatan positif dalam disertasi kami sehingga bisa menjadi pasangan calon tunggal dalam kontestasi Pilkada,” katanya.

Namun rencana tersebut harus berubah di tengah jalan.

Suhartina dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam tes kesehatan sehingga gugur sebagai calon wakil bupati.

Situasi itu membuat Chaidir harus mencari pasangan pengganti dalam waktu hanya tiga hari, sekaligus memastikan sembilan partai pengusung tetap solid.

Empat nama sempat masuk dalam bursa calon pendamping, yakni Sekda Maros Andi Davied Syamsuddin, Kepala Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu Nuryadi, Kepala Dinas Kesehatan Muh Yunus, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Muetazim Mansyur.

Pada akhirnya, Muetazim Mansyur yang dipilih mendampingi Chaidir.

Tantangan belum berhenti. 

Pasangan ini kemudian menghadapi fenomena kolom kosong yang tak benar-benar kosong.

Dalam penelitiannya, Chaidir mengkaji secara sosiologis dukungan terhadap kolom kosong yang muncul pada Pilkada Maros 2024.

“Kami meneliti fenomena kolom kosong, yang sebenarnya berisi. Bahkan kami melihat secara visual, spanduk kolom kosong terlihat lebih besar dibandingkan calon tunggal,” ungkapnya.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi indikator penting dalam membaca kualitas demokrasi lokal, baik secara prosedural maupun substansial.

Berbagai upaya dilakukan pasangan Chaidir-Muetazim untuk memantapkan visi misi.

Sekaligus membangun kembali kepercayaan masyarakat di tengah menguatnya dukungan terhadap kolom kosong.

Hasilnya, pasangan ini memenangkan Pilkada Maros 2024 dengan perolehan 64,01 persen suara.

Sementara kolom kosong meraih 35,99 persen.

Meski menang, Chaidir mengakui Pilkada dengan calon tunggal berdampak pada tingkat partisipasi pemilih yang berada di kisaran 69,62 persen.

Fenomena tersebut, kata dia, menjadi bahan refleksi akademik untuk memperkuat kualitas demokrasi di tingkat lokal ke depan.

Ia menyebut dinamika politik yang dialaminya menjadi bahan refleksi akademik untuk perbaikan sistem demokrasi ke depan.

Ia juga memastikan tetap menjaga objektivitas penelitian, meski menjadikan fenomena yang dialaminya sendiri sebagai bagian dari kajian.

“Makanya itu ditulis, jangan terlalu curahan hati. Tetapi mungkin ada juga yang akhirnya saya mengambil orang lain untuk menanyakan, karena mungkin kalau lewat saya ada bias,” jelasnya.

Kedepan, ia membuka kemungkinan untuk membukukan pengalaman akademik dan politiknya sebagai referensi bagi generasi muda yang ingin berkecimpung di dunia politik.

“Insya Allah kita buat buku untuk jadi pengalaman, jadi cerita-cerita baiklah untuk pelajaran kepada teman-teman yang bergelut di politik,” tutupnya.

Sementara itu, Wamendagri Bima Arya mengaku menyempatkan hadir di tengah padatnya agenda kenegaraan.

Ia bahkan harus meminta izin khusus kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat menjadi penguji dalam sidang tersebut.

“Sebenarnya hari ini saya ada rapat koordinasi bencana di Sumatera. Saya harus izin kepada Pak Mendagri untuk menjadi penguji di Unhas," kata dia.

"Saya tentu akan memberikan kritik, masa sudah jauh-jauh hanya memberikan saran saja kepada Pak Bupati,” bebernya.

Bima Arya memberikan apresiasi atas keberanian Chaidir mengangkat isu calon tunggal yang selama ini kerap menuai kritik dari kalangan akademisi.

“Calon tunggal itu sering dinyinyiri dan dikritik oleh akademisi. Ada yang memilih diam, ada juga yang menanggapi," kata dia.

"Pak Bupati memilih dengan meneliti selama tiga tahun untuk menjawab secara akademis dan argumentatif. Mungkin begitulah jika politisi berkaki tiga,” katanya di sela promosi doktor.

Meski mengapresiasi, ia juga memberi catatan kritis terhadap disertasi tersebut.

Menurutnya, Chaidir dinilai cukup berani dalam menjawab implikasi fenomena calon tunggal terhadap politik lokal.

“Di halaman 51 disebutkan implikasinya dapat menurunkan partisipasi warga," kata dia.

"Demokrasi menjadi cenderung prosedural, sementara secara substansi ada penurunan,” katanya.

Ia pun mempertanyakan bagaimana seorang Bupati Maros dapat memperkuat kembali demokrasi secara substansial di daerahnya.

Berikut ini data pribadi Chaidir Syam:

Nama: Andi Syafril Chaiidir Syam

Lahir: 2 Februari 1977

Orangtua: Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah

Pendidikan:S1: Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (1995-2001)

S2: Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Muslim Indonesia (2015-2018)

S3: Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Muslim Indonesia (2021-2024)

S3: Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin (2023-2026)(*)

Karier Politik: DPRD Maros (2009–2019), Ketua DPRD Maros (2014–2019), Bupati Maros (2021-sekarang).(*) 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.