Kisah Bu Nini Guru Honorer Hidupi 4 Anak, Nyambi Jual Pastel di Sekolah: Hidup Harus Berjalan
deni setiawan February 11, 2026 10:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, BUKITTINGGI - Kisah pilu diungkap secara terang-terangan oleh Nini Kurmala, guru SMA Negeri 5 Bukittinggi.

Dia tidak menampik jika setiap datang ke sekolah, ada satu plastik kresek yang dibawa dari rumah.

Isinya adalah pastel goreng. Dari makanan itulah, dia berdoa ada pemasukan tambahan selepas pulang mengajar.

Tak ada rasa malu sedikit pun di dalam pikirannya. Jalan hidup saat itulah yang sedang dia jalani demi menghidupi empat anaknya seusai sang suami meninggal.

Baca juga: Dindik Blora Pastikan Tak Ada Lagi Guru Honorer, Semua Diangkat Jadi PPPK

• "Pak, Sudah Stop" Tangis Nurgiyanti Saksikan Perampok Bekap Anak Gunakan Bantal di Banyumas

Pagi itu, bel di SMA Negeri 5 Bukittinggi berdentang seperti biasa.

Di salah satu kelas, Nini Kurmala R berdiri di depan papan tulis, menata kalimat demi kalimat tentang struktur teks argumentasi.

Suaranya tegas, sesekali meninggi ketika murid-murid mulai gaduh.

Namun, di balik ketegasan itu, hidup Nini sedang gamang.

Statusnya sebagai guru honorer tak kunjung jelas, gajinya kerap terlambat, dan dua hari menjelang ulang tahun suaminya, dia harus menerima kabar duka yang mengubah arah hidupnya.

Di sekolah, dia dipanggil "Bu Nini", guru Bahasa Indonesia yang dikenal galak, tetapi peduli.

Di luar gerbang sekolah, dia adalah ibu dari empat anak yang kini menanggung hidup sendirian.

Setiap pagi, Nini Kurmala melangkah masuk gerbang SMA Negeri 5 Bukittinggi dengan dua beban di tangan.

Di tangan kanan, map berisi RPP dan buku catatan pelajaran. Di tangan kiri, sebuah keresek hitam yang tampak biasa saja.

Tak ada yang istimewa dari plastik tipis itu—kecuali isinya: 200 pastel goreng yang menjadi sandaran kecil untuk menyambung hidup.

Keresek itu sering dia sembunyikan di balik meja guru sebelum bel masuk berbunyi.

Saat jam istirahat, barulah dia keluarkan, menawarkan satu per satu kepada rekan guru, pegawai sekolah, atau murid yang mampir.

"Pastel, Bu…," katanya lirih dengan senyum yang tetap dijaga agar tidak berubah menjadi iba.

Dari setiap pastel, Nini hanya mendapat untung Rp200.

Jika habis terjual, dia membawa pulang sekira Rp40.000. Separuhnya langsung habis untuk biaya penitipan anak bungsunya yang baru berusia dua tahun.

Selebihnya, dia simpan rapat-rapat untuk ongkos pulang, membeli beras, atau sekadar membeli telur dan minyak goreng di warung dekat rumah.

Di hadapan murid-muridnya, Nini tetap berdiri sebagai guru: tegas, rapi, dan berwibawa.

Tak banyak yang tahu bahwa sebelum masuk kelas, dia terlebih dahulu memastikan pastel-pastel itu tersusun rapi di dalam keresek agar tak hancur sepanjang hari.

Tak banyak pula yang tahu bahwa di balik kapur tulis yang dia genggam, ada hitung-hitungan kecil tentang bagaimana bertahan sampai akhir bulan.

Di ruang guru, Nini harus bersikap profesional. Dia memilih menyapa dengan canda ringan, membicarakan tugas murid, atau sekadar menanyakan kabar.

Keresek hitam itu menjadi saksi bisu bahwa pengabdian di ruang kelas sering kali harus ditopang oleh kerja-kerja sunyi di luar kelas.

Barulah setelah bel pulang berbunyi, ketika sekolah kembali sepi, beban di pundaknya terasa lengkap: dia bukan hanya guru, tetapi juga ibu, pencari nafkah, sekaligus penopang empat kehidupan kecil di rumah.

Dari titik itulah, perjalanan panjang Nini sebagai seorang guru bermula.

Baca juga: BKD Wonosobo Pilih Patuh Aturan Pusat, Tegaskan Tak Lagi Rekrut Tenaga Honorer

• 6 Terdakwa Kasus Korupsi BPR Bank Pasar Rp5,2 Miliar Dilimpahkan ke PN Tipikor Semarang

Jalan Panjang Nini Jadi Guru 

Nini lahir di Bukittinggi, besar di Kampung Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam. 

Dia menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Padang, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (masuk 2005, lulus 2010).

Tahun yang sama, langkah pertamanya sebagai guru dimulai jauh dari kampung halaman: di SMP Pelita Nusantara, Tanjungpinang.

Di sana, Nini mencicipi rasa manis pengabdian. Salah satu muridnya meraih nilai 100 pada Ujian Nasional Bahasa Indonesia—prestasi pertama sekolah itu dalam lima tahun.

Dia mendapat penghargaan dari Wali Kota, lengkap dengan hadiah uang Rp1 juta.

"Waktu itu rasanya percaya diri sekali, saya pikir jalan jadi guru ini sudah benar," kenangnya.

Namun, hidup bergerak. Dia mengikuti suami ke Batam, lalu kembali ke Bukittinggi.

Di kampung halaman, Nini mengajar di bimbingan belajar Gama dan sempat menjadi honorer di SMP Negeri 1 Bukittinggi.

Dia membina ekstrakurikuler randai dan puisi hingga menembus tingkat provinsi.

Namun, persoalan administratif membuat langkahnya tersendat.

Kesalahan penulisan nama pada data lama membuat Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK)-nya tak kunjung terbit.

Beban rumah tangga, anak yang masih kecil, dan honor bimbel yang lebih pasti membuatnya melepaskan posisi di sekolah negeri.

Dia sempat menjauh dari sekolah formal, sebelum akhirnya pada 2022 kembali mengajar di SMA Negeri 5 Bukittinggi.

Awalnya, sekadar "menolong", menggantikan guru Bahasa Indonesia yang wafat.

Kinerjanya dinilai baik, dia dipanggil kembali dan jam mengajarnya penuh—28 jam per minggu, setara guru PNS reguler.

Namun, satu hal tetap menggantung: status.

Karena data satminkal (satuan administrasi pangkal) Nini masih tercatat di SMP, proses menjadi honorer resmi di SMA terhambat.

Dia sempat nekat menemui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat kala itu, Barlius, saat kunjungan dinas di Payakumbuh.

Dari pertemuan singkat itu, selembar memo keluar—menjadi "tiket" bagi Nini bolak-balik mengurus pemindahan data ke Padang.

"Capek sekali, tetapi saya pikir ini kesempatan mengubah nasib," katanya.

Setelah data berpindah, Nini bisa mengikuti seleksi PPPK tahap dua. Nilainya 526.

Dia juga menuntaskan Pendidikan Profesi Guru. Namun, hasil yang dinanti tak kunjung datang.

Namanya tercantum, nilainya ada, tetapi status kelulusan tak jelas.

Sementara rekan-rekan honorer kategori lain diangkat, dia dan kawan-kawan R4 tertinggal di ruang abu-abu kebijakan.

"Kalau kalah perangkingan, saya terima. Ini tidak ada perangkingan, tidak ada kejelasan," ujarnya.

Alasan yang diterima hanya satu: formasi tidak tersedia.

Padahal, di sekolahnya, formasi guru Bahasa Indonesia diajukan dan belum terisi.

Ikhtiar Mie Goreng

Baca juga: Guru Madin di Batang Sumringah, Mulai Tahun Ini Terima Dana Pensiun, Minimal Rp180 Juta per Orang

• Kecelakaan Tragis Pemotor Tertabrak KA Singasari, Melintas Sembari Telepon, Terseret 30 Meter

Gaji Nini dihitung per jam mengajar: Rp70.000 per jam, sekira Rp1,9 juta per bulan—itu pun sering terlambat. 

Ketika Eka, almarhum suaminya, masih bekerja di perusahaan leasing dengan penghasilan sekira Rp5 juta, hidup terasa tertopang.

Dua tahun terakhir, sang suami terkena PHK. Mereka mencoba berjualan, dari toko kelontong rumahan hingga kaki lima di sekitar Stasiun Bukittinggi.

Awalnya, Nini dan suaminya menjajakan nasi sup di sekitar Stasiun Bukittinggi. Namun waktu itu bertepatan menjelang Hari Raya Iduladha.

Di hari-hari ketika banyak keluarga memasak daging kurban, pembeli nasi sup berkurang drastis.

"Orang-orang sudah kenyang daging," kata Nini.

Mereka lalu memutar otak. Wajan yang sama, gerobak yang sama, tetapi menu diganti.

Lahirlah Mie Goreng Uncle Muthu—makanan yang waktu itu sempat viral.

Di luar dugaan, menu baru itu justru mendapat sambutan.

Perlahan pembeli berdatangan. Dari mulut ke mulut, orang mulai tahu: ada mi goreng yang rasanya berbeda di sudut kota itu.

Bagi Nini dan suaminya, ramainya pembeli bukan sekadar soal omzet. Ada rasa lega karena ikhtiar kecil mereka menemukan jalannya.

Di sela-sela asap wajan dan antrean pelanggan, mereka kembali percaya bahwa hidup, meski terseok, masih bisa ditawar dengan usaha.

Mie Goreng Uncle Muthu kemudian makin ramai.

Pelanggan mulai hafal rasanya. Tetapi, razia Satpol PP memaksa mereka pindah.

Seorang pelanggan menawarkan kios kecil di area homestay dekat RS Madina.

Omzet turun, pelanggan belum tahu tempat baru.

Pada 6 Januari 2026, di saat usaha mulai dikenal lagi, suaminya jatuh sakit. 

Awalnya pusing dan mual. CT scan direncanakan, tetapi koma datang terlebih dahulu.

Jumat dini hari, Eka berpulang—dua hari sebelum ulang tahunnya ke-42.

"Sekarang saya kehilangan tempat sandaran," kata Nini.

Warung tak sanggup dia lanjutkan sendirian. Kini dijalankan teman almarhum.

Bertahan dengan Pastel

Hidup harus berjalan. Nini membawa 200 pastel tiap hari ke sekolah, menjualnya pada guru dan murid.

Untungnya Rp200 per buah—kalau habis, Rp40.000.

Separuhnya dia sisihkan untuk menitipkan anak bungsunya, Pangeran Zavier, yang baru dua tahun.

Anak kedua, Fariz Asrofi, dibantu wali kelasnya dengan uang jajan mingguan.

Anak ketiganya yang sekolah di swasta terancam pindah ke negeri karena biaya.

Anak sulungnya kini duduk di MTs.

"Sekarang saya cuma menghemat uang takziah. Mau pinjam ke orang juga rasanya sudah tidak ada tempat," tuturnya.

Di tengah keterbatasan itu, ancaman pemotongan honor honorer terdengar.

"Dengar itu, lemas badan saya," katanya.

Bulan puasa kian dekat, kebutuhan bertambah.

Di kelas, Nini tetap berdiri tegak. Dia dikenal tegas—bahkan galak. Namun, murid-muridnya tak membenci.

Mereka patuh, belajar, dan sebagian tumbuh percaya diri.

"Untuk mengajar, semua orang mungkin bisa. Mendidik itu yang susah," ucapnya.

Baginya, prestasi akademik penting, tetapi karakter lebih penting.

Dia ingin murid-muridnya mengerti sepenuhnya, bukan setengah-setengah.

Kini, harapannya sederhana: kejelasan.

Dia tak meminta jalan pintas, hanya kepastian agar pengabdiannya tak berhenti sebagai angka jam di daftar hadir. (*)

Sumber Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.